Wednesday, April 01, 2009
Kewajiban Memerdekakan Kaum Terdiskriminasi Siapa Punya? (Catatan dari Bilik si Enam SKS)
Kupikir tak perlu kujelaskan kaum terdiskriminasi macam apa yang kuteliti. Yang jelas, suatu kaum dikatakan terdiskriminasi ketika ia teralienasi dari diri, kuasa yang besar dan lingkungannya karena ketimpangan sumber daya. Wujudnya bisa macam-macam; suku dan ras minoritas, kaum miskin, perempuan, buruh, termasuk difabel (different ability people), istilah ini masih menjadi perdebatan hingga sekarang, ada yang menyebutnya sebuah penghalusan bagi penyandang cacat, ada yang bilang istilah ini merupakan dekonstruksi dari kecacatan yang sebenarnya permasalahan sosial bukan masalah kesehatan. Namun, toh istilah ini sudah diserap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi paling gres. Istilah cacat muncul karena yang cacat dianggap tak mampu, padahal berdasarkan beberapa penelitian Girolam Cardano, ketika indra satu tak berfungsi, indra lain akan berfungsi lebih optimal.
Aku cukup sadar, ketika aku bersentuhan dengan kaum terdiskriminasi akan terjadi reaksi-reaksi kritis terhadapku dari mereka. Dan yang kipikirkan pun terjadi.
“Alaaaaa.. kamu meneliti ini ya cuma buat kepentingan skripsimu kan? Toh setelah kamu selesai penelitian kami tak akan berubah menjadi lebih baik!” Ujar seorang aktifis sebuah LSM yang konsern terhadap aksesibilitas kaum terdiskrimnasi tatkala kuwawancara.
“Akademisi selalu memandang kami sebagai fenomena yang unik, layak diteliti. Setelah itu? Kami hanya dieksploitasi untuk pencarian data-data tanpa sebuah konsekuensi yang bermanfaat bagi kebangkitan kami. Kami sudah capek diwawancara terus! Akademisi tu cuma bisa sok-sokan dengan teori-teori yang mereka kuasai, di tataran praktis? Nol besar. Buat apa kalian kuliah demokrasi dan HAM kalau hanya jadi isu pencari nilai. Kalian tu mirip politisi yang dalam kampanyenya selalu membawa-bawa kaum terdiskriminasi tanpa mewujudkan janjinya ketika ia menjabat,” Lanjut mas-mas aktifis yang sepertinya miskin perhatian ini dengan panjang lebar.
Well, fenomena ini patut disyukuri daripada jika mereka tak punya kesadaran kristis sama sekali. Akupun menyahut ocehan kritis dari mas-mas yang juga ngaku sebagai filsuf muda ini.
“Jadi apa yang diharapkan dari akademisi? Bukankah perubahan tak akan terjadi tanpa pemahaman sensitifitas terhadap teman-teman? Narasumber yang kuwawancara tak hanya dari pihak terdiskriminasi, tapi juga pemerintah, akademisi dan semua stakeholder yang terlibat dalam manifesto kebangkitan teman-teman. Dari situ akan ada obrolan-obrolan dalam sebuah ruang public yang dapat mengartikulasi kepentingan masing-masing stakeholder.”
Setelah aku sedikit bernafas aku melanjutkan lagi “Ya! fenomena meneliti tanpa mengubah memang ada, namun bukankah dari kesombongan yang hina itu kami bisa belajar dan mengubah struktur?Tapi kurasa bukan saatnya lagi menggunakan istilah kami, saya, anda dan mereka, sudah saatnya menggunakan istilah kekitaan untuk mewujudkan tatanan yang lebih manusiawi. Perubahan tak akan terjadi dalam waktu singkat, apalagi dalam struktur birokrasi yang terkonstruksi untuk selalu mensegregasikan tiap manusia seperti di Indonesia ini. Bukankah perubahan ke kondisi yang lebih humanis seperti terjadi di Eropa yang kini lebih multikultur itu melalui perjalanan yang panjang? Bukankah perubahan akan lebih massif ketika kaum terdiskriminasi juga yang memiliki inisiatif bergrak selain kebersamaan dengan stakeholder lain? Semua tak lepas dari pihak-pihak yang paling merasakan diskriminasi itu. Ingatkah jika Tuhan tak kan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu yang mengubah nasibnya? Mohon bantuannya untuk memberikan masukan apa selanjutnya yang harus dilakukan untuk rencana program keberlanjutan setelah penelitian agar aksesibilitas lebih terbuka untuk kebangkitan teman-teman. Saya sering mendiskusikan tema ini dengan teman-teman lain di sospol, mereka pun bersedia ikut membantu,”
Balik lagi ke perdebatan kebangkitan kaum terdiskriminasi. Pertanyaan ini amsih terlintas dibenaku; kewajiban terbesar untuk mewujudkan kesamaan akses bagi semua orang yang berbeda-beda itu punya siapa ya? Pemerintah dan masyarakat mayoritas selalu dicurigai, kalau akademisi dengan kebiasaannya meneliti untuk kemudian mewujudkan program keberlanjutan dibilang eksploitasi, tapi kalau tak memberi perhatian dikira diskriminasi, enaknya gimana?
