Thursday, September 13, 2007

(Resensi buku)Perjalanan Panjang dan Rumit Sang Wayang Kulit

Judul Buku : Kelir tanpa Batas
Penulis : Umar Kayam
Jumlah Halaman : 453 + X hlm
Penerbit : Gama Media Kerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan UGM dan The Toyota Foundation
Tahun Terbit : 2001 (cetakan pertama)



Seni yang terpelihara dalam suatu masyarakat merupakan refleksi identitas dari masyarakat tersebut.

Bagi masyarakat Jawa, wayang kulit mengandung banyak pemaknaan tentang kehidupan. Hingga kini, wayang kulit masih dipertahankan oleh masyarakat yang dihidupi dan menghidupinya. Wayang kulit masih menarik untuk terus dikaji. Banyak penelitian tentang wayang kulit yang telah dihasilkan seiring dengan dinamika masyarakat Jawa. Begitu pula dengan Umar Kayam, mantan guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) ini telah membukukan hasil penelitiannya mengenai perkembangan wayang kulit pada masa orde baru.
Buku yang berjudul Kelir tanpa Batas tak sepenuhnya hasil penelitian, melainkan ditambah dengan data dan analisis baru. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan pada 1993 sedangkan buku ini diterbitkan pada tahun 2001. Penelitian ini bertujuan memahami sejarah wayang dan pergolakannya dalam bertahan. Dalam wayang kulit terdapat pakem-pakem tertentu, namun seiring berubahnya zaman beberapa pakem mulai mencair. Penelitian ini difokuskan pada kondisi wayang kulit saat orde baru tahun 1993 hingga 1995. Umar Kayam memiliki dua alasan mengapa mengambil setting pada masa ini. Pertama, masyarakat Jawa dinilainya lebih terbuka pada masa orde baru. Kedua, orde baru yang berlangsung lama menimbulkan kecenderungan budaya tertentu. Peta kehidupan wayang kulit, sejarah, pakem, peran dalang dan pemaknaan wayang di tengah masyarakat Jawa menjadi suatu pertanyaan dalam penelitian ini. Wawancara dan pengamatan langsung terhadap kondisi pertunjukan, dalang dan penontonnya menjadi alat utama pengumpul data.
Jalan cerita, tokoh dan setting yang terdapat dalam dua epos besar India yakni Ramayana dan Mahabarata menjadi ciri umum wayang kulit. Keduanya dimainkan dengan boneka tipis dari kulit yang dipahat sesuai karakter dan ciri fisik tokoh masing-masing. Boneka tersebut digerakan oleh dalang dengan bantuan tongkat kecil dalam ukiran wayang kulit diiringi suara sinden dan gamelan. Dalam pertunjukan kesenian yang diindikasikan muncul di abad X SM ini, dalang memiliki peranan sosial religius yang menyeimbangkan manusia dan lingkungannya. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, wayang kulit memberi ruang kategoris dan hierarkhis yang terefleksi dari jalan ceritanya. Setiap manusia memiliki kedudukan dan perannya masing-masing. Peran itu harus dimainkan sesuai silsilah dan tata krama yang wajib dipatuhi. Ini kemudian menimbulkan filsafat pertunjukan wayang kulit yang diciptakan orde baru sebagai tontonan, tuntutan dan tatanan. Hal tersebut kemudian menjadi pemaknaan umum masyarakat Jawa. Pemaknaan ini turut dibayangi oleh beberapa otoritas, antara lain otoritas kraton, lembaga pendidikan formal seni pedalangan, tradisi lokal dan penguasa politik orde baru beserta pejabat dan agen/agennya (hlm 69).
