Thursday, January 22, 2009

Skandal Lembaga Survey Pemilu Seratus Juta

Matahari 2009 terbit, pesta perebutan kuasa lima tahunan siap digelar lagi. Jargon-jargon romantis tentang perubahan dimaklumatkan dan ah… tak lupa tebaran gambar wajah senyum penuh kepentingan pun mulai mengganggu pemakai fasilitas umum. Selain itu, sepertinya legitimasi akademis mulai sering digunakan calon-calon terpilih untuk saling melumatkan kekuatan lawannya. Akademisi tak kalah lihai membaca pasar dengan beramai-ramai mendirikan lembaga survey politik praktis. Fenomena demikian pun terjadi di semua provinsi negeri angin, tak terkecuali berdirinya sebuah lembaga survey yang dipelopori dosen sebuah fakultas pada salah satu universitas di kota gudeg ini.

Kebanyakan lembaga survey ini memberi cap sedemikian gemerlap pada institusinya: andal, data reliabel dan valid, serta mampu menjaring ribuan responden dengan waktu cepat. Tag line semacam itu memang cukup mantap tuk sekadar jual kecap, sayangnya cukup gagap ditataran praktek.

Lusa, seorang kawan bertandang ke flat saya dan mengajukan penawaran untuk menjadi surveyor atau enumerator di lembaga survey milik seorang dosen.

“Ayo Tiw, bergabunglah bersama survey ini. Aku merekomendasikanmu pada supervisinya. Lumayan lho seminggu bayarannya bisa lebih dari setengah juta. Pye?”

“Memang sih aku biasa melakukan survey, tapi baru kali ini aku ditawari jadi ‘buruh’ di bidang politik praktis. Jawabanku: Emoh.”

“Lho kok?”

“Alesane; pertama, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berpeluh keringat mencari penghasilan lagi. Ada tuntutan lain yang harus diselesaikan dengan segera. Kedua, aku masih belum selesai dengan persoalan pengetahuan dan kepentingan apalagi sangkutannya politik praktis. Ketiga, jangan kira responden sekarang bisa gampang diambil datanya. Mereka akan menanyakan padamu survey ini tentang apa? Tujuan dan kepentingannya apa? yang mendanai siapa? Dan aku sedang malas menghadapi mereka. Eh, sik.. sik…; emange lembaga ini didanai berapa dan oleh siapa?”

“Kira-kira seratus jutaan, yang ndanai ya partai ********************* dan media ****************”

Wow dasyat! Saya memang tak meragukan kapabilitas dan kredibilitas para perancang survey tersebut. Hanya kemudian lagi-lagi berpikir; ternyata di ruang public dalam hal ini media cetak dan elektronik terdapat sebuah kesatuan: kepentingan, kuasa dan pengetahuan. Saya rasa ini sah-sah saja meski saya sendiri belum selesai dengan persoalan ini. Akhirnya, dengan agak sok-sok an saya menolak tawaran teman saya itu ;)

Seminggu kemudian kawan saya datang lagi ke flat saya dengan wajah murung namun terlihat lega.

“Pye surveynya sudah selesai?”

“Sudah. Tapi, selesai dengan sangat licik dan busuk”

“Lho?”

”Jadi, aku ditugaskan menjaring responden di Sleman dan Kota Yogya. Aku yang sendirian ini ditugaskan untuk menjaring seratus responden dalam waktu satu minggu. Seperti yang kita ketahui bersama, birokrasi di kelurakan, kecamatan itu sangat berbelit dan tak butuh waktu sehari dua hari. Sedangkan di Kota dan Sleman itu terdiri puluhan kecamatan. Kebanyakan responden yang juga beberapa birokrat ini tak mau mengisi kuesioner tanpa izin dari Kecamatan. Dan satu kuesioner itu ada puluhan pertanyaan. Gila ga sih? Apakah cukup realistis jika aku hanya diberi waktu satu minggu?”

“Uh huh? Tapi akhirnya selesai kan?”

“Seharusnya memang demikian. Tapi tiba-tiba di hari kelima tim pendana yang dari Jakarta datang ke Yogya dan meminta semua data yang belum selesai itu dan olahannya. Sinting tu mereka semua! They did it for their fucking media! Perjanjiannya kan tujuh hari dan menurutku itu tidak cukup realistis, mereka malah datang pada hari kelima. Deadline diajukan. SINTING!”

“Trus pada selesai ga?”

“Ya belum lah, temenku banyak yang belum, aku masih kurang sedikit.”

“So?”

”Ya, supervisiku yang mengisi kuesioner yang belum terisi itu seenaknya. “

“Lho kok begitu? Datanya ga valid dong?”

“Jelas. Trus supervisiku itu bilang ya sudah, lha wong mereka ga fair, saya juga ga fair dong. Kalo mereka cukup realistis ya saya realistis. Data dimanipulasi agar sekiranya hasilnya sesuai harapan.”

Ternyata benar perkiraan saya selama ini. Fenomena ini menunjukan ternyata kepentingan bahkan ada diatas pengetahuan. Pengetahuan bisa seenaknya dimanipulasi demi sebuah kepentingan. Tag line (sok) cakap bak jual kecap ternyata di tataran praktek cukup gagap dan bermuara pada gagalnya penelitian. Jadi, perlukah kita percaya dengan hasil penelitian lembaga survey politik?

Friday, January 16, 2009

My Blue, My thankfulness

This day, I remember what alifa’s said about life; “GOD is the greatest comedian ever after across the universe,” So, she is also make me remember about my big brother said last year “think positive n takes ur time to laughing when you get a problem, even there is a big… big problem, because the cosmos will response u like u was thinking ” Hiahaha.. L.. O.. L.. What do u think about that? I am sure that u had been feeling the same thing. You can, if u think u can, You get worst if you think bad. I thought my big brother have a talent to entertain people, although he’s truly right. But the best entertain is GOD. N alifa? Okay.. she has the same talent with my bro but she will becoming the down entertain with ‘suicide’ on her middle name, is it right fa? ;p

Last month, I dreaming till I am fly into the high n wonderful place . But, in the same time I am down to the depths of misery. There are so many things unpredictable. Sometimes I feel so strong n can finished my big problems by my self, but in the other time, like now, there is a little problem with my heart that I can’t fix it. I never suppose that it will so hurt. Feels just like…yeaa… I am nothing.., whereas I wasn’t born yesterday. It’s no big irony, I am thankful for Zee, that always come to my flat when am down n bring a cup of rose tea for me, even I didn’t tell her that I am so ‘sick’. “Tiway.. Suddenly, I want to go to your flat, don’t know why, my feelings tell me that ure not okay..” . N for my other sists n bro in the 2nd home; Ntan, Ken n Di who always ask me; “Come on.. I am sure that u can fixed it up, n everything will be okay, I’ll be there 2 support u,” N I always know that tomorrow everything will gonna be ok. Maybe that’s the reason why I am always give my silly laugh.

Back again to the GOD as comedian, sometimes He is make my dream come true, but in other times He throw me 2 the deep ravine. I don’t know what His plans for me tomorrow. It’s must be surprises. If I remember everything what did happen in my life, yeaa, I can get laugh. Sometimes, I think; how did this silly thing can happen? How sentimental fool can be? What a stupid Tiwi!

If everything has been written down by GOD, so why worry.. When He make me down, @ the same time He send me so many angel a.k.a Alifa, Zee, Ntan, Ken, n Di… n the other angel; Mr n Mrs eL, as my lecturer that always support me to pursue my dreams…

“If life is ever changing, so why worry, we say..
It’s still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can’t see
A neighbor, a lover, a joker
Or friends you can count on forever?
How happy, how tragic, how sorry?
The sun’s still up and life remains a mystery
So, would it be nice to sit back in a silence?
Despite all the wisdom and the fantasies..”

From Dewi ‘Dee’ Lestari with Grow a Day Older in her albums “Recto Verso”

Tuesday, December 23, 2008

Cinta dan Doa yang Absurd

Senin malem, 221208, aku berencana menonton film bersama Ifa n Agus. Sepertinya film yang bagus n lagi diputar di 21 hanya twilight dan tiga cinta tiga doa. Berdasarkan rekomendasi beberapa orang yang sudah menonton twilight, film ini tak sebagus novelnya yang best seller. Biasalah... sindrom filmisasi novel, pasti imajinasi jadi terbatasi dan penonton yang telah membaca novelnya dibuat kecewa. Tapi, kupikir, masih ada lah ya filmisasi novel yang berhasil: Laskar Pelangi. Itu satu-satunya menurutku. Akhirnya, kami bertiga memutuskan menonton tiga cinta tiga doa. Janjianlah kami bertemu di B21.

Senin siang, Ifa meng-sms ku bahwa ada kawannya, Patria, yang ingin ikut nonton bersama kami. Patria, si cowok charming (ni kata ifa lho pat, mau GR juga gapapa hihihi) ini juga menawarkan tebengan mobilnya... hihihi... lumayanlah, pulang malem dikit asal dianter pake mobil. Jam 17. 30 aku tiba di kos ifa, 15 menit kemudian patria juga di kamar yang (sedikit) berantakan ini. Mendingan lah kondisi kamarnya daripada waktu Ifa stress mengerjakan skripsinya hehehe. Tak lama, azan maghrib berkumandang, akupun melaksanakan kewajiban absen kepada Tuhan terlebih dahulu.

Kami pun meluncur jam 18. 00 dari kosan ifa dan menjemput Agus di B21. Jam 18. 41 kami tiba di amplas. Agus memesan tiket, aku dan ifa membeli jagung berondong. Unfortunately, kami dapat tempat duduk nomer tiga dari depan. Ya gapapalah, ifa kan ga bawa kacamata. Mmmm kami menonton film yang diperankan oleh Nicholas Saputra n Dian Sastro ini. Kupikir filmnya bakal bagus, lha wong ada butet nya juga. Ternyata... penonton kecewa hahaha

Jadi ceritanya ada tiga santri yang bersahabat dan memiliki konflik pribadi masing-masing. Si Huda (Nico), rindu ibunya yang lama tak menengoknya di pesantren. Si Syahid, yang pingin nge-bom syahid dan mati sahid, n si Rian (Yoga Pratama) yang terobsesi jadi pembuat film.

Suatu ketika Huda bertemu Dona (Dian Sastro) di sebuah kuburan. Konon, setiap hari Dona melakukan ziarah kubur ibunya. Akhirnya mereka berkenalan, dari perkenalan tersebut Huda tau kalau Dona pernah tinggal di Jakarta. Maka, Huda pun meminta tolong Dona untuk mencarikan alamat ibu Huda di Jakarta dan memastikan keadaannya. Dona menyanggupi asal Huda membayarnya. Akhirnya interaksi terjalin antara santri dan penyanyi dangdut ini.

Dalam film ini Dian Sastro berperan sebagai penyanyi dangdut yang seksi nan bahenol. Kontras sekali dengan kehidupan Huda yang religius. Film yang bersetting dari tahun 2001 hingga 2005 ini mungkin bisa mengeksplor suasana pada waktu tersebut, dari jenis uang yang diterbitkan pada tahun tersebut, logo breaking news SCTV pada tahun tersebut, namun sayangnya dialong anatara Huda dan Dona berlangsung sangat datar dan tidak mengalir, logat Jawa si Dona terkesan dipaksakan, apalagi ketidaklihaian si Nico menghayati kehidupan pesantren tradisional makin mengganggu kekhusukan menonton. Konflik antara Huda yang tak pernah dikunjungi ibunya diputus begitu saja dengan kenyataan bahwa ternyata sang ibu yang kerja di sebuah pub telah meninggal. Si Huda ini ceritanya jadi santri kesayangan Romo Kyai, petinggi di pesantren tersebut. Biasalah seperti fenomena pesantren tradisional lainnya, ada santri kesayangan yang dijodohkan dengan anak dedengkot pesantren tersebut sebagai 'balas jasa'.

Konflik aneh yang disajikan dalam film ini tak hanya dialami Huda tapi juga Rian. Awalnya, Rian mengajukan syarat pada ayahnya; ia mau belajar di pesantren asal dibelikan handycam. Namun, ia mulai lupa permintaannya tersebut tatkala ayahnya meninggal. Ketika ia hampir lulus dari pesantren, sang ibu mengiriminya handycam. Handycam inilah yang akhirnya menjerumuskan ia, Huda, Syahid dan Romo Kyai ke dalam penjara karena si Syahid yanbg keranjingan mati syahid mengikutu kajian islam garis keras di luar pesantren, pelatihan perangnya dan merekam dirinya sebelum ia mati syahid. Tak hanya itu, handycam itu juga telah merekam dian sastro yang lagi casting jadi artis oleh si Huda. Rekaman yang lain juga digunakan Rian untuk merekam film2 di pasar malam dan perkenalannya dengan butet. Handycam itu lalu diambil oleh ustadz nya, ya karena pesantren tradisional peraturannya memang begitu. Entah bagaimana handycam ini bisa sampai ke tangan polisi pada saat seru-serunya pengeboman WTC. Akhirnya ditangkaplah mereka bertiga dan dituduh penganut islam garis keras. Well, di luar carut marut yang disebabkan handycam tersebut, ternyata latar belakang mengapa Rian diberikan handycam baru yakni karena ibu Rian ingin menikah lagi. Rian yang emosi tak bisa digambarkan dengan menghayati oleh sang pemeran pun dengan kelanjutan konflik rian dengan ibunya. Lagi-lagi seakan diputus begitu saja.

Si Syahid juga mengalami konflik serupa, di satu sisi ayahnya sakit ginjal dan harus dioperasi kalau tidak harus cuci darah, di sisi lain ia ingin cepat mati syahid. Suatu ketika sawahnya dibeli oleh ekspat Amerika yang amat dibencinya untuk kesembuhan ayahnya. Namun, tanahnya hanya laku sepuluh juta. Ia mencak-mencak pada bule tersebut, tapi sayang sang bule hanya menganggapnya sebagai luapan rasa terimakasih karena tak mengerti bahasa indonesia. Saat penandatanganan surat kuasa, bule itu akhirnya mengerti bahwa syahid butuh dana banyak untuk pengobatan ayahnya. Akhirnya si bule yang menanggung semuanya tanpa diketahui siapapun. Dan syahid mengurungkan niatnya untuk mati syahid.

Film ini diawali dengan mimpi masing2 tiga santri tersebut serta doa yang mereka tulis di dinding pojok pesantren. Selain konflik tiga santri tersebut film ini juga dibumbui kehidupan pesantren, yaaa biasalah tentang kencan diam2 antara santriwan dan santriwati, fenomena sodomi di pesantren sampai poligami di kalangan ustadz yang tak kunjung mendapatkan anak lelaki untuk meneruskan tradisinya.

Menurutku, film ini ga jelas klimaks dan antiklimaksnya. Akhirnya si Dona masih menyanyi, Huda menikah dengan anaknya Romo Kyai, Syahid dibebaskan dari penjara dan Rian memang sudah menjalankan usaha video shoting pernikahan seperti impiannya dulu. Sepertinya ada dialog yang terpotong saat si ustadz garis keras ngomong "Orang kafir itu halal......" ga dilanjutkan "darahnya" yaa mungkin ini untuk kepentingan sponsornya yang dari perancis juga sih. Selain itu, mungkin film ini juga bertendensi untuk meluruskan ayat-ayat tentang bagaimana umat islam bergaul dengan keberbedaan yang seringnya ditafsirkan secara liar sehingga melegitimasi kekerasan dan peperangan. Lalu apa lagi ya.... mmmm akhirnya aku berkesimpulan semuanya dataarrrr dan ya! Absurd...

Tuesday, December 16, 2008

Tindakan SAR Saat Lapar: Coto Makasar



Jumat siang, 12 Des 2008 aku diminta menemani Frida buat nyariin titipan dosen yang jadi atasannya ke sebuah pertokoan bilangan Malioboro. Ceritanya, Frida dititipin sesuatu yang awalnya kami pikir akan mudah didapat tapi ternyata sangat sulit. Setelah menelusuri beberapa dari timur Jogja, barat Jogja akhirnya ke selatan dikit… hhhmmmpf ketemu deh. Gitu ya rasanya jadi asisten dosen, sampe hal-hal terkecil sang dosen yang ga ada hubungannya dengan urusan akademik, sang asisten ikut mengurusi.. ck.. ck..

Setelah tiga jam menelusuri pertokoan tersebut, sang lapar mulai menyerang. Pertanyaannya kemudian, mau makan dimana? Yah, yang namanya orang laper pasti ketemu makanan yang enak dikit aja langsung deh diserbu kayak orang ga makan seminggu. Sempat kepikiran beberapa referensi kuliner yang kayaknya enak dicoba siang itu, Mie Bangka, Pecel, Gudeg, mmm..

“Kalo kesana suka lama tuh mba, udah laper banget kan.. yang deket dan lumayan mak nyus dari sini kayaknya coto makasar deh, mau kesana ga?” tawar si Frida

“Ya udah deh, tapi ini kayaknya emang kamu yang lagi pengen deh,” sahutku sambil berpikir ada tho coto makasar di Jogja? Ya iyalah, kota pendidikan githu, setiap tahun orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan yang dari luar negeri buat pertukaran pelajar datang kesini. Bisa dipastiin kulinernya lebih beragam dengan biaya makan yang lebih murah pula dibanding Jakarta, Surabaya, atau kota besar lainnya. Mulai deh otak mulai ngigau ga jelas, nanya sendiri, dijawab sendiri.

“Beneran, tapi kalo mau yang lain ya ga papa,” kata Frida lagi

“Yo wes, kesana aja, lha wong aku belum pernah nyoba, semoga ga mengecewakan,” balesku.

Kami pun meluncur kesana. Sampailah kami ke Coto Makasar di Jl. Abu Bakar Ali No. 5, Kotabaru, Yogyakarta, depannya persis asrama mahasiswa Sulawesi Selatan, bisa sambil ngeceng kan? Heheheh. Ancer-ancer nya nih ye; Stadion kridosono ke barat arah Abu Bakar Ali, itu lho… juga yang kearah perpus st. Ignatius n banyak orang jualan helm. Nah kalo udah liat persimpangan STEI, ada gang agak kecil gitu ke kiri, lurus aja 50 meter langsung deh ketemu, atau tanya orang-orang disekitar situ udah pada hafal tempatnya.

Tak lama kemudian kami pesan Coto Makasar n Es Jeruk. Mmmm tunggu dulu, ternyata ga Cuma coto makasar, ada es palu butung n es pisang ijo, Makasar banget kan? Satu porsi coto makasar dibanderol enam ribu rupiah, itu belum ada nasinya, eh ga pake nasi ding… Pakenya ketupat yang satuannya dihargai limaratus perak. Kamu bisa request coto yang daging aja atau pake jeroan. Tapi kayaknya lebih sehat yang daging aja deh.

Pesenan langsung datang tiga menit kemudian dan bau rempah-rempahnya kecium banget. Begitu dicicipi….. Hmmm cakep banget rasanya… walaupun aku ga ngerti resepnya nih ye, tapi boleh lah ya sok tau hehehe, dari perspektif sang tester nih: ada bubuk kedele yang gurih banget, mrica yang agak banyak, kerasa dikit sih pedes panasnya, bawang putih, santen, n rempah-rempah lainnya yang aku ga tau namanya. Mmmm cirri khas masakan Indonesia timur banget deh. Beda sama masakan Jawa yang manis, palagi masakan Aceh atau Padang yang lebih asin, meskipun sama-sama pake banyak rempah-rempah, tapi kayaknya yang coto makasar ini porsi rempahnya lebih sedikit dan lebih berasa gurihnya.

Jadi kepikiran, ternyata lidah tiap daerah juga beda-beda ya, (Gilaaaa.. ya masak gidong, Farid aja Fatahilah masak Fatahidong, hehe piss Rid, mencoba jayus, hehehe) Suatu ketika aku nyoba masakan Italy, eropa banget cirri khasnya; ga pedes, banyak susunya, bumbu rempah sama sekali ga ada, kalo ada merica pun dikiiiit banget, asin dan gurihnya tu berasal dari keju. Kalo masak daging ya.. dagingnya dibikin agak manis, bumbu yang sering menonjol palingan pake bawang putih dan minyak zaitun.

Ke timur dikit di China, dominasi tumis-tumisan, mulai kerasa cabe dan bawangnya. Jepang juga gitu, rempah-rempahnya ga terlalu nendang tapi masih cocok di lidah Asiaku lah ya. Ke timur lagi ada India, Arab dan segenap negara yang nama belakangnya pake –tan, yang ini nih rempah-rempahnya mulai kerasa banget,unsur kambing juga mulai banyak, pedesnya bener-bener dari merica, nendang sekaligus panaassssss. Manifestnya sih yang paling biasa disana: Nasi Kebuli, cuakep banget rasanya…

Anganku pun melayang jauh ke seluruh kuliner di dunia… mmm sampe ga kerasa semangkuk coto makasar, tiga ketupat, satu tahu n sate telur ludes (rakus banget nih).

“Piye mbak? Ga kecewa kan?” Tanya Frida
“Ya enggak lah, enak banget sumpah, jadi satu referen nih, hehe,” Sahutku

Tak lama kemudian kami pun meluncur ke kos kami di daerah Jl. Kaliurang km 5. Cotoooo Makasar.. kau tak terlupakan.. apalagi oleh Nura yang terobsesi sama orang Makasar… hehe piss Nur!


Monday, December 15, 2008

Keledai pun Tak Mau Terjebak Lagi di Lubang yang Sama

Bulan depan mubes. Musyawarah Besar di Balairung; Persma yang saat ini butuh narsis menurutku. Sebentar lagi aku akan hengkang dari sana juga rumah kecil itu. Tujuanku menulis ini hanyalah melukis sejengkal kisah di Balairung. Awalnya, aku menyepakati apa yang pernah diobrolkan bersama Abdi perihal ujaran Hegel tentang sejarah yang mencatat bahwa sepanjang sejarahnya, manusia tak pernah belajar apapun. Mubes oh mubes, kadang aku berpikir, tak pernah belajar apapun. Perubahan? It’s bull! 21 tahun kok molor terus, mutungan terus. Terkadang sulit memang mengungkapkan apa yang dirasakan pada orang lain, lebih baik dipendam, dan sayangnya ini akan berbahaya. Apalagi memisahkan hubungan profesional dan emosional, saya paling kesal mengadaptasi dengan teman-teman yang punya masalah seperti ini. Memutus ritus perlu greget dari kesadaran masing-masing awak. Semuanya tentu. Ketika mimpi sebuah lembaga tak dibarengi dengan perjuangan kolektif, betapa menyakitkan. Tapi izinkan aku melukis kisah ini. Kisah tentang warna kerja di persma terbesar di dunia berbahasa Indonesia.

“Nafas Intelektual Mahasiswa” Jargon itu begitu lekat dengan Badan Penerbitas Pers Mahasiswa yang aku geluti selama hampir tiga tahun ini. Ujaran seseorang tentang definisi intelektual berikut bisa jadi benar; sosok orang yang dapat mempertahankan hidupnya dan orang lain dalam situasi yang genting sekalipun. Sudahlah, tak ada lagi kata-kata romantis tentang intelektual yang perlu dilebihkan. Itu lebih baik daripada semua bermuara pada dusta. Dusta hanya akan membimbing pada pertahanan yang buruk. Dan awak-awak Balairung kini nyaris tak dapat mempertahankan hidup lembaga karena dusta mewarnai kondisi internal.

Adalah dusta jika seseorang hanya mampu menghasilkan pemikiran dan pernyataan dasyat tanpa adanya bukti nyata. Kakean diskusi, miskin data, bar kuwi molor sisan. Bicara dusta, mari bicara Balairung sebagai sebuah badan penerbitan pers mahasiswa. Tentu saja juga tentang aku, kau dan kita semua. Mengerjakan produk bukanlah hal yang main-main: dusta!, Mengerjakan produk selesai tepat waktu: dusta! Persma sebagai ajang aktualisasi yang dipilih secara sadar dan bertanggung jawab: dusta! Toh, keluh kesah masih terdengar kala awak mengerjakan produk. Tapi, di luar itu saya apresiasi bagi teman-teman di angkatan pertama dan kedua yang menikmati rumah ini.

