<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226</id><updated>2011-09-08T23:50:39.576+07:00</updated><category term='culinary'/><category term='poems n short story'/><category term='wacananya Tiwi'/><category term='hari harinya Tiwi'/><category term='resensi buku n film n penelitian'/><category term='house n property'/><title type='text'>Just Tiwi</title><subtitle type='html'>Bak musik jazz yang tak punya pakem… bebassss… I just want to free my mind…</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-4466349896306941676</id><published>2009-12-20T20:39:00.001+07:00</published><updated>2009-12-20T20:59:58.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culinary'/><title type='text'>Ikon-ikon Lain Kota Bengawan</title><content type='html'>Ingin cari kuliner khas Solo selain menu kraton nasi liwet, timlo, sate buntel atau sup matahari? Jika ya, sajian berikut, jangan diluput. Dengan racikan sederhana, menu-menu ini mampu menjadi dedengkot kuliner kota Solo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahok yang biasa didagangkan di Pasar Gedhe Solo bisa menjadi menu pembuka sarapan anda. Sajian yang terbuat dari sari kedelai dan jahe ini baik untuk kulit anda. Bayangkan saja, saya kira pedagang Tahok di pasar ini masih berusia 50 tahunan namun ternyata usianya kini sudah 70, keriput di kulitnya hampir tak kentara lantaran ia selalu minum Tahok tiap hari. Minuman yang awalnya hanya populer di kalangan etnis Tionghoa di kota Solo ini juga baik untuk pencernaan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai menu inti sarapan anda setelah mencicipi Tahok, kesegaran kuah dalam suasana tradisional bisa anda nikmati di Soto Gerabah. Peralatan makan dari gerabah juga menambah kenikmatan soto tersebut. Selain soto gerabah, pecel Solo dengan saus wijen dan nasi merahnya juga tak boleh diluputkan sebagai referensi menu makan siang anda. Pecel yang satu ini ternyata sudah dikenal oleh banyak artis ibukota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda sengaja berkunjung di Solo saat akhir pekan, anda bisa pula menggunakan wahana transportasi kereta dalam kota ”Jaladara”. Apalagi jika anda berminat untuk menjelajahi sepanjang jalan Slamet Riyadi dan berbelanja batik di Pusat Grosir Solo, Pasar Klewer atau Kampung Batik Kauman, sepur ini siap mengantar. Tiket kereta lokomotif dari kayu yang hanya beroperasi saat akhir pekan ini dapat anda beli di stasiun-stasiun di kota Solo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para penggemar musik akustik, Jazz atau pencinta barang antik, anda bisa menikmati alunan musik langsung atau sekadar melihat lukisan dan barang antik setiap sabtu malam di pasar Windu Jenar Ngarsodipuro. Beberapa bulan yang lalu pasar ini dibangun kembali dengan relokasi pedagang sekitarnya  -dengan pendekatan kultural antara pemkot dan pedagang, win win solution dan tanpa konflik-. Pasar yang tampil cantik dan artistik kala malam ini juga mengediakan fasilitas akses internet wi-fi. Tertarik? Sumonggo dateng ngerawuhi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p.s: makasih buat tante Jenny  yang udah mau dibajak rumahnya dan yang selalu ngajak jalan-jalan kemana-mana tiap aku ke Solo, hehehe.... n also for all my sisters n brothers, aku kangen jalan-jalan, guyon meriah dombret, masak-masak dan makan-makan lagi ma kalian ni, hehehe...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-4466349896306941676?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/4466349896306941676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/12/ikon-ikon-lain-kota-bengawan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4466349896306941676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4466349896306941676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/12/ikon-ikon-lain-kota-bengawan.html' title='Ikon-ikon Lain Kota Bengawan'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-3255781742595931878</id><published>2009-12-02T11:59:00.000+07:00</published><updated>2009-12-02T12:02:21.