Monday, March 16, 2009
Facebook Ergo Sum
Masalah kerjaan yang belum selesai –sorry,karena kesalahan satu orang-- lagi-lagi jadi pemersatu diantara kami –tanpa kehadirannya yang bersalah--. DASAR WORKHOLIC! Namun, diantara pembicaraan-pembicaraan seru soal kerjaan itu ada pembicaraan yang paling ga penting; facebook.
“Ya ampuuun… kok kamu ga ada facebook sih?”
“Nek butuh komunikasi
“
“!?!?!”
Percakapan diatas termahtub antara seseorang dengan mahasiswa komunikasi yang ngakunya pengikut Habermas tapi menguasai informasi dan sekarang kena batunya karena ga tau facebook.
“Emang wall to wall kih opo to tiw? Asem kiye, dah banyak orang nanya kok aku ga eksis di FB setelah keranjingan ngopeni blog dan komik” tadi pagi mahasiswa yang biasa dipanggil Abdi itu menanyakannya padaku.
“Ya ampun.. ra ngerti? Kalah karo Putra koe, lha wong Putra we punya account” sahut Nura
“Kae aku ra sengojo, asline gawe buat Kembang Merak,” Kata Putra yang telah mengawali reuni hari itu dengan memerawani segel soes kering yang ga tau punya siapa dan untuk siapa gerangan. Pokoknya soes itu ludes tanpa ijin yang punya. Akhirnya satu angkatanku menjadi tersangka penggelapan makanan tak berdosa itu.
“wes, pokoke ajang komen-komen dari temanmu dimana eksistensimu akan digadaikan disana, hahaha, wes ndaftar FB wae nek sempat ngopeni hahaha..” jawabku
“Aseeem, kok koe wes duwe? Dasar Facebook ergo sum! Aku tak kon ndaftarke Jehan trus tak kon nggoleke konco ah..”
Wah.. ergo sum.. ergo sum… Jadi ingat Rene Descartes, jaman semono dia mendiktumkan Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Lah.. kalo jaman sekarang terutama di kalangan anak muda yang doyan internet berlaku; Facebook Ergo Sum, ada facebook maka aku ada. Dasyat! Pengaruh facebook yang ternyata meraup saham sekitar 15 milyar dolar AS bahkan seorang suami membunuh istrinya karena tahu status istri di facebook masih di-single-kan. Setiap hari ratusan juta orang mengakses facebook. Tak terkecuali, pun dengan calon psikolog UGM godhokan Bu Nela di UPTB yang menggarap skripsi soal jejaring facebook.
Tatkala facebook jadi ajang representasi identitas yang tidak dapat dihadirkan secara nyata. Gambar foto diri, teks-teks identitas yang dituangkan dalam jejaring sosial virtual acapkali bukan diri orang tersebut karena dunia virtual memungkinkan untuk itu, sangat bebas. Bahkan, negara sekalipun tak dapat mengontrol jejaring semacam itu. Well, isoke lha wong yang namanya dunia virtual pastilah menjadi penjelajahan untuk menemukan peran diri, identitas dan eksistensi ketika akses terhadap beberapa jenis modal di dunia nyata terbatasi. Hahaha pokoke Facebook ergo sum!
(Hak Cipta judul ©mrizalabdi)
Saturday, February 07, 2009
Seorang Fibonacci Muda Bilang Saya akan Mati pada Usia 34
Pada abad 12, Fibonacci menemukan susunan angka yang konon selalu mengingatkan makhluk hidup akan keberadaan Tuhan. Ia juga yang telah memperkenalkan sistem angka pada tradisi Hindhu. Begitu dasyatnya kekuatan angka ini sampai ia dijuluki angka ajaib hingga angka emas. Lalu berapa dan bagaimana susunan angka Fibonacci itu? Angka Fibonacci adalah urutan angka yang diperoleh dari penjumlahan dua angka didepannya. Contohnya: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, dst...
Jika anda masih ingat istilah phi (1, 618) anda pasti akan mengingat pula keajaiban temuan sang Fibonacci ini. Phi adalah hasil bagi angka Fibonacci dengan angka sebelumnya yang mendekati 1, 618 atau tepat 1, 618. Misalnya; 3:2, 21:13, 233:144, dll. Bilangan yang sering disebut rasio emas ini besarnya akan tetap pada setiap deret 13. Jadi misalnya, besarnya hasil pembagian dari urutan pertama akan sama pada urutan ke 14. Pada urutan ke 13 ia akan mencapai besar 1, 618. Sebelum itu, memang berselisih, namun dapat diabaikan. Konon dan telah banyak terbukti oleh banyak ilmuwan, bahkan mungkin bisa oleh anda sendiri, rasio emas ini keramat karena dikandung oleh setiap makhluk hidup ciptaan Tuhan. Pola rasio emas inilah yang sering saya dan kawan saya gunakan dulu untuk bermain puzzle Fibbonacci.