Padahal, layaknya gerakan pers, persma hanya dapat hidup dengan produk penerbitan. Banyak faktor yang mempengaruhi eksisnya lembaga pers. Eksistensi lembaga pers salah satunya berkorelasi positif dengan kuantitas dan kualitas produk. Jika dalam penerbitan produknya saja diwarnai dusta, saya yakin eksistensi persma terancam. Celakanya, jika persma tak bergegas refleksi diri, ia akan segera musnah. Persis seperti ramalan Karl Marx terhadap kapitalisme. Juga ramalan tetangga kepada tetingginya.

Beruntung, Balairung masih dapat menerbitkan dua produknya-jurnal dan balkon- meski tertatih. Dua produk tersebut juga menjadi jalan pijakan Balairung sebagai pers mahasiswa: berwacana dan berkomunitas. Pijakan itu yang akhirnya melahirkan sinergi kerja empat divisi. Social trust dalam sinergi kerja membutuhkan satu prasyarat yakni adanya norma yang disepakati.
Sayangnya, social trust yang digemborkan sejak awal semakin luntur karena dalam pengerjaan produk diwarnai keegoisan masing-masing awak dan divisi. Akhirnya aku sepakat dengan Abdi yang memberi jeda antara perasaan egois dan pembagian kerja. Aku tahu sejak awal tugas kita masing-masing telah dibagi, tapi bukankah dalam menjalankannya kita harus tetap berkoordinasi? Artinya ada kerjasama disana, pembagian kerja tentu tak dimuarakan pada keegoisan. Sangat egois ketika tak saling menghargai kesepakatan, tak saling mengingatkan dan tentu saja mementingkan kepentingan sendiri.

Ceritanya berawal ketika Dewan Pemimpi(n) dari Redaksi, Produksi dan Artistik, Riset dan perusahaan berkumpul untuk membicarakan matriks jurnal. Akhirnya disepakati jurnal akan terbit oktober dengan asumsi akhir juni selesai edit bahasa, sehingga biSA berangkat KKN dengan tenang. Namun salah satu divisi molor, sekiranya kurang satu tulisan yang masuk dari divisi tersebut, sedangkan divisi yang lain telah berusahan dan berhadil memenuhi kesepakatan awal. Maka, mutung2 an tak terhindarkan lagi. Terjadilah proses yang tidak dewasa itu. Padahal riset diburu oleh korporasi yang mendanai penelitiannya, akibatnya hasil riset yang sudah jadi itu belum bisa terbit juga, Selak basi validitas datane, dab! dan korporasi tersebut membatalkan kontraknya apalagi setelah riset mengajukan MoU yang baru. Perusahaan juga diburu pengiklan dan jurnal telat, apa yang terjadi, entahlah. Forum asertif yang direncanakan tak pernah terlaksana karena ketidakhadiran beberapa DP. Konflik ini hanya sebagian kecil dari banyak konflik yang terjadi.

Baiklah… ketika keegoisan sudah menjadi budaya disini, aku mencoba untuk tak memakai perasaan. Inilah yang membuat keraguanku hilang kala aku harus sendirian di angkatan tiga divisi riset. Aku harus egois, ikut ritme, tak peduli pada awak-awak yang tak lagi membersamai, toh aku masih punya bala kurawa yang siap berlari meski terengah.

Namun, obrolan dengan ifa yang masih bingung soal pembagian kerja dan identitas kebalairungan mengejutkanku.

“Sebenarnya balairung akan mendidik awaknya jadi yang semacam apa sih? Keren ya.. balairung masih bisa jalan tanpa alur koordinasi yang jelas dari struktur, maksudku pada prakteknya, konsep sebenarnya sudah jelas di AD ART. Permasalahannya adalah kita tak dibiasakan dengan forum asertif. Dimana semua orang bisa dan berani menyatakan apa yang dirasakannya dan kemudian ada diskusi dan hal jawab. Semuanya terlalu terbawa perasaan dan akhirnya berujung mutungan, kerja jadi kacau” Tutur Ifa.

“Aduh, kayaknya mengungkap apa yang dirasakan di forum besar susah juga, mungkin secara pribadi. Kalau orangnya cuek sih ga papa tapi kalau sensitif jadinya ya... aku ragu..” Aku menanggapi.

“Iya kayak gitu, kemarin aja aku melihat proses yang tidak sehat itu. Ada editor yang dikritik editor lain, tapi editor yang dikritik malah jadi mutung dan ga mau ngedit, yo wis editen kono, gitu...” Sahut Nura

“Nah, aku jadi inget raker kedua, kok bisa muncul komunitas tanpa otak? Mbok ya jangan ada dikotomi antara anak2 yang ‘serius’ dan tidak. Kalau bisa anak-anak yang lain mengejar teman-temannya dan anak-anak yang dianggap serius itu harusnya lebih terbuka,” Putra menimpali.

Sebelum pembicaraan ini aku SMS an dengan Ifa

“Kok jadi kayak gini to; talk with putra hopeless, talk with oky he feels guilty n tak ada hal lain selain memberinya maaf dan kepercayaan lagi (bagiku ini menyebalkan), talk with abdi feels like hells n make me want to suicide, come on... ini persma terbesar di Indonesia. Koordinasi yang seperti ini? Kalian terlibat konflik, It’s shock me out!”
Sender: Noor Alifa

“Wis to fa ga usah pake perasaan, cuek aja lah. Kalau dipikir pakai perasaan, lebih baik nafikanlah sama sekali,” Jawabku

“Itulah menurutku yang menggerakan balairung, utamanya perasaan bersalah”
Sender: Noor Alifa

Baiklah… baiklah… Maafkan saya… Lantas, apa kondisi demikian yang akan terus-terusan mewarnai internal persma terbesar di dunia berbahasa Indonesia ini? Tanyakan pada rumput yang bergoyang hahaha...

Oh ya, teringat pada apa yang pernah disampaikan dosen pembimbingku, bahwa posisi kerangka teori dalam sebuah penelitian bukan dipaksakan sama dengan data lapangan. Melainkan, hanya tuntunan untuk dikaji lewat penelitian selanjutnya tidak disepakati atau dikritisi. Ini karena konteks ruang, waktu, budaya dan subjek penelitian tatkala teori itu lahir samasekali berbeda dengan saat ini. Dan akhir-akhir ini aku tidak sepakat dengan apa yang diujarkan Hegel bahwa manusia tak pernah belajar apapun sepanjang sejarahnya. Aku tidak menyepakatinya karena dari obrolan kumpul divisi, menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang siap dilaksanakan dan kini terlaksana meski tak sempurna. Ketidaksempurnaan akan terus menjadi cambuk perubahan. Masih ada keyakinan bahwa manusia merupakan makhluk yang dinamis. Keledai pun tak mau terjebak lagi di lubang yang sama. Semoga konflik yang terjadi dapat menunjukan sisi fungsionalnya.

Brontokusuman, 261108 pkl 10. 33. Ada mbak Norah Jones yang masih nyanyi...
Spinning, laughing, dancing to her favorite song
A little girl with nothing wrong, is all alone

Eyes wide open, always hoping for the sun
And she'll sing her song to anyone that comes along

Crooked little smile on her face tells a tale of grace
Thats all her own

Sulitkah Menjadi Indonesia?


“Ukhti dibayar berapa untuk melakukan pemurtadan? Hati-hati dengan isu inklusifisme yang mereka gulirkan”

“Bhineka Tunggal Ika” Jargon ini begitu lekat ditanamkan dari sejak saya TK sampai sekarang. Saya yakin, semua orang Indonesia paham maknanya; Berbeda tapi tetap satu. Perbedaan di Indonesia merupakan sebuah realitas. Tapi kadang terdapat oposisi biner; di satu sisi jargon ini ditanamkan dalam pelajaran PPKn, harus dihafal –layaknya murid merupakan bejana kosong yang siap diisi, tak dididik untuk memiliki daya kritis dan pemahaman realitas, begitu ujar Paulo Freire—di sisi lain ada sekolah khusus anak orang kaya, sekolah khusus keyakinan ini, sekolah khusus suku ini, suku itu, kelas akselerasi sampai SLB.

Benarkah generasi kita sudah benar-benar dididik “Bhineka tunggal ika” jika sejak dari ‘bonggol’nya saja sudah dikonstruksi untuk mengotak-kotakan sesuatu? Seperti apa yang ditanamkan sejak kecil tentang apa yang hitam dan putih; “oooo anak ini cacat, dia beda, ga bisa apa-apa, harus dikasihani”, padahal sebenarnya ‘cacat’ hanya konstruksi pikiran. Saya yakin setiap anak diciptakan untuk memiliki bakat kognitif maupun non kognitif masing-masing. Itu baru soal perbedaan fisik dan mental, belum lagi masalah krusial seperti ideology hingga kesukuan “oooo anak suku ini begitu suku itu begini”, “pokoknya harus berhati-hati bergaul dengan anak-anak yang seperti itu”, “eh kamu jangan baca buku ini-itu, berbahaya!”, “eh jangan main sama anak itu, nanti kamu jadi begini,” Fenomena ini pun turut membawa kesadaran pada saya betapa sejak kecil tiwi dididik untuk mengotak-kotakan sesuatu, tak memahami realitas, dan dihalangi untuk berpikir kritis. Pasti masih banyak tiwi-tiwi warisan orde baru lainnya. Kenapa logika yang dipikirkan selalu negasi, bukan logika positif atau solutif? Saya yakin, anak-anak Indonesia sudah cukup cerdas untuk berpikir tentang konsekuensi atas lingkungan mana yang mereka pilih dengan sadar untuk bersosialisasi.

Fenomena yang sangat menarik bagi saya adalah ketika saya menjadi panitia sebuah diskusi sekolah mutikultural. Kebetulan yang mengadakan adalah sebuah lembaga non-islam –islam, agama yang saya anut, sebagai rahmat bagi semua, yang menurut saya sebenarnya cukup bisa mendidik bagaimana menghargai perbedaan, seperti diajarkan agama yang lainnya-- dan saya mendapatkan SMS yang demikian;

Si A : Ukhti dibayar berapa untuk melakukan pemurtadan? Hati-hati dengan isu inklusifisme yang mereka gulirkan

Saya : Saya kira, komitmen agama kita sebagai rahmat bagi semesta alam tak pernah terwujud jika masih ada orang-orang yang selalu berpikir negasi seperti anda. Bahkan Rasulullah mengajarkan untuk menghormati orang asing. Jika memang kita berbeda, marilah kita membiarkan itu berjalan , itu toleransi, toh saya tidak mencampuri urusan keyakinan mereka apalagi memaksakan kehendak. Saya, anda, maupun kawan-kawan yang lain yang masih beragama, tak beragama bahkan yang tak percaya Tuhan sekalipun pastilah dari lubuk hati terdalam mengandaikan perdamaian.

Sampai akhirnya pulsa saya yang tinggal sepuluh ribu rupiah habis untuk meladeni SMS nya. Kenapa saya jadi bodoh begini? Merugikan diri sendiri padahal seharusnya saya membiarkannya dengan kecurigaan dan keyakinannya itu.

Jika kita cari centhang perenangnya, pelbagai perbedaan di Indonesia pastilah berhubungan dengan banyak negara yang lain. Nasionalisme, saat ini bukan lagi dimaknai secara sempit, si A memaknai kesadaran kolektif karena kesamaan sebangsa, bisa jadi yang lain tak memaknai demikian. Seperti ABG di Indonesia jaman sekarang yang memiliki nasionalisme R&B, atau kerelaan mereka yang lain untuk mengaransemen musik berjam-jam demi mengakulturasi musik Jazz dan gambang di Bantul beberapa waktu yang lalu. Contoh lain seperti anak pengamen di pertigaan dari Mirota kampus ke selatan yang rela ngamen seminggu untuk makan di Mc D- ini penelitian dosen saya lho-. Atau seperti teroris di Bali beberapa waktu lalu –saya tak berani menyebut mujahid- yang menciptakan kebencian dan ketakutan hingga rela mengorbankan diri mereka untuk mencederai sesamanya yang tak bersalah atas nama ayat Tuhan yang ditafsirkan dengan liar. Seakan ada kebanggaan yang dibayangkan secara kolektif jika seseorang berhasil memperjuangkan sesuatu.

Saya jadi ingat dengan apa yang diungkapkan Benendict Anderson yang memaknai nasionalisme sebagai komunitas yang tak terbayang;

“Akhirnya, bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas, sebab, tak peduli akan ketidakadilan yang ada dan penghisapan yang mungkin tak terhapuskan dalam setiap bangsa, bangsa itu sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk mendalam dan melebar mendatar. Pada akhirnya, selama dua abad terakhir, rasa persaudaraan inilah yang memungkinkan begitu banyak orang, jutaan jumlahkan bersedia, jangankan melenyapkan nyawa orang lain, merengut nyawa sendiri pun rela demi pembayangan tentang yang terbatas itu,”

Begitu dasyatnya kekuatan nasionalisme hingga memberikan arti yang beragam tentang keindonesiaan kita. Kita pun masih merangkak untuk memahami keberagaman ini. Jika kita tak berhati-hati, pemahaman anarkis dapat bermuara pada konflik manifest hingga kekerasan. Tentu kita semua tak ingin kejahatan kemanusiaan kembali terulang. Kasus konflik di pelbagai belahan Indonesia hendaklah disikapi dengan pemahaman yang adil dan pemerataan. Namun, konsep yang demikian romantis ini menurut saya hampir-hampir utopis, bukan berarti pula tak bisa diwujudkan. Jadi, menjadi Indonesia, sulitkah?

A B S U R D


Absurd...sebuah keyakinan

Absurd...yakin sebuah pemahaman naif

Absurd...naif dalam kebuntuan dan ketersesatan

Absurd...sesat hanya dialami bujang ingusan pengecut

Absurd...bujang ingusan seperti seekor keledai

Absurd...keledai yang lebih suka rumput daripada berlian

Dalam kecintaanku dengan absurd, awal mei 05

Kemana Masa Depan Kami?


Ketika Sang Cahaya Agung masih menampakan gairahnya

Gairah di hampir ufuk barat

Dalam kebisingan kuda-kuda besi kota

Diantara raksasa yang menantang langit

Lebah-lebah kecil itu masih berterbangan

Berterbangan pada menu makanan kota petang itu

Menatap riuh tak peduli masa depannya

Aku menatap semua itu dalam sebuah bilangan waktu

Waktu itu...saat ini...ya saat ini

Aku tak paham

Atau aku yang terlau bodoh ?

Padahal pemikir-pemikir itu sudah berputus perkara

Berputus perkara mengenai lebah-lebah kecil di jalan kota

Perkara mengenai kemana lebah itu akan dibawa

Juga menjanjikan lebah-lebah itu madu

Sayangnya sang pemikir tak punya cukup madu

Madu untuk menyelamatkan lebah-lebah kecil itu

Apa kau melihatnya ?

Sangat lucu...

Berjanji memberi madu tapi tak punya madu

Atau madu itu sengaja dibuang untuk sesaji ?

Dalam Kepenatan Jakarta, Agustus 2005

Mencari Kerajaan Tuhan


Seakan ling-lung setelah lama tidur

Apa sup yang dibuat ibu kebanyakan pala semalam ?

Aku pikun lagi

Lagi-lagi cahaya itu hanya dapat memutar tubuhku

Memusingkan dari satu tempat ke tempat yang lain

Tidak kutemukan Kerajaan Tuhan yang kucari

Apakah aku harus mati dulu?

Ataukah tidur yang lama

Tidak...tidak...

Sebab aku adalah milik Tuhan penciptaku

Tanpa perintahnya aku tak berhak bebas

Ketika sabda Tuhan terhadapku

Yang satu lahir dari suatu kegelapan

Yang satu hidup dari kematian yang lain

Sekarang bolehkah aku bertanya?

Dimana akhir jentera kelahiran ?

masih awal Mei 2006

Tiga malam yang lalu


Tiga malam yang lalu

Di puncak golgota yang gelap

Dari lolongan hyena yang siap menerkam mangsanya

Perlahan diriku menelusuri arah sebuah cahaya

Cahaya kecil yang siap memandu

Langkah demi langkah kutelusuri cahaya itu

Aku tak tahu kemana ia akan membawaku

Kompasku pun tak dapat menunjukan arah yang benar

Lagi-lagi aku tersesat

Dalam kehampaan Jogja , awal Mei 2

Untuk Pak Guru

Pak Guru...

Muridmu ini masih kaku mengeja

Muridmu ini masih kaku menarikan huruf dengan pena

Muridmu ini masih bingung dimana tanda koma diletakan

Muridmu ini masih bingung antara A besar dan B kecil

Tapi itu tak kan penat ku cari

Di kelasmu aku tak sendiri

Tapi jika kau pergi

Akan muncul bejana-bejana kepedihan di hatiku

Pak Guru...

Dapatkah kau dengungkan aku ?

Tentang sebuah negeri yang literat ?

Bolehkah aku meminta info tentangnya ?

Karena aku dan kau, guru dan murid

Kita bergumam bersama

Tentang esensi sebuah karya

Sebuah karya dalam negeri literat

Jogja, Januari 2006


006

Kota Biru untuk Guruku


o/ tiwi

Suasana pagi ini berjalan seperti biasanya. Meski pagi berjalan seperti biasanya, tidak demikian dengan suasana hati Pak seto. Jam dinding di ruang tamunya baru menunjukkan pukul enam kurang seperempat. Pagi itu matahari telah bersinar dengan berani seperti menantang kegelisahannya, kegelisahan seorang guru yang dibatasi haknya. Pandangannya menerawang sambil sesekali meneguk kopi buatan istrinya. Asap rokok yang dihembuskannya menari mengikuti orkes pagi kala itu; teriakan sejumlah pedagang sayur dan roti, kicauan kutilangnya di halaman kontrakan dan deru mesin mobil yang dipanaskan. “Aku harus bergegas berangkat mengajar,”

Pak seto beranjak ke ruang tengah, melewati ruang tamu. Terlihat si Buyung sarapan sambil menonton televisi. Putra semata wayangnya itu sebentar lagi harus melanjutkan sekolah menegah pertama, sekolah zaman sekarang tentu membutuhkan biaya tinggi. Dengan gaji bulannnya yang hanya sedikit tentu makin memberatkan beban keuangan rumah tangganya. Guru, pahlawan tanpa apa-apa. Pak seto kembali gamang. Sambil menikmati makan paginya, Pak seto mendengarkan siaran berita Radio Republik Indonesia (RRI) tentang pembangunan gedung-gedung perkantoran baru yang mendapat banyak dukungan dari para investor. Setelah berita itu disiarkan, terdengarlah dendang selingan berjudul Jakarta City Blues “Pagi-pagi… udah polusi… naik bis kota… salip kiri kanan bikin jantungan, itu sudah biasa… Jakarta city blues…” Ah, syair itu sebiru keresahannya saat ini.

Tepat pukul enam pagi, setelah berpamitan pada istrinya, Pak seto memacu sepeda motornya dan beranjak meninggalkan perkampungan padat penduduk di barat daya Jakarta. Kampung itu selalu terlihat sama meski sudah belasan tahun ditinggalinya; rumah-rumah kecil yang berjubel di gang sempit, selokan yang mampat dan berbau tak sedap, serta tumpukan sampah yang belum diangkut. Pandangannya yang berkonsentrasi dengan keramaian jalan masih menerawang. “Sinting! Menuntut transparansi iuran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang telah dibayarkan saja berbuntut gajiku diturunkan,” Umpatnya.

Bus kota yang merayap di kiri dan mobil sedan di kanan menjebak Pak seto di kemacetan. Keadaan ini selalu memaksanya cari celah untuk menyalip. “Sreeeet” terdengar bunyi stang motor yang tak sengaja bergesekan dengan pintu sedan bercat ungu. Bunyi itu diikuti klakson panjang dan umpatan sang pemilik mobil. Pak seto mengacukannya. Ia memacu motornya makin kencang.

***

Pak seto menghelakan nafas panjangnya setelah letih mengoreksi lembar jawaban essay ulangan mata pelajaran Bahasan Indonesia yang diampunya. Meski melelahkan, Pak seto lebih suka memberikan soal dengan model jawaban essay daripada pilihan ganda. Jika karangan murid dinilainya bagus, jawaban muridnya logis, dan mempunyai landasan ia memberikannya nilai tambah.

Pak seto percaya, muridnya tetaplah manusia yang punya daya kreasi dengan ciri khas kemampuan dan tak ingin dibatasi dalam berpendapat. Dari kepercayaannya itu ia mempersetankan konsep UAN yang memukul rata parameter keberhasilan siswa. Ia sering mengungkapkan kegelisahannya itu melalui rapat guru dan sejumlah tulisan di surat kabar. Celakanya, daya kritisnyalah yang membuat hubungannya dengan beberapa teman seprofesi dan Pak Wardoyo, sang kepala sekolah menjadi tak terlalu baik. Apalagi ditambah ulahnya tempo hari yang mempelopori teman seprofesinya untuk meminta transparansi iuran PGRI yang kemudian berakibat gajinya dipotong.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa forum PGRI di wilayah Pak seto justru berfungsi menindas para guru yang kritis. Pengurus PGRI yang juga menjabat di dinas pendidikan sering melakukan kolusi dengan menurunkan tunjangan guru atau biasanya memindahkan ke daerah terpencil. Seperti tradisi zaman orde baru, semua ini dilakukan untuk menyingkirkan ‘pengacau’ dan melanggengkan kekuasaan orang-orang yang duduk di dinas. Pak Wardoyo juga termasuk dalam golongan pejabat dinas.

Sebelum Pak Wardoyo, jabatan kepala sekolah diisi oleh Pak Sukardi. Saat itu, Pak Wardoyo dipastikan terpilih karena pemilihan diselenggarakan dari pusat yang sangat dekat dengannya. Kepala sekolah yang baru diangkat dapat melakukan kontrol terhadap segala sesuatu di sekolah itu. Begitulah aturannya. Pak Wardoyo kemudian mendapat sejumlah daftar tipe guru-guru di sekolah itu dari Pak Sukardi. Daftar itu mencakup tipe guru yang ‘baik’ dan suku ‘menjilat’ hingga guru yang ‘mengancam kestabilan sekolah’ seperti Pak seto. Daftar tersebut memberi semacam lampu kuning bagi kepala sekolah dalam menaklukan guru. Jika guru belum bisa ditaklukan maka kepala sekolah ‘berhak’ menempuh cara-cara menekan lainnya.

***

“Teeet… teeet… teeet,” bel sekolah yang menjerit tiga kali menandakan waktu istirahat makan siang bagi seluruh penghuni sekolah tempat Pak seto mengajar, terkecuali Lik Sri, karyawan kantin sekolah itu. Perantauan Lik Sri dari Wonogiri membimbingnya bekerja ke salah satu sektor usaha informal kota metropolis ini. Setiap siang, kesibukannya dimulai dengan menyiapkan bermangkuk Soto, makanan ringan dan sejumlah minuman. Bau harum masakannya tercium dari ruang guru. Aroma sedap itu memberikan alasan bagi siapapun untuk antre memesannya. Demikian pula Pak seto. Ia beranjak dari mejanya setelah lelah mengajar murid-murid dan memeriksa setumpuk lebar jawaban essay.

“Pesan apa Pak?” Tanya Lik Sri

“Soto dan air es saja, tolong diantarkan ke ruang guru saja” Jawab Pak seto

“Ck… ck… Pak Pak seto ini, saking sibuknya sampai makanpun disambi di ruang guru, sudah sibuk dan jelas gajinya begitu kok masih macam-macam, apa gajinya kurang Pak? Heheheh… Wealah, sekalinya macam-macam kok gajinya dipotong,” Sindir Lik Sri sambil sibuk menaruh taoge dalam mangkuk.

Pak seto hanya tersenyum mendengarkan komentar Lik Sri sambil berlalu meninggalkannya. Ia menuju musola sekolah untuk melaksanakan kewajiban kepada Tuhan dalam keyakinannya.

Soto dan air es yang tadi dipesan, tandas di makannya. Dari pintu masuk, Pak seto melihat Ibu guru Mun berjalan ke arahnya. “Pak Pak seto, dimohon oleh Pak Wardoyo untuk menghadap ke ruangannya,” pinta Bu Mun. Pak seto kemudian hanya menganggukkan kepala saja. Ia berjalan dengan pasti menuju ruang kepala sekolah sambil menduga-duga petaka apalagi yang akan didapatnya.

“Berkaitan dengan beberapa aksi yang diperbuat Pak Pak seto kemarin, maka, Musyawarah Kepala Sekolah (MKS) memutuskan untuk memindahtugaskan Bapak ke salah satu kabupaten di Tasikmalaya.” Vonis Pak Wardoyo.

“Tapi, saya merasa tidak melakukan kekeliruan Pak, kenapa saya dihukum seperti ini?” tukas Pak seto

“MKS tidak menuduh anda melakukan kekeliruan dan tidak bermaksud memberikan hukuman atas kekeliruan itu, kami hanya ingin mengirim satu tenaga guru kesana, keputusan ini sudah final, tak bisa diganggu gugat, yang penting Pak Pak seto tak kehilangan pekerjaan,”

Skak Mat! Mengingat kebutuhan keluarganya yang makin mendesak, pikirannya tak bisa melangkah kemana-mana lagi. Pak seto malas berdiplomasi lagi dengan gaya otoriter macam ini. Minggu depan ia harus segera pindah dengan dipotong gaji pula. Ia merasa semua usahanya sia-sia. Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk kebaikan diri dan keluarganya ia tak akan banyak membuka mulut. Dunia ini tak pernah dimengertinya dan ia harus siap meninggalkan dunia itu.

***

Lima jam sudah Pak seto tak dapat memejamkan matanya. Sebentar-sebentar ia miringkan badannya ke kiri dan kanan. Bola lampu berukuran lima watt yang tergantung di pojok kamar tidurnyanya nampak berkedip-kedip. Mungkin pertanda kawat pijarnya akan putus dan harus diganti. Ambinnya yang berderit setiap ia bergerak meramaikan sunyinya dini hari itu. Nampaknya ambin itu hampir tak kuat menahan berat tuannya. Tak lama kemudian ia menatap istri yang terlelap di sampingnya. Ia merasa kasihan dengan istrinya yang tengah mengandung satu bulan. Ia juga merasa bersalah karena terpotongnya pendapatan meski istrinya mengerti dan tak pernah menuntut macam-macam. .Jika ambin ini tak segera diganti dengan yang baru mungkin ketika usia kandungan istriku sembilan bulan, ambin ini tak akan kuat menahan beban kami lagi. Malam itu Pak seto gelisah. Namun, bukan bola lampu atau ambin yang membuatnya gelisah. Tidak. Bukan Itu.

Pembicaraannya yang terakhir dengan Pak Wardoyo serta pelbagai penolakan atas kegelisahannya selama ini yang merusak akar mimpinya. Ia masih juga tak dapat tidur. Sudah berkali-kali ia membalik bantalnya. Ia juga mencoba menghilangkan pikiran itu, namun tetap tak bisa. “Sinting! Gila!” Umpatnya berkali-kali. Keresahan tentang hal-hal yang tak dimegertinya itu masih saja bertahta di pikirannya. Tak jelas kapan akan bisa dimengerti. Satu hal yang pasti, esok ia akan pindah dari Jakarta bersama keluarganya. Suara petir terdengar bergemuruh. Hujan turun menimbulkan bunyi tuk..tuk.. tuk yang makin lama makin cepat di atap rumahnya.

Pagi ini, banjir melanda perkampungannya. Hujan barang setengah jam saja sudah bisa memaksanya untuk melipat celana panjang hingga selutut. Terlihat dua orang tetangga dekat dan anak Pak seto membantu mengangkat barang-barang ke dalam truk. Sembari melangkah lunglai, lagi-lagi terdengar lantunan tembag Jakarta City Blues “keluar rumah… hujan deras basah kuyup… banjir selutut… itu sudah biasa… Jakarta city blues…” Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan semua keresahannya di Jakarta. Walaupun ia belum lega. Setidaknya ia lega karena meninggalkan kegarangan Jakarta city blues.

Jelajahi Mayantara dengan Perumahan Multimedia

Dialog antar personal kini tak harus dilakukan dengan bertatap muka secara langsung. Jaringan internet atau multimedia membuatnya lebih cepat, murah dan mudah.

Globalisasi membawa pengaruh bagi perkembangan informasi dunia di dasawarsa terakhir. Thomas L Friedman, wartawan The New York Times, mengamini bahwa inti globalisasi adalah kemajuan di bidang teknologi dari internet hingga komunikasi via satelit. Dalam perkembangan hidup bermasyarakat, jaringan multimedia dapat menjadi pembentuk sebuah ruang bertemu yang baru dan menjadi ajang bergaul bagi masyarakat perumahan yang makin individualis. Kemajuan teknologi informasi membawa perubahan besar di segala bidang.

Bisnis yang sukses bisa jadi tak harus ribet kemana-mana. Hanya dengan rumah berfasilitas internet, semua transaksi dapat dikendalikan. Warung Internet (warnet) di Daerah Istimewa Yogyakara (DIY) juga menjamur seiring meningkatnya teknologi dan kebutuhan masyarakat. Kafe-kafe berfasilitas hot spot kian diminati. Perkiraan kemajuan teknologi informasi di tahun-tahun mendatang akan makin pesat. Ini diramalkan dari jumlah pelanggan dan pemakai internet per tahun di Indonesia yang makin meningkat (lihat tabel 1). Begitu pula dengan usaha properti di DIY, beberapa developer mulai mengembangkan fasilitas multimedia untuk menjawab tantangan globalisasi.

Merapi Regency, proyek yang dikembangkan oleh PT Sarwo Indah menjadi pelopor perkembangan perumahan multimedia di DIY. “Kita punya konsep integrasi. Jadi, semua fasilitas bisa diakses dengan mudah lewat jaringan multimedia,” Ungkap Abdul Aziz, ST selaku manajer marketing ketika membuka pembicaraan dengan Rumah Jogja (RJ). Developer yang telah 12 tahun berkecimpung di dunia properti ini memanfaatkan teknologi hot zone dengan Motorola Canopy Wireless. Perangkat wireless tersebut menjangkau lebih dari 10 km dan bandwidth sebesar 10 mbps/second sehingga seluruh rumah mampu saling terhubung dalam Local Area Network (LAN). Perumahan yang terletak di utara DIY ini juga dilengkapi dengan televisi kabel, VoiP (jaringan telepon tanpa pulsa), swalayan online, kamera CCTV, dan kafe berfasilitas hot spot. Anda tak perlu khawatir jika suatu saat terjadi sesuatu dengan rumah anda karena perumahan ini telah diasuransikan.

Selain Merapi Regency, The Residence sebagai proyek yang dikembangkan PT Tiga Saudara Group di barat DIY kini juga bergerak mengikuti perkembangan. Cyber Residence @ West sebagai jargon yang diusung makin diperkuat dengan fasilitas gratis abonemen internet, VoiP, Data Center for Community, Data Exchange InterHouse, Hot Spot Wi-Fi di setiap rumah, aplikasi PerumNet untuk aktivitas sehari-hari dan multimedia steraming. Adanya jaringan lokal yang menghubungkan antar rumah berguna bagi warga yang tak pernah bersosialisasi. Sehingga, ia tetap memperoleh informasi dan kesempatan untuk bersosialisasi antar penghuni perumahan. Andre, sang manajer marketing, menyatakan bahwa fasilitas ini dikembangkan untuk mendukung perkembangan DIY sebagai kota pelajar. Arahannya tentu mempermudah akses informasi tanpa batas.

Developer juga tetap melengkapi perumahan yang dikembangkannya dengan fasilitas lainnya seperti The Residence dengan kolam renang, jaringan listrik bawah tanah, sarana ibadah, coffee shop, dan taman bermain. Tempat hunian yang strategis juga menjadi kemudahan tambahan yang diusung developer. Hal tersebut dilakukan agar mobilitas konsumen makin lancar. Menurut Andre, tanggapan konsumen terhadap fasilitas perumahan multimedia beragam. Ada beberapa konsumen yang suka terhadap tren bangunan, umumnya mediteranian yang paling diminati, atau keterjangkauan lokasi dengan pusat-pusat bisnis, pendidikan dan pemerintahan. Namun, ada pula yang benar-benar tertarik dengan fasilitas multimedia. Ini diamini oleh Abdul Aziz, ST, bahwa beberapa konsumen memang mengapresiasi fasilitas multimedia tersebut.

Tren model perumahan mediterania pada umumnya menjadi tren yang diangkat perumahan multimedia. Secara arsitektur, model perumahan tak banyak memberi pengaruh pada penempatan fasilitas multimedia. Amri, ST, arsitek, menyatakan bahwa sistem jaringan global yang digunakan bersifat teknis dan instalasi jadi tak membawa banyak pengaruh pada arsitektur perumahan. “Desain fleksibel, bisa ditambah ruang khusus di dalam, tapi tetap memperhatikan aspek keindahan dan konstruksi bangunan,” imbuhnya.

Peningkatan pelanggan dan pemakai jasa internet membawa dampak positif pula bagi perkembangan jumlah konsumen perumahan multimedia DIY. Apalagi konsumen merasa lebih nyaman dan tak dibatasi jika mengakses internet dari rumah. Menurut Andre, jumlah pembeli di kawasan The Residence terus mengalami peningkatan dalam setahun ini. “Dalam enam bulan ini, 25 unit telah terjual,” tambahnya. Mengenai dinamika jumlah konsumen ini dipengaruhi beberapa faktor. “Salah satunya di bulan-bulan libur seperti tengah tahun, atau idul fitri biasanya terjadi peningkatan konsumen.” Abdul Aziz, ST menjelaskan.

Sebelum anda memutuskan membeli perumahan multimedia, sebaiknya pertimbangkanlah hal-hal berikut ini; legalitas bangunan, fasilitas yang benar-benar anda butuhkan, keterjangkauan terhadap fasilitas publik dan harga. Beberapa developer di DIY tampaknya benar-benar berkomitmen dalam mengurus legalitas bangunan seiring perkembangan regulasi IMB dan pertanahan di pemerintah. Mengenai harga, di Merapi Regency dan The Residence menawarkan variasi berdasar luas bangunan dan fasilitas di dalamnya. Umumnya, penawaran harga mulai Rp. 300. 000. 000, 00.

Perkembangan teknologi multimedia di tahun-tahun mendatang nampaknya menjadi stimulan bagi para developer untuk mengembangkan proyeknya di sektor multimedia. Seperti halnya PT . Tiga Saudara Group yang berencana mengembangkan perumahan ke selatan DIY. Pun, dengan Merapi Regency yang akan terus dikembangkan.

Ketika ruang nyata terasa sulit untuk ditembus, kini semuanya dapat begitu mudah dimasuki melalui dunia maya. Dunia maya yang terhubung melalui jaringan multimedia membuat anda dapat memasuki ruang maya sembari melakukan satu aktivitas lain di dalam rumah. Lebih nyaman dan praktis bukan? (Tiwi)

Tabel 1Jumlah Pelanggan dan Pemakai Internet di Indonesia sepanjang 1998-2004

(Sumber: www.APJII.or.id)

Tahun

Jumlah Pelanggan

Jumlah Pemakai

1998

134. 000

512. 000

1999

256. 000

1. 000. 000

2000

400. 000

1. 900. 000

2001

581. 000

4. 200. 000

2002

667. 002

4. 500. 000

2003

865. 706

8. 080. 534

2004

1. 300. 000

12. 000. 000

Alternatif Tempat Usaha nan Praktis


Rumah toko (ruko) kini mulai merambah investasi properti. Tak hanya berfungsi sebagai toko, bentuk bangunan yang serbaguna membuatnya makin disukai.

Ruko bisa jadi investasi properti yang cukup menjanjikan. Terlebih di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seiring dengan peningkatan jumlah bangunan rumah, banyak developer yang melengkapi fasilitas perumahan dengan ruko. Apalagi dengan belum banyaknya bisnis ruko di DIY. Ruko kemudian makin dilirik oleh para usahawan.

Sesuai dengan istilahnya, ruko dapat berfungsi sebagai rumah atau gudang sekaligus toko. Seperti yang diungkapkan Delvi Umar, pengelola ruko perlengkapan muslim Kiswah di kawasan jalan Ring Road utara, “Usaha di sini sangat praktis, ruang belakang saya fungsikan sebagai gudang, lagipula lokasinya strategis” ujar pria yang memulai usahanya sejak 2005 ini. Ia juga menambahkan bahwa, perbedaan harga ruko di tempat satu dengan yang lain menuntut pemilik usaha pandai dalam mengelola harga barang yang dijual di ruko. Ia mempunyai dua ruko dengan usaha yang sama, namun harga kedua ruko tersebut berbeda. Ia tentu harus mengatur bagaimana menyamakan harga dalam kondisi harga faktor produksi, dalam hal ini ruko berbeda. “Saya tak terlalu sulit dalam mengatur harga barang dagangan, karena selisih harga ruko tak terlalu banyak”, jelasnya. Selain serbaguna, harga sewa ruko yang lebih murah daripada perkantoran merangsang minat usahawan untuk berbisnis di tempat ini.

Harga jual ruko biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain, nilai produksi, objek tanah, legalitas, dan lokasi. Merespon hal tersebut, Iwan Hari Z, S. E, manajer pemasaran Cokro Square menyatakan bahwa nilai produksi biasanya yang paling berpengaruh. Dalam regulasi pembangunan ataupun izin usaha, menurut Iwan, pemerintah DIY sangat mendukung dan memberi kemudahan, “Pembuatan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) cepat, tak banyak dipersulit, hitungannya setiap tiga bangunan memiliki satu IMB, jadi lebih ringkas”, ujarnya. Pernyataan Iwan Hari Z, S, E, juga diamini oleh Delvi Umar, “Untuk pemilik ruko seperti saya izin usahanya tak terlalu dipersulit, ini dulu perizinannya terpadu, jadi lebih cepat perizinannya”, terangnya.

Tak hanya nilai produksi dan legalitas, lokasi yang strategis juga mempengaruhi harga jual ruko. Lokasi yang strategis akan sangat mendukung usaha. Herman Budi Setioko, ST, manajer pemasaran Sumber Baru Land, menjelaskan bahwa ruko yang dipasarkan di setiap kawasan DIY memiliki perbedaan harga, tergantung lokasi ruko. Selain itu, ia menambahkan, dinamika harga ruko dipengaruhi oleh waktu pembelian. Misalnya ada dua periode pembangunanan, para pembeli pada periode pertama biasanya dapat membeli ruko dengan harga lebih murah daripada pembeli ruko periode kedua. “Ini wujud pelayanan kami terhadap pembeli di periode pertama, agar mereka merasa diuntungkan”, tambahnya.

Pembangunan rumah atau toko di DIY memang menguntungkan. Harga jual tanahnya bisa meningkat tajam dalam lima tahun ke depan. Khusus untuk ruko, perkembangan penjualannya stabi. Meskipun demikian, beberapa developer seperti Cokro Square dan Sumber Baru Land tetap berencana membagun ruko di kawasan strategis DIY seperti, jalan HOS Cokroaminoto, jalan Hayam Wuruk, Lempuyangan, Patangpuluhan, Ring Road, Godean, Giwangan, hingga Seturan. Beberapa peluang usaha yang bisa dikembangkan di wilayah ini antara lain perkantoran, toko buku, minimarket, fitness center, bengkel, optik, hingga restoran. Kebanyakan, lokasinya memang di pinggiran kota karena bisa jadi perkembangan infrastruktur di daerah perkotaan makin mahal dan terbatas.

Untuk menambah kepercayaan pembeli, developer pun harus bersikap professional termasuk dalam urusan struktur bangunan. Iwan Hari Z,SE mengamini hal ini “Kebanyakan ruko berlantai dua atau tiga, untuk itu struktur dan pondasi bangunan tak boleh asal, kebetulan, pasca gempa DIY tahun lalu, ruko kami mendapat label sebagai bangunan layak pakai, layak huni dan layak jual”, ujarnya.

Konsep bangunan yang sedang marak saat ini seperti konsep western menjadi salah satu pertimbangan pembeli sebelum membeli ruko. Meski tak memberi banyak pengaruh pada kesuksesan bisnis di ruko, konsep bangunan mampu menambah nilai estetika di dalamnya. “Dari segi estetika, model ruko yang mengarah pada model Eropa tak termakan usia” terang Herman Budi Setioko, ST. Tren bangunan model Eropa ternyata mampu bertahan lebih lama dibandingkan dengan tren bangunan modern minimalis. Terlepas dari hal tersebut, kebutuhan akan fungsi menjadi hal utama yang tetap dipertimbangkan pembeli.

Sebelum anda memilih ruko yang hendak dibeli, sebaiknya, perhatikanlah hal-hal berikut. Pertama, pilihlah lokasi strategis. Lokasi dimana banyak terjadi transaksi bisnis, dilalui banyak orang dan aksesnya mudah. Kedua, perhatikan apakah fungsi ruko sudah sesuai dengan apa yang diinginkan, seperti kebutuhan akan toko, tempat tinggal, gudang, tata letak atau tempat parkir. Ketiga, legalitas ruko, ini mencakup status tanah, IMB, roi jalan. Roi jalan haruslah sesuai dengan tata ruang kota, jika tidak, ini akan mengganggu kepentingan pengguna jalan dan akan ditindak oleh pemerintah DIY. Keadaan ini dibenarkan oleh Herman Budi Setioko, ST, “Legalitas ruko memang salah satu hal yang diutamakan Sumber Baru Land agar pembeli merasa aman”, tandasnya.

Dari beberapa komplek ruko di daerah Seturan dan Ring Road, kebanyakan milik perorangan yang sengaja investasi ruko. Ini sebagai pertanda bahwa partisipasi masyarakat DIY dalam investasi meningkat. Dilihat dari segi investasi, maka ruko di tempat srategis juga bisa memiliki nilai investasi yang cukup tinggi untuk disewakan atau dijual kembali. Rencana

Thursday, September 13, 2007

Menguak Potensi Bisnis pada Bangunan Kuno

Berbisnis sekaligus Melestarikan Nilai Sejarah, dan Budaya: Anda Mau Coba?

Siapa yang tak takjub melihat nilai sejarah dan keunikan bangunan kuno yang masih terjaga? Tengok saja daerah Kotagede, Baciro, Kotabaru ataupun Sagan (kawasan kota kuno Yogyakarta). Beberapa diantara bangunan kuo tersebut masih terawat dan terlihat baik, bahkan ada yang diadaptasikan dengan menambah unsur modern. Bangunan kuno mencerminkan perjalanan identitas sebuah kota. Kotagede misalnya, pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram pada tahun 1577 oleh Ki Ageng Pamanahan. Ia menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa yang terjadi dalam sejarah Daerah Istimewa Dogyakarta (DIY). Menghancurkan bangunan kuno berarti turut pula menghancurkan sejarah dan identitas sebuah kota.
Meski terkesan ketinggalan zaman, bangunan kuno ternyata memiliki beberapa potensi bisnis. Ini dibuktikan oleh beberapa pemilik usaha di Yogyakarta yang menggunakan bangunan kuno sebagai tempat menjalankan usahanya. Beberapa bangunan merupakan bisnis keluarga. Buah dari keberanian menanggung resiko, keuletan dan siasat kreatif, usaha mereka makin menguntungkan. Selain mendatangkan keuntungan, memfungsikan bangunan kuno sebagai tempat usaha juga dapat melestarikan warisan budaya.
Menurut Titi Handayani, Direktur Eksekutif Jogja Heritage Society (JHS), dalam istilah konservasi, alih fungsi bangunan diistilahkan dengan adaptivius, yakni penyesuaian fungsi bangunan untuk masa kini. Salah satunya, tempat usaha. Konservasi bukan berarti mengawetkan, namun perlu juga perkembangan. Salah satu alasan mengapa si pemilik rumah ingin merubah fungsi rumah, yakni pemilik merasa bahwa bangunan tidak berguna lagi jika difungsikan seperti fungsi lama.
Wujud alih fungsi bangunan kuno menjadi tempat usaha dapat kita lihat salah satunya di kerajinan dan toko perak Ansor’s Silver, Kotagede. Kotagede merupakan kota yang terkenal dengan kerajinan peraknya di Yogyakarta. Memasuki showroom Ansor’s Silver bagai kembali pada suasana Jawa zaman dahulu. Arsitektur bangunannya merupakan perpaduan antara bangunan Belanda berdinding tebal dan pendopo Jawa dengan ornamen wayang. Iringan gamelan makin menambah kental suasana tradisional. Menurut Udjang Simbara, direktur Ansor’s Silver, Bapak Ansor Kartoutomo, pemiliknya, tertarik dengan keunikan arsitektur bangunannya. Lalu bangunan itu dibeli dan dijadikan showroom kerajinan perak pada tahun 1994. Tempat ini kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Usaha perak dipilih karena sang pemilik ingin memperkuat citra daerah perak Kotagede. Jika dilihat dari segi arsitektur, bangunan ini tergolong bangunan yang dibangun pada tahun 1800-an. Sang pemilik berniat melestarikan bangunan tua itu. Pelestarian ini dibuktikannya tanpa mengubah bentuk dan konstruksi bangunan, ia hanya menambahkan beberapa ornamen semipermanen, melakukan pengecatan berkala dan menambahkan cor agar bangunan bertambah kokoh.
Pun demikian dengan Irsyam Sigit Wibowo, pemilik resto Omah Dhuwur, Kotagede. Menurutnya, suasana bangunan kuno berpotensi sekali untuk dijadikan tempat bisnis. “Saya beli tempat ini sekitar tahun 2000 atau 2001. Konstruksi tidak banyak yang diubah, soalnya mengurangi nilai. Disini yang diunggulkan memang suasananya. Bagi pemilik bangunan kuno, mbok ya kalau bisa dikembangkan saja untuk usaha jika sudah tak berniat meninggali, sayang kalau dibiarkan tak terawat” ujar pegiat komunitas motor besar ini. Mengembangkan bangunan kuno menjadi tempat usaha juga memerlukan siasat kreatif, diantaranya mengenai tata letak ruangan. “Bangunan ini dulunya rumah, untuk mengalihfungsikannya menjadi resto ya butuh siasat” tukasnya. Suasana asri dan pemandangan kolam yang dapat dinikmati dari atas resto menambah kesan santai. Lebih lanjut, pak Irsyam, begitu kemudian pemilik bisnis keluarga ini disapa, menyayangkan tingginya pajak bumi dan bangunan (PBB) yang diterapkan pemerintah DIY. “Biaya perawatan bangunan ini mahal, kalau bisa PBB nya mendapat diskon. Lagipula yang saya lakukan ini juga termasuk merawat warisan budaya.” Ujarnya.
Menanggapi mahalnya PBB bagi pemilik bangunan kuno, Titi Handayani, menyatakan, hal ini sedang diperjuangkan oleh JHS. Namun, belum ada respon dari pemerintah DIY. “Kalau ingin ada yang melestarikan bangunan, ya pemerintah harus memberi insentif, setidaknya pemotongan pajak yang signifikan. Di negara lain malah ada yang digratiskan dari PBB. Di Indonesia, khususnya DIY memang ada peraturan mengenai pemotongan 25% bagi pemilik, itu menurut saya masih telalu sedikit, yang saya sayangkan lagi, banyak masyarakat yang belum tahu prosedur mendapatkannya, pemerintah juga belum punya data mengenai bangunan mana yang layak disubsidi” ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dr. Ir. Arya Ronald, dosen jurusan teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), “Saya setuju kalau disubsidi, PBB bisa dihitung dari luas lahan, jenis rumah dan bangunan di kelas mana, kemudian dimasukan kedalam sebuah rumus. Ketika ada warga negara yang melestarikan bangunan kuno maka harus ada keringanan. Di Belanda, negeri yang lebih menghormati warisan budaya, memberi subsidi untuk perawatan.” Tambah akademisi yang akan menelurkan buku berjudul Gemulai Arsitektur Jawa ini.
Pambudi Narotama, pemilik dan pengelola Indraloka Homestay di kawasan Sagan, memiliki pandangan lain tentang PBB yang dipungut pada pengelola bangunan kuno. “Keluarga saya merawat dan memang tak berniat mengubah kekhasan konstruksi bangunan. Diubah paling hanya 20 %, itu pun tidak permanen. Tempat yang dibangun pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930 ini pernah disurvei oleh Dinas Purbakala. Bangunan ini mendapat subsidi sebesar 40 hingga 60 % untuk perawatan. Setahu saya yang mendapat subsidi hanya bangunan ini dan Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 (SMP N 1) Yogyakarta.” Ujar desainer interior ini.
Ada sejumlah tips dalam mengembangkan alih fungsi bangunan kuno menjadi tempat usaha. Tips ini antara lain dikemukakan Titi Handayani, menurutnya, untuk memperkuat tembok bisa dengan memlesternya. Ia juga memberi peringatan agar jangan mengganti jenis ataupun bentuk kayu. “Kayu bangunan kuno, biasanya Berkualitas kebih baik, kalau di cat nanti teksturnya bisa hilang. Selain itu ciri khas bangunan. Contohnya, Baudanyang di Kotagede jangan dihilangkan” ujar dosen yang mengajar di Akademi Teknik Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (AT YKPN) ini. Tampaknya, anjuran pelestarian ini dilakukan pula di Gabah Resto yang terletak di kawasan Sagan. “Kita tidak mengubah konstruksi sama sekali, buktinya, mantan penghuni yang orang Belanda, sudah lama tidak ke sini, namun sekalinya bertandang kemari masih hafal benar tempat ini” ujar Dani Kurniawan, Finance Supervisor Gabah Resto. Peringatan lain juga disampaikan oleh Dr. Ir. Arya Ronald, yakni agar tidak mengubah dan mengurangi jendela dan ventilasi. “Bangunan berongga itu lebih kuat. Lagipula, jendela menunjukan pemiliknya welcome, tidak asosial. Arsitektur tanpa ada nilai humanisnya akan hambar” tambah kakek empat cucu ini. Dari sudut pandang sosial, Titi Handayani mengungkapkan, begitu bangunan menjadi lebih public maka konsekuensinya akan banyak dikunjungi orang luar, pemilik harus memikirkan dampak sosial, misalnya, jika di dekatnya ada masjid dan lingkungan sekitar penduduknya mayoritas santri, jangan mengembangkan diskotek.
Jargon DIY sebagai kota budaya dapat terwakili oleh pelestarian bangunan kuno dan tradisionalnya. Ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan jika masyarakat dan pemerintah mau peduli dan kerjasama dalam pengembangannya. Usaha pribadi dalam sektor ini jelas menguntungkan, karena memiliki nilai tambah yakni nilai seni, sejarah dan budaya. Jadi, mari berbisnis sekaligus melestarikan budaya! [Tiwi]

(Resensi buku) Perjalanan Panjang Sang Petualang

Identitas Buku:

Judul Buku : Edensor
Pengarang : Andrea Hirata Seman
Penerbut : Klub sastra BENTANG
Jumlah hlm : 288 hlm
Waktu terbit : Mei 2007



Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu…

Buku ini merupakan buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi, setelah buku pertamanya yang berjudul Laskar Pelangi dan buku keduanya yang berjudul Sang Pemimpi. Cerita berawal dari perjuangan meraih impian sepuluh anak yang terjalin melalui pertemanan di sebuah sekolah terpencil di Belitong. Ikal, salah satu anak kampung yang cerdas, gigih dan nakal menjadi tokoh utama yang dikisahkan penulisnya. Kenakalannya sempat membuat gamang orang tuanya karena, ia sempat mencuri hidangan berbuka puasa di masjid dan menyuruh adiknya bernyanyi Indonesia Raya keras-keras di depan pengeras suara masjid. Agaknya penulis ingin mengungkapkan pengalaman hidupnya yang luar biasa lewat tetralogi Laskar Pelangi.
Di novel yang ketiga, Andrea Hirata mengisahkan perjalanan hidupnya setelah lulus SMA, bekerja sambil kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, dan akhirnya melanjutkan studi strata duanya di Eropa sambil menjadi backpacker sejati, istilah untuk petualang yang hanya mempunyai bekal dan peralatan terbatas di tas punggung. Dalam petualangannya, Ikal juga berniat menemukan A Ling, si anak Hokian yang menjadi pujaan hatinya. Bersama sepupunya, Arai, yang juga menempuh studi di tempat yang sama, si Ikal melalui hari-harinya yang penuh kejutan di Eropa. Di masa kecilnya, Ikal bermimpi mengenai petualangan ke Eropa dan untuk mewujudkan impiannya itu, ia akhirnya berhasil lolos seleksi beasiswa strata dua ke Eropa. Ikal, yang berlatar belakang ekonomi dari sebuah keluarga kampong Belitong yang miskin, ternyata mempunyai semangat hidup dan kecerdasan yang luar biasa. Meski ia hanya disekolahkan di sekolah muhamadiyah yang miskin, namun hal tersebut tak menghalanginya tuk menemukan ilmu pengetahuan dan pengalaman menakjubkan.

Membaca novel ketiga ini kurang lengkap jika belum membaca novel sebelumnya. Di novel sebelumnya, diceritakan dengan menyentuh mengenai kondisi pendidikan yang memprihatinkan di daerah terpencil saat itu. Kondisi pendidikan yang tak lain akibat dari sentralisasi pendidikan orde baru yang tak memperhatikan beragamnya jenis budaya di Indonesia. Tak lupa, Andrea Hirata menambahkan beberapa tokoh yang patut dikagumi seperti Ayahnya, gurunya dan kedelapan tema-temannya memiliki pribadi inspiratif. Deskripsi tiap bab dalam novelnya disajikan dengan jenaka, mengharukan dan cerdas. Istilah kimia, biologi, ekonomi dan astronomi yang beradu dengan karya sastra dibubuhkannya dengan bumbu tepat sehingga membuat pembaca terbius larut dalam petualangan hingga tak terasa kita telah menyelesaikan salah satu novel.

Sebuah tetralogi melayu gaya baru coba dituturkan Andrea lewat karyanya kali ini. Tanpa harus melabelkan diri dengan ‘sastra islami’ , nilai-nilai humanisme dalam ajaran islam ditonjolkan penulis di tiap bagian novelnya. Saat pembaca bosan dengan tema novel cinta picisan atau novel dengan bau metropop, Andrea mampu menghadirkan sensasi 'keindonesiaan' baru dalam Edensor. Judul Edensor diambil dari sebuah nama desa khayalan dalam novel milik A Ling yang masih dipegangnya. Bagi anda yang mengaku penggemar sastra jangan dulu mencibir karya yang mendapat banyak apresiasi dari banyak sastrawan senior ini. Cobalah, maka anda akan tersenyum getir hingga menitikan air mata haru lewat sajian sastra Andrea Hirata kali ini. Setelah itu, anda akan mengakui keindahan karyanya dan tak sabar membaca novel keempat. (tw)

(Resensi buku) Pendidikan Multikultural: Sebuah Pembebasan (kah?)

Identitas Buku:
Judul : ‘Emoh’ Sekolah: Menolak Komersialisasi Pendidikan dan Kanibalisme Intelektual, Menuju Pendidikan Multikultural
Penulis : Dr. Ainurrofiq Dawam, M. A
Penerbit : INSPEAL PRESS
Waktu Terbit : Agustus 2003 (cetakan pertama)
Jumlah Halaman : 182 hlm



Hasil belajar di sekolah formal bukanlah harga mati keberhasilan pendidikan

Di salah satu daerah Sulawesi, seorang guru ditugaskan mengajar baca tulis bagi anak didiknya. “Ini Ayah” seru sang guru. Ayah divisualisasikan layaknya seorang laki-laki yang menenteng tas kantor, memakai kemeja dan dasi di tubuhnya. Mendengar seruan guru tersebut, salah satu anak didik protes dan berteriak “TIDAK! Itu bukan ayah saya. Ayah sudah meninggal dan ia ada di atas bukit!” Protes si anak Toraja itu. Untuk meyakinkan sang guru, anak itu naik ke atas bukit dan membongkar makam ayahnya. Pembongkaran makam tentu menggemparkan suasana kampong Toraja saat itu. Akhirnya, anak tersebut dipaksa oleh penduduk dan tetua adat melakukan upacara meminta maaf bagi roh leluhur. Begitulah gambaran salah satu film karya Garin Nugroho yang mengesankan bahwa sentralisasi pendidikan formal ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan anak didik di negara multikultur seperti Indonesia.
Sentralisasi pendidikan dikonstruksikan melalui paradigma pembangunan developmentalisme. Paradigma ini berpandangan bahwa kesuksesan pembangunan hanya diukur dari perkembangan ekonomi dan industri. Akibatnya, konsep pendidikan yang dicanangkan pemerintah pun mengarah pada hal-hal praktis. Konsep ini dijalankan dengan penyamaan kurikulum tanpa memperhatikan kebutuhan anak didik. Sehingga, terciptalah generasi plagiat, tidak kreatif dan kurang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Tak hanya itu saja, Dr. Ainurrofiq Dawam, M.A, juga menelanjangi konsep otonomi kampus yang berjalan di Indonesia saat ini. Otonomi kampus yang juga merupakan pelepasan tanggung jawab negara terhadap pendidikan tunas bangsa. Gambaran demikian menjadi latar belakang Dawam dalam mengungkap masalah dan solusi bagi masalah kebobrokan pendidikan di Indonesia.
Melalui buku ini, penulis mencoba menawarkan jalan keluar dari ‘penjara’ sistem pendidikan Indonesia. Konsep pendidikan multikultural menjadi filosofi inti litreratur ini. Konsep ini lahir karena pada dasarnya manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki cipta, rasa, dan karsa beragam. Untuk memperkuat argumennya, Dawam mengungkapkan beberapa pendekatan psikologis. Penulis menganggap bahwa sistem pendidikan formal yang selama ini berjalan di Indonesia belumlah dapat mendukung perkembangan kecerdasan manusia yang berbeda. Kecerdasan manusia mencakup linguistik, logika matematika, fisik, lingkungan alam, interpersonal maupun intrapersonal. Aspek kecerdasan ini justru diacuhkan pemerintah dengan struktur institusional pendidikan. Paulo Freire, dalam bukunya Pedagody of the Oppressed, mengungkapkan bahwa sistem pendidikan dengan struktur institusional hanyalah akan menindas rakyat kecil. Ada kepala sekolah, guru, yang membuat parameter keberhasilan tertentu hingga memaksa meridnya menghafal, mendengar tanpa memberi kesempatan bagi jalannya proses kreativitas anak didik.
Dengan penyampaian kritik persuasif, Dawam tak hanya menjelaskan konsep pendidikan multikultural, tetapi ia juga mengungkap pelbagai model paradigma pendidikan yang tengah berkembang di Indonesia. Sayang, penjelasan yang terlalu romantis dan teoritis justru belum mencerminkan jalan keluar konkrit. Namun, jangan lewatkan buku ini jika anda mengaku akademisi atau pemerhati pendidikan. Bisa jadi, buku ini merangsang wacana baru mengenai pendidikan. Setuju? (tw)

(Resensi buku)Perantauan yang Sarat Tikungan

Judul Buku : Jalan Menikung Para Priyayi 2
Penulis : Umar Kayam
Jumlah Halaman : 184 + IX hlm
Penebit : Pustaka Utama Grafiti kerjasama dengan The Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI
Tahun Terbit : 2002 (cetakan keempat)


Hidup bagaikan semangkuk penuh bermacam buah cherry, ada yang manis, masam bahkan hampir busuk. Maka, kita selalu untung-untungan dalam mencomotnya.
(hlm 4)

Kondisi Indonesia di awal masa orde baru yang sarat kekerasan dan pembunuhan karena ketakutan pemerintah terhadap komunisme menjadi setting awal yang dihadirkan Umar Kayam. Harimurti, seorang yang lahir di tengah keluarga besar Jawa yang terpandang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Ia diceritakan pernah terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Isu ini kemudian membawanya ke dalam bui. Namun, Pakdhe Nug, kerabatnya yang seorang petinggi pemerintahan, berhasil menyelesaikan masalah ini. Harimurti bebas dari bui dan keselamatannya dijamin asal ia tak bekerja lagi di lembaga pemerintah. Harimurti kemudian menikah dan bekerja di sebuah perusahaan penerbitan.
Diundangnya Harimurti untuk makan siang di sebuah restoran mewah oleh Maryanto, atasannya, ternyata bukan pertanda baik. Perjamuan makan siang itu justru membuat Harimuti kehilangan pekerjaan sekaligus menguak masalalunya. Harimurti ternyata masih diduga pemerintah sebagai orang yang “tidak bersih”. Ia terus dilanda kebingungan karena masa lalunya yang telah usai dan terkubur hadir kembali. Tak ada pilihan lain, ia harus keluar dari pekerjaannya. Jika tidak, perusahaannya akan ditutup pemerintah. Sementara Pakdhe Nug yang dulu pernah menyelamatkan hidupnya telah meninggal. Kecurigaan pemerintah terhadap Harimurti menjadi ketakutan Harimurti jika nanti orang tua, ibu dan anaknya ikut terlibat masalah tersebut. Betapa tidak, seluruh keluarganya akan terus diperiksa dan dicurigai.
Ketakutan Harimurti berbuah larangan pada Eko, anak tunggalnya yang menempuh studi beasiswa di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat (AS), untuk jangan pulang dulu ke Indonesia. Jika Eko pulang ke Indonesia, Harimurti mengkhawatirkan keselamatan Eko. Padahal, Eko berniat secepatnya kembali dan membangun negerinya sendiri. Namun semangat itu terhalang oleh ketakutan pemerintah terhadap keruntuhan kekuasaan. Meskipun dirasakan berat oleh Harimurti dan Suli, istrinya, Eko harus tinggal di AS demi keamanan dan kemajuannya.
Di AS, Eko tinggal bersama keluarga Prof. Samuel D. Levin. Biaya hidup Eko ditanggung oleh keluarga Levin hingga ia menamatkan kuliahnya. Pretasi Eko yang gemilang membawanya bekerja di sebuah penerbit besar, Asia Books. Di keluarga yang menganut kepercayaan Yahudi ini, Eko terpesona pada Claire Levin, putri dari Prof. Levin. Bertahun-tahun waktu yang mereka jalani bersama membuat hubungan mereka makin dekat. Mereka akhirnya menikah karena Claire telah hamil.
Rencana pernikahan mereka telah direstui oleh keluarga Levin. Namun, tidak dengan keluarga Eko di Indonesia. Kabar pernikahan yang dikirimkan melalui surat singkat dan padat itu dianggap Suli sebagai perilaku yang tak sopan terhadap orang tua. Suli merasa tak dimintai restu karena nada surat itu sekadar pemberitahuan. Eko yang beristrikan Yahudi dan kehamilan Claire makin membuat hati Suli tak senang. Pergaulan dan lingkungan di AS dianggap Suli bertentangan dengan norma adat dan agama di Jawa. Namun, setelah diberi pengertian Harimurti, kemarahan Suli mereda.
Pernikahan Eko dan Claire disambut penugasan dari Alan Bernstein, atasan Eko. Eko ditugaskan untuk mengurus pemasaran produk Asia Books ke sejumlah negara di Asia termasuk Indonesia. Kedatangan Eko dan istrinya ke Indonesia disambut orang tua dan kerabatnya dengan senang. Semenjak Eko melanjutkan studinya ke AS, ia mengalami banyak perbenturan kebudayaan. Pun ketika ia kembali ke Indonesia bersama istrinya. Sikap defensif masyarakat Jawa dalam menyikapi perbedaan norma dan ras ditonjolkan Umar Kayam pada bagian ini. Rasisme di Jawa tampak ketika Tommi, kerabat Harimurti, mengomentari Claire, yang berketurunan Yahudi. Di bagian yang lain, rasisme di Jawa tampak ketika Tommi menentang pernikahan putrinya yang bersuamikan seorang beretnis Cina. Tak hanya di Jawa, rasisme di AS juga digambarkan Umar Kayam melalui perjalanan silsilah keluarga Levin.
Keluesan Umar Kayam dalam mendeskripsikan sistem kekerabatan dan kebudayaan di AS dan Jawa mampu memacu imajnasi pembaca. Perbedaan pandangan mengenai norma adat dari generasi ke generasi ikut membumbui jalan cerita. Novel ini cocok bagi orang yang mengaku pluralis dan menggemari sastra. Sebuah perjalanan di perantauan dijabarkan dengan penuh lika-liku oleh penulis. Tak hanya itu, penyampaian penulis juga sarat kritikan terhadap sistem pengadilan, pengupahan dan pendidikan di Indonesia yang masih buruk. Sayang, kata ganti tokoh utama yang berubah-ubah mengganggu kenikmatan membaca. Alur yang terkadang berubah di tiap bagiannya juga membingungkan pembaca. Terlepas dari itu semua, novel ini mampu menambah khazanah mengenai pluralitas tiap ras di AS dan Indonesia. Jadi, selamat menikmati pergulatan pluralitas rasa novel!

(Resensi buku)Perjalanan Panjang dan Rumit Sang Wayang Kulit

Judul Buku : Kelir tanpa Batas
Penulis : Umar Kayam
Jumlah Halaman : 453 + X hlm
Penerbit : Gama Media Kerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan UGM dan The Toyota Foundation
Tahun Terbit : 2001 (cetakan pertama)



Seni yang terpelihara dalam suatu masyarakat merupakan refleksi identitas dari masyarakat tersebut.

Bagi masyarakat Jawa, wayang kulit mengandung banyak pemaknaan tentang kehidupan. Hingga kini, wayang kulit masih dipertahankan oleh masyarakat yang dihidupi dan menghidupinya. Wayang kulit masih menarik untuk terus dikaji. Banyak penelitian tentang wayang kulit yang telah dihasilkan seiring dengan dinamika masyarakat Jawa. Begitu pula dengan Umar Kayam, mantan guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) ini telah membukukan hasil penelitiannya mengenai perkembangan wayang kulit pada masa orde baru.
Buku yang berjudul Kelir tanpa Batas tak sepenuhnya hasil penelitian, melainkan ditambah dengan data dan analisis baru. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan pada 1993 sedangkan buku ini diterbitkan pada tahun 2001. Penelitian ini bertujuan memahami sejarah wayang dan pergolakannya dalam bertahan. Dalam wayang kulit terdapat pakem-pakem tertentu, namun seiring berubahnya zaman beberapa pakem mulai mencair. Penelitian ini difokuskan pada kondisi wayang kulit saat orde baru tahun 1993 hingga 1995. Umar Kayam memiliki dua alasan mengapa mengambil setting pada masa ini. Pertama, masyarakat Jawa dinilainya lebih terbuka pada masa orde baru. Kedua, orde baru yang berlangsung lama menimbulkan kecenderungan budaya tertentu. Peta kehidupan wayang kulit, sejarah, pakem, peran dalang dan pemaknaan wayang di tengah masyarakat Jawa menjadi suatu pertanyaan dalam penelitian ini. Wawancara dan pengamatan langsung terhadap kondisi pertunjukan, dalang dan penontonnya menjadi alat utama pengumpul data.
Jalan cerita, tokoh dan setting yang terdapat dalam dua epos besar India yakni Ramayana dan Mahabarata menjadi ciri umum wayang kulit. Keduanya dimainkan dengan boneka tipis dari kulit yang dipahat sesuai karakter dan ciri fisik tokoh masing-masing. Boneka tersebut digerakan oleh dalang dengan bantuan tongkat kecil dalam ukiran wayang kulit diiringi suara sinden dan gamelan. Dalam pertunjukan kesenian yang diindikasikan muncul di abad X SM ini, dalang memiliki peranan sosial religius yang menyeimbangkan manusia dan lingkungannya. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, wayang kulit memberi ruang kategoris dan hierarkhis yang terefleksi dari jalan ceritanya. Setiap manusia memiliki kedudukan dan perannya masing-masing. Peran itu harus dimainkan sesuai silsilah dan tata krama yang wajib dipatuhi. Ini kemudian menimbulkan filsafat pertunjukan wayang kulit yang diciptakan orde baru sebagai tontonan, tuntutan dan tatanan. Hal tersebut kemudian menjadi pemaknaan umum masyarakat Jawa. Pemaknaan ini turut dibayangi oleh beberapa otoritas, antara lain otoritas kraton, lembaga pendidikan formal seni pedalangan, tradisi lokal dan penguasa politik orde baru beserta pejabat dan agen/agennya (hlm 69).
Dalam perjalanannya, wayang kulit mengalami pemudaran pakem dan betuk estetiknya. Pada dasarnya, wayang kulit di Jawa terbagi dalam tiga gaya, yakni Surakarta, Yogyakarta dan Jawa Timur. Ketiganya memiliki perbedaan masing-masing. Namun, mulai 1980-an batas ketiganya luntur. Ini dipengaruhi oleh mencairnya batas antara dunia panggung dan penonton sebagai penikmat wayang kulit di luar panggung. Pengaruh yang dikemukakan Umar Kayam ini didukung banyak data. Salah satunya, Ki Sudarman Gondo Darsono, salah satu dalang senior, mengundang Ki Warsito untuk mendalang dalam acara supitan anaknya. Acara tersebut dihadiri oleh banyak dalang dari pelbagai generasi. Ketika Ki Warsito mendalang, dalam ceritanya ia banyak menyampaikan ejekan terhadap pakem wayang yang selama ini dipakai. Ini kemudian memancing perdebatan diantara dalang yang menontonnnya dan salah satu penonton melemparkan sandal ke panggung. Tak hanya contoh tersebut, di salah satu pertunjukan wayang di Sukoharjo, dalang Ki Warseno Slenk malah memberi kesempatan pada penontonnya untuk menyanyi ke depan panggung sesuai tema wayang. Kedua contoh ini tentu menunjukan betapa batas panggung dan penonton mulai mencair.
Pakem tampilan wayang juga mengalami perubahan. Perubahan ini ditandai dengan munculnya unsur pendukung baru selain sinden, gamelan, bingkai kelir, dan boneka wayang. Bingkai kelir yang seharusnya sepanjang enam hingga delapan meter menjadi lebih panjang. Bingkai kelir menjadi berukuran seperti bingkai film di gedung bioskop, yakni sepanjang 12 meter. Sinden yang seharusnya duduk, justru maju ke panggung dan berdiri untuk menyanyi, ini terjadi pada saat Ki Djoko Edan mendalang. Nuansa wayang kulit bertambah lain ketika dimasukan unsur jaipongan Sunda ke dalamnya. Peralatan gamelan pun sudah ditambah dengan peralatan yang lebih modern seperti keyboard atau drum. Perubahan pakem ini pun memacu perselisihan antar dalang.
Menurut Groenendael (1987), tugas wayang kulit dan dalangnya pada hakikatnya memelihara, mempertahankan sebuah tatanan. Pemaknaan mengenai perubahan pakem yang telah terjadi pada wayang kulit ikut memaknai pula perubahan tatanan pada masyarakat Jawa. Ini turut memberi dukungan bagi filosofi pembangunan orde baru saat itu, yakni menggunakan teknologi, menyerap dan sekaligus menyeleksi nilai eksternal. Ini menjadi legitimasi perubahan pakem wayang kulit. Seiring dengan perubahan tersebut, wayang kulit mulai digunakan pejabat orde baru baik negeri atau swasta untuk mengisi beragam acara. Predikat wayang kulit sebagai kesenian daerah yang kuno berubah menjadi kesenian kota. Selama wayang kulit tetap berefleksi dan menjaga agar penonton tak bosan walau menontonnya semalam suntuk, ia akan tetap bertahan.
Kelir tanpa Batas melambangkan perumpamaan bahwa kajian mengenai wayang kulit tak akan pernah selesai. Wayang kulit akan terus ada dan bertahan dengan perubahannya. Tak hanya perubahan wayang kulit dari waktu ke waktu yang coba diselami oleh Umar Kayam, ia juga menampilkan profil dalang sesuai identitas pembagian daerah yakni Surakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Buku ini dilengkapi gambar-gambar mengenai peralatan wayang, dalang dan suasana pertunjukan wayang agar memberi gambaran kepada pembaca yang belum pernah menyaksikan wayang kulit. Penelitian ini turut memberi hawa baru dalam wacana wayang kulit karena dikembangkan dari penelitian sebelumnya. Walaupun terdapat istilah yang kurang dijelaskan secara rinci oleh penulis, penjabaran yang runut tak mengurangi kualitas isi buku. Bagi anda yang tertarik menyelaminya lebih dalam, belum terlambat untuk ikut melestarikan kesenian tradisional ini.