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culinary'/><title type='text'>Semalam Bersama Pasta All’arrabbiata Jadi-jadian</title><content type='html'>Italia dan Perancis terkenal sebagai kerajaan kuliner dunia. Elegan dan bercitarasa tinggi, demikian para pakar sering berkomentar. Eits, itu kata para pakar. Bagi kita semua yang ingin mencapai klimaks karya kuliner, kuncinya hanya satu ’Just trust your tongue’ Ya! Seseorang pernah berkata demikian. Saya sepakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat suatu ketika kakak saya pernah mengajak kami sekeluarga makan di Solo Mio, sebuah restoran Italia di Kota Solo yang kata rekan kakak saya yang juga bule Italia itu rasanya benar-benar orisinil Italia sekali. Maklum, pemiliknya pun orang Italia, katanya. Kami pun memesan beberapa makanan Italia seperti spaghetti, lasagna, pasta dan pelbagai desert yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesumbar. Saya tak menduga sebelumnya bahwa keganasan lidah orang Italia hanya sampai disitu. Hambar, tak ada cita rasa rempah dan bumbu yang tajam. Setelah saya menceritakan ini pada seorang Jerman, ia hanya bisa menukas ”oh, come on Tiwi.... its not the taste, its about the culture” Ya… akhirnya saya sepakat dengannya, mempercayai lidah saya sendiri, dan bersumpah akan menghasilkan karya yang tak kalah sakti. Uummm, sepertinya kalimat yang terakhir ini telalu eksesif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini hasrat cook-addict saya kambuh lagi. Citarasa masakan Jogja yang manis-manis dan tentu tidak bersahabat dengan lidah saya sering memaksa saya untuk memasak sendiri. Tapi, kebiasaan itu lama saya tinggalkan lantaran kesibukan. Huh, akhirnya saya bisa memenuhi hasrat yang telah lama tak terpenuhi. Seperti kebiasaan terima gaji di bulan-bulan sebelumnya, saya langsung menggunakan gaji saya untuk mendaftar kelas baru bahasa asing dan tentu saja berbelanja bahan memasak, mencoba resep baru. Satu keputusan bulat hari itu: Its ’Me’ time, tak boleh ada yang ganggu saya memasak hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun membuka WWW.ALLRECIPES.COM tempat dimana resep semua tingkatan kuliner dunia termasuk dari Italia dibagi dengan gratis. Pasta All’arrabiata yang konon mudah namun berkelas menjadi pilihan saya hari itu. Sebenarnya, saya memilih resep ini lantaran merindukan momen memasak dan makan bersama kerabat yang sekarang berada di Milan. Berikut bahan dan cara memasaknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;400gr pasta jenis penne, 500 gr tomat ceri, bawang bombay dan bawang putih masing-masing satu siung, garam, cabai dan xtra virgin olive oil. Cara membuat: Matangkan pasta hingga kenyal (al dente), potong-potong bawang lalu tumis dengan olive oil, setelah bawang berwarna keemasan, buang bawang putihnya, kecilkan api, masukan garam, tomat dan cabai yang dipotong-potong. Masukan pasta ke wajan bersaus tomat lalu aduk bersama bumbu tumisan, pasta pun siap disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa janggal setelah mencoba resep itu. Indah, teman kos yang bersedia menjadi pengicip-icip pasta saya sore itu berkata enak namun tak nanti, lidah saya berkata ”Kurang mangstabs, apalagi, euyhhhh saus tomat tidak sehat! Kau sudah terlalu banyak makan sampah Tiw akhir-akhir ini, jadi, jangan nodai resep sehatmu setidaknya hari ini! (Sok-sokan) kenapa tak kau gunakan saja tomat asli yang ekstra banyak?” Saya memutuskan untuk mencoba resep itu lagi dengan beberapa ’perintah’ lidah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, saya membawa bahan-bahan plus daging sapi qurban ke kos Ino, seorang teman yang sedang senang-senangnya mengarap penelitian dan skripsi bersama seorang dari negeri raja cokelat Eropa. Saya butuh partner untuk memasak sambil tertawa sejenak agar hasil maksimal. Dengan tambahan minyak dan garam saat merebus pasta, tumisan yang banyak merica, tomat, cabai dan bawang putih -yang tidak dibuang setelah ditumis bersama bambang bombay- plus toping tumisan daging sapi tomat ala saus bolognaise –yang samasekali tidak dianjurkan- cukup berhasil menjadikan karya saya, Ino dan Ois spesial, setidaknya bagi orang Asia macam saya dan Ino. Para pakar kuliner Italia mungkin marah dan menuduh kami sebagai tersangka bastardisasi resep but we r just trust our tongue. Yeahh namanya juga Pasta All’arrabiata, artinya kan marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua dedengkot Eropa (Italia dan Perancis) memang sensitif sekali