Beberapa hari yang lalu saya bertemu seorang kawan lama saat perjalanan ke Jogja dari Solo. Kebetulan kami bertemu karena kami satu gerbong kereta Prambanan Ekspress (Prameks). Kereta Prameks memang sering mempertemukan saya dengan banyak kawan yang lama tak bertemu. Perjumpaan kami tak banyak membuahkan pembicaraan tentang kenangan masa sekolah, meskipun saya sepakat dengan lirik yang pernah didengungkan Chrisye;... masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah.. hehehe. Pembicaraan yang membuncah diantara kami justru tentang bilangan Fibbonacci. Mahasiswa jurusan matematika yang juga keranjingan dengan filsafat sejak SMA ini pun coba memutar-putarkan zona otak kiri saya dengan bilangan Fibonacci. Bagi kawan saya ini, matematika adalah keindahan dan keseimbangan pun dengan bilangan Fibonacci.
Awalnya ia membuat saya untuk berusaha berjarak dengan ingatan jangka panjang. Saya harus mengingat-ingat lagi tentang bilangan dan permainan Fibonacci yang sering kami mainkan beberapa tahun lalu. Pantas saja saya tak banyak mengingatnya karena disiplin yang saya pelajari selama lebih dari tiga tahun ini tidak memungkinkan saya untuk sering bersentuhan dengan barisan hitung dan rumus bilangan angka. Akhirnya, sedikit demi sedikit ia memberi saya kode-kode, dan saya sukses mengingatnya kembali. Ingatan saya kembali pada banyak rasio emas yang pernah kami temukan dulu, baik lewat eksperimen kecil maupun keterangan mesin pencari di internet yang kami buktikan sendiri. Bukti-bukti keberadaan rasio emas tersebut antara lain:
- Perbandingan anggota tubuh kita selalu sesuai dengan rasio emas ini. Coba anda buktikan sendiri; Jarak antara pergelangan tangan dan siku : jarak antara ujung jari dan siku, panjang kepala :jarak antara garis bahu dan unjung atas kepala, jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala : jarak antara pusar dan ujung atas kepala, jari-jemari manusia memiliki tiga ruas. Perbandingan ukuran panjang dari dua ruas pertama terhadap ukuran panjang keseluruhan jari tersebut menghasilkan rasio emas (kecuali ibu jari). Juga dapat diihat bahwa perbandingan ukuran panjang jari tengah terhadap jari kelingking merupakan rasio emas pula. Lebar wajah: panjang wajah, panjang hidung:jarak antara bibir dan titik di mana kedua alis mata bertemu , dst... Dasyat kan? Konon Leonardo Da Vinci menggunakan rasio emas ini untuk mengukur besar Monalisa yang akan ia lukis.
- Spiral yang didasarkan pada rasio emas memiliki rancangan paling tak tertandingi yang dapat anda temukan di alam. Sejumlah contoh pertama yang dapat kita berikan adalah susunan spiral pada bunga matahari dan buah cemara. Panjang garis spiral cangkang laut paling depan : berikutnya juga membetuk rasio emas ini. Ada lagi contoh yang merupakan penciptaan tanpa cela oleh-Nya dan bagaimana Dia menciptakan segala sesuatu dengan ukuran: proses pertumbuhan banyak makhluk hidup berlangsung pula dalam bentuk spiral logaritmik. Bentuk-bentuk lengkung spiral ini senantiasa sama dan bentuk dasarnya tidak pernah berubah berapapun ukurannya. Anda bisa cek ukurannya pada daun, tangkai, serangga
- DNA tersusun atas dua rantai heliks tegaklurus yang saling berjalinan. Panjang lengkungan pada setiap rantai heliks ini adalah 34 angstroms dan lebarnya 21 angstroms. (1 angstrom adalah seperseratus juta sentimeter.) 21 dan 34 adalah dua angka Fibonacci berurutan. Kali ini yang mengungkapkan adalah kawan saya yang mahasiswa matematika itu.
Ia masih menantang saya jika saya tidak percaya dan menganggapnya sebagai sebuah kebetulan untuk mencari fakta-fakta di balik bilangan Fibonacci di mesin pencari. Hah? Jangan-jangan pola-pola interaksi sosial yang bisa diukur oleh positivis sama dengan logika Fibonacci? Alaaaah... Saya mulai berpikir perdebatan antara logika Fakta Sosial yang berkonsekuensi metodologi kuantitatif dan logika definisi sosial yang lebih kualitatif perlu sebuah peninjauan ulang. Hahaha... Anggap saja saya sedang meracau.
Di akhir pembicaraan kami, iseng-iseng saya bertanya-tanya pada kawan saya itu;
“Lalu apakah angka Fibonacci juga dapat menjelaskan pola usia hidup?”
”Coba aja; sekarang berapa umurmu?”
”21”
“Oke... 21 ya... berarti 21 dikalikan 1, 618, jawabannya: 33, 9. Wah dibulatke wae... berarti kau akan meninggal pada usia 34, ahaha”
“Lho, sing iki logikane ra mutu. Misalnya kita bertemu saat usiaku 25 bisa aja akan usia kapan aku mati berubah, atau berarti semua anak yang berusia 21 saat ini akan mati pada usia 34? njuk pye?”