Dalam perjalanannya, wayang kulit mengalami pemudaran pakem dan betuk estetiknya. Pada dasarnya, wayang kulit di Jawa terbagi dalam tiga gaya, yakni Surakarta, Yogyakarta dan Jawa Timur. Ketiganya memiliki perbedaan masing-masing. Namun, mulai 1980-an batas ketiganya luntur. Ini dipengaruhi oleh mencairnya batas antara dunia panggung dan penonton sebagai penikmat wayang kulit di luar panggung. Pengaruh yang dikemukakan Umar Kayam ini didukung banyak data. Salah satunya, Ki Sudarman Gondo Darsono, salah satu dalang senior, mengundang Ki Warsito untuk mendalang dalam acara supitan anaknya. Acara tersebut dihadiri oleh banyak dalang dari pelbagai generasi. Ketika Ki Warsito mendalang, dalam ceritanya ia banyak menyampaikan ejekan terhadap pakem wayang yang selama ini dipakai. Ini kemudian memancing perdebatan diantara dalang yang menontonnnya dan salah satu penonton melemparkan sandal ke panggung. Tak hanya contoh tersebut, di salah satu pertunjukan wayang di Sukoharjo, dalang Ki Warseno Slenk malah memberi kesempatan pada penontonnya untuk menyanyi ke depan panggung sesuai tema wayang. Kedua contoh ini tentu menunjukan betapa batas panggung dan penonton mulai mencair.
Pakem tampilan wayang juga mengalami perubahan. Perubahan ini ditandai dengan munculnya unsur pendukung baru selain sinden, gamelan, bingkai kelir, dan boneka wayang. Bingkai kelir yang seharusnya sepanjang enam hingga delapan meter menjadi lebih panjang. Bingkai kelir menjadi berukuran seperti bingkai film di gedung bioskop, yakni sepanjang 12 meter. Sinden yang seharusnya duduk, justru maju ke panggung dan berdiri untuk menyanyi, ini terjadi pada saat Ki Djoko Edan mendalang. Nuansa wayang kulit bertambah lain ketika dimasukan unsur jaipongan Sunda ke dalamnya. Peralatan gamelan pun sudah ditambah dengan peralatan yang lebih modern seperti keyboard atau drum. Perubahan pakem ini pun memacu perselisihan antar dalang.
Menurut Groenendael (1987), tugas wayang kulit dan dalangnya pada hakikatnya memelihara, mempertahankan sebuah tatanan. Pemaknaan mengenai perubahan pakem yang telah terjadi pada wayang kulit ikut memaknai pula perubahan tatanan pada masyarakat Jawa. Ini turut memberi dukungan bagi filosofi pembangunan orde baru saat itu, yakni menggunakan teknologi, menyerap dan sekaligus menyeleksi nilai eksternal. Ini menjadi legitimasi perubahan pakem wayang kulit. Seiring dengan perubahan tersebut, wayang kulit mulai digunakan pejabat orde baru baik negeri atau swasta untuk mengisi beragam acara. Predikat wayang kulit sebagai kesenian daerah yang kuno berubah menjadi kesenian kota. Selama wayang kulit tetap berefleksi dan menjaga agar penonton tak bosan walau menontonnya semalam suntuk, ia akan tetap bertahan.
Kelir tanpa Batas melambangkan perumpamaan bahwa kajian mengenai wayang kulit tak akan pernah selesai. Wayang kulit akan terus ada dan bertahan dengan perubahannya. Tak hanya perubahan wayang kulit dari waktu ke waktu yang coba diselami oleh Umar Kayam, ia juga menampilkan profil dalang sesuai identitas pembagian daerah yakni Surakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Buku ini dilengkapi gambar-gambar mengenai peralatan wayang, dalang dan suasana pertunjukan wayang agar memberi gambaran kepada pembaca yang belum pernah menyaksikan wayang kulit. Penelitian ini turut memberi hawa baru dalam wacana wayang kulit karena dikembangkan dari penelitian sebelumnya. Walaupun terdapat istilah yang kurang dijelaskan secara rinci oleh penulis, penjabaran yang runut tak mengurangi kualitas isi buku. Bagi anda yang tertarik menyelaminya lebih dalam, belum terlambat untuk ikut melestarikan kesenian tradisional ini.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment