Showing posts with label culinary. Show all posts
Showing posts with label culinary. Show all posts

Sunday, December 20, 2009

Ikon-ikon Lain Kota Bengawan

Ingin cari kuliner khas Solo selain menu kraton nasi liwet, timlo, sate buntel atau sup matahari? Jika ya, sajian berikut, jangan diluput. Dengan racikan sederhana, menu-menu ini mampu menjadi dedengkot kuliner kota Solo.

Tahok yang biasa didagangkan di Pasar Gedhe Solo bisa menjadi menu pembuka sarapan anda. Sajian yang terbuat dari sari kedelai dan jahe ini baik untuk kulit anda. Bayangkan saja, saya kira pedagang Tahok di pasar ini masih berusia 50 tahunan namun ternyata usianya kini sudah 70, keriput di kulitnya hampir tak kentara lantaran ia selalu minum Tahok tiap hari. Minuman yang awalnya hanya populer di kalangan etnis Tionghoa di kota Solo ini juga baik untuk pencernaan anda.

Sebagai menu inti sarapan anda setelah mencicipi Tahok, kesegaran kuah dalam suasana tradisional bisa anda nikmati di Soto Gerabah. Peralatan makan dari gerabah juga menambah kenikmatan soto tersebut. Selain soto gerabah, pecel Solo dengan saus wijen dan nasi merahnya juga tak boleh diluputkan sebagai referensi menu makan siang anda. Pecel yang satu ini ternyata sudah dikenal oleh banyak artis ibukota.

Jika anda sengaja berkunjung di Solo saat akhir pekan, anda bisa pula menggunakan wahana transportasi kereta dalam kota ”Jaladara”. Apalagi jika anda berminat untuk menjelajahi sepanjang jalan Slamet Riyadi dan berbelanja batik di Pusat Grosir Solo, Pasar Klewer atau Kampung Batik Kauman, sepur ini siap mengantar. Tiket kereta lokomotif dari kayu yang hanya beroperasi saat akhir pekan ini dapat anda beli di stasiun-stasiun di kota Solo.

Bagi para penggemar musik akustik, Jazz atau pencinta barang antik, anda bisa menikmati alunan musik langsung atau sekadar melihat lukisan dan barang antik setiap sabtu malam di pasar Windu Jenar Ngarsodipuro. Beberapa bulan yang lalu pasar ini dibangun kembali dengan relokasi pedagang sekitarnya -dengan pendekatan kultural antara pemkot dan pedagang, win win solution dan tanpa konflik-. Pasar yang tampil cantik dan artistik kala malam ini juga mengediakan fasilitas akses internet wi-fi. Tertarik? Sumonggo dateng ngerawuhi...

p.s: makasih buat tante Jenny yang udah mau dibajak rumahnya dan yang selalu ngajak jalan-jalan kemana-mana tiap aku ke Solo, hehehe.... n also for all my sisters n brothers, aku kangen jalan-jalan, guyon meriah dombret, masak-masak dan makan-makan lagi ma kalian ni, hehehe...

Wednesday, December 02, 2009

Semalam Bersama Pasta All’arrabbiata Jadi-jadian

Italia dan Perancis terkenal sebagai kerajaan kuliner dunia. Elegan dan bercitarasa tinggi, demikian para pakar sering berkomentar. Eits, itu kata para pakar. Bagi kita semua yang ingin mencapai klimaks karya kuliner, kuncinya hanya satu ’Just trust your tongue’ Ya! Seseorang pernah berkata demikian. Saya sepakat.

Saya ingat suatu ketika kakak saya pernah mengajak kami sekeluarga makan di Solo Mio, sebuah restoran Italia di Kota Solo yang kata rekan kakak saya yang juga bule Italia itu rasanya benar-benar orisinil Italia sekali. Maklum, pemiliknya pun orang Italia, katanya. Kami pun memesan beberapa makanan Italia seperti spaghetti, lasagna, pasta dan pelbagai desert yang ditawarkan.

Sesumbar. Saya tak menduga sebelumnya bahwa keganasan lidah orang Italia hanya sampai disitu. Hambar, tak ada cita rasa rempah dan bumbu yang tajam. Setelah saya menceritakan ini pada seorang Jerman, ia hanya bisa menukas ”oh, come on Tiwi.... its not the taste, its about the culture” Ya… akhirnya saya sepakat dengannya, mempercayai lidah saya sendiri, dan bersumpah akan menghasilkan karya yang tak kalah sakti. Uummm, sepertinya kalimat yang terakhir ini telalu eksesif.

Akhir-akhir ini hasrat cook-addict saya kambuh lagi. Citarasa masakan Jogja yang manis-manis dan tentu tidak bersahabat dengan lidah saya sering memaksa saya untuk memasak sendiri. Tapi, kebiasaan itu lama saya tinggalkan lantaran kesibukan. Huh, akhirnya saya bisa memenuhi hasrat yang telah lama tak terpenuhi. Seperti kebiasaan terima gaji di bulan-bulan sebelumnya, saya langsung menggunakan gaji saya untuk mendaftar kelas baru bahasa asing dan tentu saja berbelanja bahan memasak, mencoba resep baru. Satu keputusan bulat hari itu: Its ’Me’ time, tak boleh ada yang ganggu saya memasak hari itu.

Saya pun membuka WWW.ALLRECIPES.COM tempat dimana resep semua tingkatan kuliner dunia termasuk dari Italia dibagi dengan gratis. Pasta All’arrabiata yang konon mudah namun berkelas menjadi pilihan saya hari itu. Sebenarnya, saya memilih resep ini lantaran merindukan momen memasak dan makan bersama kerabat yang sekarang berada di Milan. Berikut bahan dan cara memasaknya:

400gr pasta jenis penne, 500 gr tomat ceri, bawang bombay dan bawang putih masing-masing satu siung, garam, cabai dan xtra virgin olive oil. Cara membuat: Matangkan pasta hingga kenyal (al dente), potong-potong bawang lalu tumis dengan olive oil, setelah bawang berwarna keemasan, buang bawang putihnya, kecilkan api, masukan garam, tomat dan cabai yang dipotong-potong. Masukan pasta ke wajan bersaus tomat lalu aduk bersama bumbu tumisan, pasta pun siap disajikan.

Saya merasa janggal setelah mencoba resep itu. Indah, teman kos yang bersedia menjadi pengicip-icip pasta saya sore itu berkata enak namun tak nanti, lidah saya berkata ”Kurang mangstabs, apalagi, euyhhhh saus tomat tidak sehat! Kau sudah terlalu banyak makan sampah Tiw akhir-akhir ini, jadi, jangan nodai resep sehatmu setidaknya hari ini! (Sok-sokan) kenapa tak kau gunakan saja tomat asli yang ekstra banyak?” Saya memutuskan untuk mencoba resep itu lagi dengan beberapa ’perintah’ lidah saya.

Malamnya, saya membawa bahan-bahan plus daging sapi qurban ke kos Ino, seorang teman yang sedang senang-senangnya mengarap penelitian dan skripsi bersama seorang dari negeri raja cokelat Eropa. Saya butuh partner untuk memasak sambil tertawa sejenak agar hasil maksimal. Dengan tambahan minyak dan garam saat merebus pasta, tumisan yang banyak merica, tomat, cabai dan bawang putih -yang tidak dibuang setelah ditumis bersama bambang bombay- plus toping tumisan daging sapi tomat ala saus bolognaise –yang samasekali tidak dianjurkan- cukup berhasil menjadikan karya saya, Ino dan Ois spesial, setidaknya bagi orang Asia macam saya dan Ino. Para pakar kuliner Italia mungkin marah dan menuduh kami sebagai tersangka bastardisasi resep but we r just trust our tongue. Yeahh namanya juga Pasta All’arrabiata, artinya kan marah-marah.

Dua dedengkot Eropa (Italia dan Perancis) memang sensitif sekali terhadap kelestarian kuliner mereka. Gimana tidak sensitif? lha wong masuknya gerai Mc’D di Piazza Spagna -alun-alun identitas Italia - dan Museum Louvre, Paris saja sampai mendatangkan reksi ekstrim dari anggota gerakan Slow Food sejak 1986 sampai sekarang. Makanan sampah seperti Mc’D dianggap menodai khazanah kuliner disana. Universitas Slow Food bahkan didirikan di Italia. Betapa pentingnya orisinalitas nilai kesehatan dan kesenian kuliner bagi mereka.

Menurut saya, menciptakan orisinalitas diri sendiri dengan memodifikasi yang orisinal, itu sah saja. Jika anda sepakat, maka ciptakanlah kuliner anda sendiri, pertahankan nilai-nilai seni dan kesehatan anda. Namun, bagi anda pencinta orisinalitas citarasa Italia dan tidak ingin ribet memasak, saya merekomendasikan Solo Mio. Jangan sekali-sekali berburu spaghetti di Kusuma Sari atau WS (dua-duanya masih di Solo juga) kecuali anda ingin memadukan citarasa Eropa-Jawa, semua terserah anda. Orisinal atau tidak itu politis alias penuh kepentingan sang pemberi fatwa, silahkan anda putuskan sendiri mana yang orisinil dan mana yang tidak. Yang jelas kuliner juga menjadi khazanah kebudayaan yang terus bermetamorfosis dan nomaden.

Tips bagi teman-teman sesama mahasiswa di Jogja, saya sarankan untuk membeli sayuran di pasar tradisional pagi hari karena lebih fresh dan murah, kecuali untuk bahan-bahan yang tak tersedia di pasar tradisional seperti paprika, oregano atau daun parsley. Anda bisa mendapatkannya di super indo JaKal, lebih lengkap, segar dan murah. Hindari belanja sayuran di Mirota –sayurnya tidak segar, tapi harga dan koleksi kebutuhan rumah tangganya cukup reccomended, mahasiswa bgt lah- atau di carrefour –yang mahal sekali dan tidak lengkap-. Tapi, semuanya... terserah anda... segar, murah dan lengkap itu politis (halaaah, kalimat yang terakir ini samasekali tidak penting)

Sekian.

Catatan paling akhir; Semua merk yang disebut tentu punya tendensi yang tentu bermafaat bagi anda ;)

Tuesday, December 16, 2008

Tindakan SAR Saat Lapar: Coto Makasar



Jumat siang, 12 Des 2008 aku diminta menemani Frida buat nyariin titipan dosen yang jadi atasannya ke sebuah pertokoan bilangan Malioboro. Ceritanya, Frida dititipin sesuatu yang awalnya kami pikir akan mudah didapat tapi ternyata sangat sulit. Setelah menelusuri beberapa dari timur Jogja, barat Jogja akhirnya ke selatan dikit… hhhmmmpf ketemu deh. Gitu ya rasanya jadi asisten dosen, sampe hal-hal terkecil sang dosen yang ga ada hubungannya dengan urusan akademik, sang asisten ikut mengurusi.. ck.. ck..

Setelah tiga jam menelusuri pertokoan tersebut, sang lapar mulai menyerang. Pertanyaannya kemudian, mau makan dimana? Yah, yang namanya orang laper pasti ketemu makanan yang enak dikit aja langsung deh diserbu kayak orang ga makan seminggu. Sempat kepikiran beberapa referensi kuliner yang kayaknya enak dicoba siang itu, Mie Bangka, Pecel, Gudeg, mmm..

“Kalo kesana suka lama tuh mba, udah laper banget kan.. yang deket dan lumayan mak nyus dari sini kayaknya coto makasar deh, mau kesana ga?” tawar si Frida

“Ya udah deh, tapi ini kayaknya emang kamu yang lagi pengen deh,” sahutku sambil berpikir ada tho coto makasar di Jogja? Ya iyalah, kota pendidikan githu, setiap tahun orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan yang dari luar negeri buat pertukaran pelajar datang kesini. Bisa dipastiin kulinernya lebih beragam dengan biaya makan yang lebih murah pula dibanding Jakarta, Surabaya, atau kota besar lainnya. Mulai deh otak mulai ngigau ga jelas, nanya sendiri, dijawab sendiri.

“Beneran, tapi kalo mau yang lain ya ga papa,” kata Frida lagi

“Yo wes, kesana aja, lha wong aku belum pernah nyoba, semoga ga mengecewakan,” balesku.

Kami pun meluncur kesana. Sampailah kami ke Coto Makasar di Jl. Abu Bakar Ali No. 5, Kotabaru, Yogyakarta, depannya persis asrama mahasiswa Sulawesi Selatan, bisa sambil ngeceng kan? Heheheh. Ancer-ancer nya nih ye; Stadion kridosono ke barat arah Abu Bakar Ali, itu lho… juga yang kearah perpus st. Ignatius n banyak orang jualan helm. Nah kalo udah liat persimpangan STEI, ada gang agak kecil gitu ke kiri, lurus aja 50 meter langsung deh ketemu, atau tanya orang-orang disekitar situ udah pada hafal tempatnya.

Tak lama kemudian kami pesan Coto Makasar n Es Jeruk. Mmmm tunggu dulu, ternyata ga Cuma coto makasar, ada es palu butung n es pisang ijo, Makasar banget kan? Satu porsi coto makasar dibanderol enam ribu rupiah, itu belum ada nasinya, eh ga pake nasi ding… Pakenya ketupat yang satuannya dihargai limaratus perak. Kamu bisa request coto yang daging aja atau pake jeroan. Tapi kayaknya lebih sehat yang daging aja deh.

Pesenan langsung datang tiga menit kemudian dan bau rempah-rempahnya kecium banget. Begitu dicicipi….. Hmmm cakep banget rasanya… walaupun aku ga ngerti resepnya nih ye, tapi boleh lah ya sok tau hehehe, dari perspektif sang tester nih: ada bubuk kedele yang gurih banget, mrica yang agak banyak, kerasa dikit sih pedes panasnya, bawang putih, santen, n rempah-rempah lainnya yang aku ga tau namanya. Mmmm cirri khas masakan Indonesia timur banget deh. Beda sama masakan Jawa yang manis, palagi masakan Aceh atau Padang yang lebih asin, meskipun sama-sama pake banyak rempah-rempah, tapi kayaknya yang coto makasar ini porsi rempahnya lebih sedikit dan lebih berasa gurihnya.

Jadi kepikiran, ternyata lidah tiap daerah juga beda-beda ya, (Gilaaaa.. ya masak gidong, Farid aja Fatahilah masak Fatahidong, hehe piss Rid, mencoba jayus, hehehe) Suatu ketika aku nyoba masakan Italy, eropa banget cirri khasnya; ga pedes, banyak susunya, bumbu rempah sama sekali ga ada, kalo ada merica pun dikiiiit banget, asin dan gurihnya tu berasal dari keju. Kalo masak daging ya.. dagingnya dibikin agak manis, bumbu yang sering menonjol palingan pake bawang putih dan minyak zaitun.

Ke timur dikit di China, dominasi tumis-tumisan, mulai kerasa cabe dan bawangnya. Jepang juga gitu, rempah-rempahnya ga terlalu nendang tapi masih cocok di lidah Asiaku lah ya. Ke timur lagi ada India, Arab dan segenap negara yang nama belakangnya pake –tan, yang ini nih rempah-rempahnya mulai kerasa banget,unsur kambing juga mulai banyak, pedesnya bener-bener dari merica, nendang sekaligus panaassssss. Manifestnya sih yang paling biasa disana: Nasi Kebuli, cuakep banget rasanya…

Anganku pun melayang jauh ke seluruh kuliner di dunia… mmm sampe ga kerasa semangkuk coto makasar, tiga ketupat, satu tahu n sate telur ludes (rakus banget nih).

“Piye mbak? Ga kecewa kan?” Tanya Frida
“Ya enggak lah, enak banget sumpah, jadi satu referen nih, hehe,” Sahutku

Tak lama kemudian kami pun meluncur ke kos kami di daerah Jl. Kaliurang km 5. Cotoooo Makasar.. kau tak terlupakan.. apalagi oleh Nura yang terobsesi sama orang Makasar… hehe piss Nur!