“Yo emang ga ada yang tau kapan orang itu mati. Dasar Buduuuug! Hanya Tuhan yang tau. Wah... Kesimpulanmu yang terlalu dini tentang Fibonacci berlebihan, hahahah”
“?!?!?!”
Jadi, apakah bilangan Fibonacci benar-benar pola Tuhan untuk menciptakan? Atau hanya kebetulan saja? Yang jelas, jika anda mencari di mesin pencari anda akan mendapatkan fakta-fakta lain yang lebih mencengangkan. Ya... Lagi-lagi... manusia... tentu pengetahuannya masih sangat sangat kerdil jika dibandingkan Tuhan. Sekali lagi jika anda masih percaya Tuhan ;p.
Thursday, January 22, 2009
Skandal Lembaga Survey Pemilu Seratus Juta
Kebanyakan lembaga survey ini memberi cap sedemikian gemerlap pada institusinya: andal, data reliabel dan valid, serta mampu menjaring ribuan responden dengan waktu cepat. Tag line semacam itu memang cukup mantap tuk sekadar jual kecap, sayangnya cukup gagap ditataran praktek.
Lusa, seorang kawan bertandang ke flat saya dan mengajukan penawaran untuk menjadi surveyor atau enumerator di lembaga survey milik seorang dosen.
“Ayo Tiw, bergabunglah bersama survey ini. Aku merekomendasikanmu pada supervisinya. Lumayan lho seminggu bayarannya bisa lebih dari setengah juta. Pye?”
“Memang sih aku biasa melakukan survey, tapi baru kali ini aku ditawari jadi ‘buruh’ di bidang politik praktis. Jawabanku: Emoh.”
“Lho kok?”
“Alesane; pertama, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berpeluh keringat mencari penghasilan lagi. Ada tuntutan lain yang harus diselesaikan dengan segera. Kedua, aku masih belum selesai dengan persoalan pengetahuan dan kepentingan apalagi sangkutannya politik praktis. Ketiga, jangan kira responden sekarang bisa gampang diambil datanya. Mereka akan menanyakan padamu survey ini tentang apa? Tujuan dan kepentingannya apa? yang mendanai siapa? Dan aku sedang malas menghadapi mereka. Eh, sik.. sik…; emange lembaga ini didanai berapa dan oleh siapa?”
“Kira-kira seratus jutaan, yang ndanai ya partai ********************* dan media ****************”
Wow dasyat! Saya memang tak meragukan kapabilitas dan kredibilitas para perancang survey tersebut. Hanya kemudian lagi-lagi berpikir; ternyata di ruang public dalam hal ini media cetak dan elektronik terdapat sebuah kesatuan: kepentingan, kuasa dan pengetahuan. Saya rasa ini sah-sah saja meski saya sendiri belum selesai dengan persoalan ini. Akhirnya, dengan agak sok-sok an saya menolak tawaran teman saya itu ;)
Seminggu kemudian kawan saya datang lagi ke flat saya dengan wajah murung namun terlihat lega.
“Pye surveynya sudah selesai?”
“Sudah. Tapi, selesai dengan sangat licik dan busuk”
“Lho?”
”Jadi, aku ditugaskan menjaring responden di Sleman dan Kota Yogya. Aku yang sendirian ini ditugaskan untuk menjaring seratus responden dalam waktu satu minggu. Seperti yang kita ketahui bersama, birokrasi di kelurakan, kecamatan itu sangat berbelit dan tak butuh waktu sehari dua hari. Sedangkan di Kota dan Sleman itu terdiri puluhan kecamatan. Kebanyakan responden yang juga beberapa birokrat ini tak mau mengisi kuesioner tanpa izin dari Kecamatan. Dan satu kuesioner itu ada puluhan pertanyaan. Gila ga sih? Apakah cukup realistis jika aku hanya diberi waktu satu minggu?”
“Uh huh? Tapi akhirnya selesai kan?”
“Seharusnya memang demikian. Tapi tiba-tiba di hari kelima tim pendana yang dari Jakarta datang ke Yogya dan meminta semua data yang belum selesai itu dan olahannya. Sinting tu mereka semua! They did it for their fucking media! Perjanjiannya kan tujuh hari dan menurutku itu tidak cukup realistis, mereka malah datang pada hari kelima. Deadline diajukan. SINTING!”
“Trus pada selesai ga?”
“Ya belum lah, temenku banyak yang belum, aku masih kurang sedikit.”
“So?”
”Ya, supervisiku yang mengisi kuesioner yang belum terisi itu seenaknya. “
“Lho kok begitu? Datanya ga valid dong?”
“Jelas. Trus supervisiku itu bilang ya sudah, lha wong mereka ga fair, saya juga ga fair dong. Kalo mereka cukup realistis ya saya realistis. Data dimanipulasi agar sekiranya hasilnya sesuai harapan.”
Ternyata benar perkiraan saya selama ini. Fenomena ini menunjukan ternyata kepentingan bahkan ada diatas pengetahuan. Pengetahuan bisa seenaknya dimanipulasi demi sebuah kepentingan. Tag line (sok) cakap bak jual kecap ternyata di tataran praktek cukup gagap dan bermuara pada gagalnya penelitian. Jadi, perlukah kita percaya dengan hasil penelitian lembaga survey politik?
Friday, January 16, 2009
My Blue, My thankfulness
Last month, I dreaming till I am fly into the high n wonderful place . But, in the same time I am down to the depths of misery. There are so many things unpredictable. Sometimes I feel so strong n can finished my big problems by my self, but in the other time, like now, there is a little problem with my heart that I can’t fix it. I never suppose that it will so hurt. Feels just like…yeaa… I am nothing.., whereas I wasn’t born yesterday. It’s no big irony, I am thankful for Zee, that always come to my flat when am down n bring a cup of rose tea for me, even I didn’t tell her that I am so ‘sick’. “Tiway.. Suddenly, I want to go to your flat, don’t know why, my feelings tell me that ure not okay..” . N for my other sists n bro in the 2nd home; Ntan, Ken n Di who always ask me; “Come on.. I am sure that u can fixed it up, n everything will be okay, I’ll be there 2 support u,” N I always know that tomorrow everything will gonna be ok. Maybe that’s the reason why I am always give my silly laugh.
Back again to the GOD as comedian, sometimes He is make my dream come true, but in other times He throw me 2 the deep ravine. I don’t know what His plans for me tomorrow. It’s must be surprises. If I remember everything what did happen in my life, yeaa, I can get laugh. Sometimes, I think; how did this silly thing can happen? How sentimental fool can be? What a stupid Tiwi!
If everything has been written down by GOD, so why worry.. When He make me down, @ the same time He send me so many angel a.k.a Alifa, Zee, Ntan, Ken, n Di… n the other angel; Mr n Mrs eL, as my lecturer that always support me to pursue my dreams…
“If life is ever changing, so why worry, we say..
It’s still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can’t see
A neighbor, a lover, a joker
Or friends you can count on forever?
How happy, how tragic, how sorry?
The sun’s still up and life remains a mystery
So, would it be nice to sit back in a silence?
Despite all the wisdom and the fantasies..”
From Dewi ‘Dee’ Lestari with Grow a Day Older in her albums “Recto Verso”
Monday, December 15, 2008
Keledai pun Tak Mau Terjebak Lagi di Lubang yang Sama
“Nafas Intelektual Mahasiswa” Jargon itu begitu lekat dengan Badan Penerbitas Pers Mahasiswa yang aku geluti selama hampir tiga tahun ini. Ujaran seseorang tentang definisi intelektual berikut bisa jadi benar; sosok orang yang dapat mempertahankan hidupnya dan orang lain dalam situasi yang genting sekalipun. Sudahlah, tak ada lagi kata-kata romantis tentang intelektual yang perlu dilebihkan. Itu lebih baik daripada semua bermuara pada dusta. Dusta hanya akan membimbing pada pertahanan yang buruk. Dan awak-awak Balairung kini nyaris tak dapat mempertahankan hidup lembaga karena dusta mewarnai kondisi internal.
Adalah dusta jika seseorang hanya mampu menghasilkan pemikiran dan pernyataan dasyat tanpa adanya bukti nyata. Kakean diskusi, miskin data, bar kuwi molor sisan. Bicara dusta, mari bicara Balairung sebagai sebuah badan penerbitan pers mahasiswa. Tentu saja juga tentang aku, kau dan kita semua. Mengerjakan produk bukanlah hal yang main-main: dusta!, Mengerjakan produk selesai tepat waktu: dusta! Persma sebagai ajang aktualisasi yang dipilih secara sadar dan bertanggung jawab: dusta! Toh, keluh kesah masih terdengar kala awak mengerjakan produk. Tapi, di luar itu saya apresiasi bagi teman-teman di angkatan pertama dan kedua yang menikmati rumah ini.
Padahal, layaknya gerakan pers, persma hanya dapat hidup dengan produk penerbitan. Banyak faktor yang mempengaruhi eksisnya lembaga pers. Eksistensi lembaga pers salah satunya berkorelasi positif dengan kuantitas dan kualitas produk. Jika dalam penerbitan produknya saja diwarnai dusta, saya yakin eksistensi persma terancam. Celakanya, jika persma tak bergegas refleksi diri, ia akan segera musnah. Persis seperti ramalan Karl Marx terhadap kapitalisme. Juga ramalan tetangga kepada tetingginya.
Beruntung, Balairung masih dapat menerbitkan dua produknya-jurnal dan balkon- meski tertatih. Dua produk tersebut juga menjadi jalan pijakan Balairung sebagai pers mahasiswa: berwacana dan berkomunitas. Pijakan itu yang akhirnya melahirkan sinergi kerja empat divisi. Social trust dalam sinergi kerja membutuhkan satu prasyarat yakni adanya norma yang disepakati.
Sayangnya, social trust yang digemborkan sejak awal semakin luntur karena dalam pengerjaan produk diwarnai keegoisan masing-masing awak dan divisi. Akhirnya aku sepakat dengan Abdi yang memberi jeda antara perasaan egois dan pembagian kerja. Aku tahu sejak awal tugas kita masing-masing telah dibagi, tapi bukankah dalam menjalankannya kita harus tetap berkoordinasi? Artinya ada kerjasama disana, pembagian kerja tentu tak dimuarakan pada keegoisan. Sangat egois ketika tak saling menghargai kesepakatan, tak saling mengingatkan dan tentu saja mementingkan kepentingan sendiri.
Ceritanya berawal ketika Dewan Pemimpi(n) dari Redaksi, Produksi dan Artistik, Riset dan perusahaan berkumpul untuk membicarakan matriks jurnal. Akhirnya disepakati jurnal akan terbit oktober dengan asumsi akhir juni selesai edit bahasa, sehingga biSA berangkat KKN dengan tenang. Namun salah satu divisi molor, sekiranya kurang satu tulisan yang masuk dari divisi tersebut, sedangkan divisi yang lain telah berusahan dan berhadil memenuhi kesepakatan awal. Maka, mutung2 an tak terhindarkan lagi. Terjadilah proses yang tidak dewasa itu. Padahal riset diburu oleh korporasi yang mendanai penelitiannya, akibatnya hasil riset yang sudah jadi itu belum bisa terbit juga, Selak basi validitas datane, dab! dan korporasi tersebut membatalkan kontraknya apalagi setelah riset mengajukan MoU yang baru. Perusahaan juga diburu pengiklan dan jurnal telat, apa yang terjadi, entahlah. Forum asertif yang direncanakan tak pernah terlaksana karena ketidakhadiran beberapa DP. Konflik ini hanya sebagian kecil dari banyak konflik yang terjadi.
Baiklah… ketika keegoisan sudah menjadi budaya disini, aku mencoba untuk tak memakai perasaan. Inilah yang membuat keraguanku hilang kala aku harus sendirian di angkatan tiga divisi riset. Aku harus egois, ikut ritme, tak peduli pada awak-awak yang tak lagi membersamai, toh aku masih punya bala kurawa yang siap berlari meski terengah.
Namun, obrolan dengan ifa yang masih bingung soal pembagian kerja dan identitas kebalairungan mengejutkanku.
“Sebenarnya balairung akan mendidik awaknya jadi yang semacam apa sih? Keren ya.. balairung masih bisa jalan tanpa alur koordinasi yang jelas dari struktur, maksudku pada prakteknya, konsep sebenarnya sudah jelas di AD ART. Permasalahannya adalah kita tak dibiasakan dengan forum asertif. Dimana semua orang bisa dan berani menyatakan apa yang dirasakannya dan kemudian ada diskusi dan hal jawab. Semuanya terlalu terbawa perasaan dan akhirnya berujung mutungan, kerja jadi kacau” Tutur Ifa.
“Aduh, kayaknya mengungkap apa yang dirasakan di forum besar susah juga, mungkin secara pribadi. Kalau orangnya cuek sih ga papa tapi kalau sensitif jadinya ya... aku ragu..” Aku menanggapi.
“Iya kayak gitu, kemarin aja aku melihat proses yang tidak sehat itu. Ada editor yang dikritik editor lain, tapi editor yang dikritik malah jadi mutung dan ga mau ngedit, yo wis editen kono, gitu...” Sahut Nura
“Nah, aku jadi inget raker kedua, kok bisa muncul komunitas tanpa otak? Mbok ya jangan ada dikotomi antara anak2 yang ‘serius’ dan tidak. Kalau bisa anak-anak yang lain mengejar teman-temannya dan anak-anak yang dianggap serius itu harusnya lebih terbuka,” Putra menimpali.
Sebelum pembicaraan ini aku SMS an dengan Ifa
“Kok jadi kayak gini to; talk with putra hopeless, talk with oky he feels guilty n tak ada hal lain selain memberinya maaf dan kepercayaan lagi (bagiku ini menyebalkan), talk with abdi feels like hells n make me want to suicide, come on... ini persma terbesar di Indonesia. Koordinasi yang seperti ini? Kalian terlibat konflik, It’s shock me out!”
Sender: Noor Alifa
“Wis to fa ga usah pake perasaan, cuek aja lah. Kalau dipikir pakai perasaan, lebih baik nafikanlah sama sekali,” Jawabku
“Itulah menurutku yang menggerakan balairung, utamanya perasaan bersalah”
Sender: Noor Alifa
Baiklah… baiklah… Maafkan saya… Lantas, apa kondisi demikian yang akan terus-terusan mewarnai internal persma terbesar di dunia berbahasa Indonesia ini? Tanyakan pada rumput yang bergoyang hahaha...
Oh ya, teringat pada apa yang pernah disampaikan dosen pembimbingku, bahwa posisi kerangka teori dalam sebuah penelitian bukan dipaksakan sama dengan data lapangan. Melainkan, hanya tuntunan untuk dikaji lewat penelitian selanjutnya tidak disepakati atau dikritisi. Ini karena konteks ruang, waktu, budaya dan subjek penelitian tatkala teori itu lahir samasekali berbeda dengan saat ini. Dan akhir-akhir ini aku tidak sepakat dengan apa yang diujarkan Hegel bahwa manusia tak pernah belajar apapun sepanjang sejarahnya. Aku tidak menyepakatinya karena dari obrolan kumpul divisi, menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang siap dilaksanakan dan kini terlaksana meski tak sempurna. Ketidaksempurnaan akan terus menjadi cambuk perubahan. Masih ada keyakinan bahwa manusia merupakan makhluk yang dinamis. Keledai pun tak mau terjebak lagi di lubang yang sama. Semoga konflik yang terjadi dapat menunjukan sisi fungsionalnya.
Brontokusuman, 261108 pkl 10. 33. Ada mbak Norah Jones yang masih nyanyi...
A little girl with nothing wrong, is all alone
Eyes wide open, always hoping for the sun
And she'll sing her song to anyone that comes along
Crooked little smile on her face tells a tale of grace
Thats all her own
Sunday, May 27, 2007
Kegilaan di Indonesia
Aku bisa gila hidup di Indonesia… karena memang orang-orangnya sudah gila
Kegilaan di Indonesia adalah dimana orang-orang tak bisa menghargai waktu, dimana orang yang molor dianggap normal dan orang yang on time dianggap gak normal… bahkan orang Indonesia bangga dengan jargon “Kalao orang lain molor, buat apa kita sendiri ontime?”
Kegilaan di Indonesia adalah dimana jalan memutar dilanggar di perempatan dengan menerabasnya….
Kegilaan di Indonesia adalah dimana traffic light dilanggar seenaknya ketika gak ada polisi…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika membuat SIM tak boleh pakai calo… tapi ternyata banyak calo di kantor polisi dibiarkan saja bahkan sudah ada kong kalikong dengan polisinya…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika orang bersalah dengan nyalip dari kiri dan membuat kendaraan lain mengalami kecelakaan lalu malah ditinggal begitu saja…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika polisi reserse anti-narkoba terjerat kasus narkoba dengan barang sitaannya..
Kegilaan di Indonesia adalah ketika pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia tapi justru menindas yang lain…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika ada permainan politik dalam pemilihan rektor UGM yang notabene lembaga pendidikan… (sumber: Prof. DR TNE, P.hd : salah satu professor di jurusanku yang jadi anggota MWA, banyak mroyek, mantan konsultan world Bank, dan tidak pernah senang dengan penghargaan Indonesia terhadap professor: hanya digaji 2, 7 jt)
Kegilaan di Indonesia adalah ketika beberapa departemen negara mengalirkan dana non-budgeter pada semua calon presiden tanpa proposal dan laporan yang jelas… dan sekarang hal itu menjadi ajang permainan ping-pong…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika korupsi di kalangan birokrat rapih dan membentuk sebuah lingkaran setan…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika ada salah satu forum keagamaan yang notabene mengajarkan kedamaian tapi implementasinya identik dengan tindakan anarkhis dan sama sekali tidak intelektual
Kegilaan di Indonesia adalah ketika seorang budayawan tak bisa memahami betapa Indonesia sangat multikultur…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika PNS yang seharusnya kerja efektif, aktif dan professional selama 35 jam seminggu tapi nyatanya banyak yang menjadi setengah pengangguran…
Kegilaan di Indonesia adalah ketika LSM menjadi sinterklas pemalas bagi orang miskin dan menjadi pengemis pada MNC’S
Kegilaan di Indonesia adalah ketika sekolah birokrat menerapkan pendidikan kekerasan seperti preman pasar dan itu ditutupi selama puluhan tahun…
Aaaaaargh………..
bdw... aku masih bangga akan satu hal dari negeri ini
yaa modal sosialnya yang masih gila
pada suatu tayangan Larry King waktu bahas ttg badai Katrina, mereka membandingkan penanganan korban di sana dengan bencana Tsunami AcEH
"Sepertinya kita perlu belajar dari AceH" begitu sang pembawa acara memulai
"Jangankan warga sipil, tentara aja ga mau ngangkatin korban, korban meninggal diperlakukan secara tidak manusiawi,. Bandingkan dengan Aceh, pasca tsunami langsung banyak warga Indonesia dari pelbagai pulau yang ber-voulenteery membantu korban di Aceh termasuk korban meninggal, mereka ga jijik ngangkat saudaranya. Saya rasa orang2 di Indonesia masih punya modal sosial yang tinggi. Dan kita perlu bejar ladari mereka. Serta, tentang bantuan pemerintah AS yang diberikan tuk korban tsunami,itu hanya sekadar kepentingan AS belaka.bukan bantuan secara tulus (ya iyalah... punya kepentingan adalah naluri alami manusia) Bandingkan dengan bantuan yang diberikan saat badai Katrina menerjang. Tak ada reaksi apapun dari pemerintah AS" begitu sang pemilik talk show ini mengakhiri pewacanaannya.
Saturday, November 04, 2006
KETIDAKPROFESIONALAN PETUGAS DAN SISTEM HEREGISTRASI UGM 2006
Pelayanan heregistrasi mahasiwa UGM semester gasal tahun ajaran 2006/ 2007, ternyata masih membuahkan banyak keluhan dari mahasiswa UGM sendiri. Keluhan itu terutama berasal dari mahasiswa yang mendapatkan bantuan keringanan. Ketidakrofesionalan birokrasi masih saja menjadi kebiasaan instansi yang seharusnya menjunjung profesionalisme ini. Ketidakprofesionalan berawal dari tempat pembayaran bagi penerima bantuan keringanan yang hanya diperbolehkan disatu tempat yakni tempat C. Heregistrasi seharusnya bisa dilakukan pada 15 tempat. Jadi penerima beasiswa yang akan membayar di tempat A harus dilempar ke tempat C tanpa pemberitahuan sebelumnya. Padahal mahasiswa tersebut sudah cukup lama antri di tempat A. Tidak seperti semester genap sebelumnya, bagi semua mahasiswa boleh membayar di tempat-tempat yang disediakan.
Ketidakprofesionalan selanjutnya berasal dari proses pembayaran yang diterapkan. Proses pembayaran yang seharusnya lebih efektif dilakukan dengan satu kali antri saja malah dilakukan dua kali proses. Proses pembayaran tahap pertama mewajibkan mahasiswa untuk antri mengumpulkan kartu tanda mahasiswa atau identitas lainnya. Kemudian dilakukan pengecekan kembali terhadap bantuan yang diperoleh. Proses ini memakan waktu cukup lama. Selanjutnya proses pembayaran tahap kedua dilaksanakan untuk memanggil nama mahasiswa yang telah mengumpulkan identitas pada proses sebelumnya dan transaksi baru bisa dilakukan. Proses tahap dua lagi-lagi memakan waktu berjam-jam. Ini tentunya tidak efisien apalagi pemanggilan nama mahasiswa pada proses kedua dilaksanakan secara tidak urut. Seharusnya mahasiswa yang mengantri lebih awal di antrian tahap pertama bisa melakukan transaksi lebih awal pula pada proses kedua. Tetapi kenyataannya justru lain, mahasiswa yang diutamakan justru mahasiswa yang datang lebih akhir di antrian tahap pertama. Proses pembayaran ini akan lebih efektif jika dilakukan dengan satu kali antri saja. Jadi jelas siapa yang datang awal langsung antri, membawa identitas sendiri dan melaksanakan transaksi. Petugas tidak perlu kerepotan memanggil satu persatu mahasiswa, selain itu mahasiswa juga tak banyak membuang waktu. Dengan proses pembayaran tahap dua yang sangat tidak adil tadi berakibat bahwa mahasiswa yang mengantri di tahap pertama sejak jam sembilan pagi justru belum transaksi. Padahal mahasiswa yang antri tahap pertama pada jam tiga sore sudah selesai transaksi. Hingga saat ini saya belum bisa menangkap maksud birokrasi yang berbelit-belit ini. Profesionalisme macam apa ini ?.
Proses heregistrasi ini berlangsung sejak pukul delapan pagi hingga pukul tujuh malam. Itupun belum semua mahasiswa yang telah mengantri pada proses pertama melaksanakan transaksi pembayaran. Termasuk saya sendiri yang belum dipanggil padahal saya telah mengalami antrian tahap pertama sejak pukul sepuluh pagi hingga jam tujuh malam. Ketika dikonfirmasi lagi ternyata kartu tanda mahasiswa yang telah saya kumpulkan pada antrian tahap pertama hilang. Hilangnya kartu tanda mahasiswa ini bukan saya saja yang mengalami tetapi juga beberapa rekan mahasiswa yang lain. Namun mahasiswa yang belum bertransaksi dipersilahkan untuk kembali esok harinya karena loket pembayaran sudah tutup. “Akan ada loket khusus untuk melayani mahasiswa yang belum transaksi. Memang harusnya bank sudah tutup sejak jam tiga sore tadi, tapi ini sudah jam berapa ? Para kasir tentu sudah kelelahan mbak! dari tadi belum istirahat! “, ujar seorang petugas. Alasan ini terlalu naif untuk diuangkapkan. Siapa yang peduli kasir merasa lelah ? Toh kasir memang dibayar untuk semua kelelahan mereka. Pihak bank sendiri sebagai mesin kapitalis dirasa terlalu naif untuk memikirkan karyawannya dari sisi humanis, padahal mereka biasanya mengeksploitasi pegawai seperti layaknya mesin cetak kapital. Disamping itu mahasiswa juga tak kalah lelahnya karena menunggu dengan pembagian antrian yang tidak adil pula. Akhirnya malah belum transaksi. Apalagi dengan bertambahnya masalah yakni hilangnya beberapa kartu identitas mahasiswa. Sungguh ironis ketika terdapat instansi yang seharusnya mengusung kebaikan pelayanan birokrasi kemahasiswaan, satu pertanyaan yang justru muncul: kebaikan birokrasi macam apa ini ?.