terhadap kelestarian kuliner mereka. Gimana tidak sensitif? lha wong masuknya gerai Mc’D di Piazza Spagna -alun-alun identitas Italia - dan Museum Louvre, Paris saja sampai mendatangkan reksi ekstrim dari anggota gerakan Slow Food sejak 1986 sampai sekarang. Makanan sampah seperti Mc’D dianggap menodai khazanah kuliner disana. Universitas Slow Food bahkan didirikan di Italia. Betapa pentingnya orisinalitas nilai kesehatan dan kesenian kuliner bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, menciptakan orisinalitas diri sendiri dengan memodifikasi yang orisinal, itu sah saja. Jika anda sepakat, maka ciptakanlah kuliner anda sendiri, pertahankan nilai-nilai seni dan kesehatan anda. Namun, bagi anda pencinta orisinalitas citarasa Italia dan tidak ingin ribet memasak, saya merekomendasikan Solo Mio. Jangan sekali-sekali berburu spaghetti di Kusuma Sari atau WS (dua-duanya masih di Solo juga) kecuali anda ingin memadukan citarasa Eropa-Jawa, semua terserah anda. Orisinal atau tidak itu politis alias penuh kepentingan sang pemberi fatwa, silahkan anda putuskan sendiri mana yang orisinil dan mana yang tidak. Yang jelas kuliner juga menjadi khazanah kebudayaan yang terus bermetamorfosis dan nomaden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips bagi teman-teman sesama mahasiswa di Jogja, saya sarankan untuk membeli sayuran di pasar tradisional pagi hari karena lebih fresh dan murah, kecuali untuk bahan-bahan yang tak tersedia di pasar tradisional seperti paprika, oregano atau daun parsley. Anda bisa mendapatkannya di super indo JaKal, lebih lengkap, segar dan murah. Hindari belanja sayuran di Mirota –sayurnya tidak segar, tapi harga dan koleksi kebutuhan rumah tangganya cukup reccomended, mahasiswa bgt lah- atau di carrefour –yang mahal sekali dan tidak lengkap-. Tapi, semuanya... terserah anda... segar, murah dan lengkap itu politis (halaaah, kalimat yang terakir ini samasekali tidak penting)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan paling akhir; Semua merk yang disebut tentu punya tendensi yang tentu bermafaat bagi anda ;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-3255781742595931878?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/3255781742595931878/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/12/semalam-bersama-pasta-allarrabbiata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/3255781742595931878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/3255781742595931878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/12/semalam-bersama-pasta-allarrabbiata.html' title='Semalam Bersama Pasta All’arrabbiata Jadi-jadian'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-4207696312446523813</id><published>2009-08-07T21:28:00.000+07:00</published><updated>2009-08-07T21:31:49.975+07:00</updated><title type='text'>Cerita Kebangkitan Petani Berdaya di Sleman</title><content type='html'>Sepertinya obrolan saya dengan beberapa petani siang itu mencerminkan betapa para periai negeri ini telah ditampar oleh petani yang notabene rakyatnya sendiri. Pastilah sang pemuka struktur negeri tak pernah menyadari bahwa kini petani mulai sadar akan adanya pertukaran yang tidak setimpal jika berurusan dengan negara, korporasi dan akademisi. Triplehellish, demikian petani menyebut ketiganya. Untung saya tidak mengaku bahwa saya mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi yang saat ini hanya tinggal menara gading. Niatan saya saat itu hanya mencoba memahami pemikiran mereka sebagai manifestasi gerakan sosial petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joglo Tani yang merupakan akronim dari oJO GeLo Tani merupakan salah satu organsasi petani yang tebentuk karena kekecewaan petani terhadap taji-taji sang triplehellish. Perkumpulan ini memiliki semangat pertanian organic dan terintegrasi. Hasil pertanian dalam organisasi ini telah memiliki jaringan pemasaran yang luas di seluruh Indonesia. Saya yang berlatar belakang sospol pun bak mendapat kucuran ilmu tentang pertanian jenis tersebut. Kebetulan siang itu aku membawa recorder, sehingga terekamlah semua pembicaraan kami siang itu. Percakapan kami pun mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang mba Tiwi sering belajar ilmu apa dulunya?” Tanya salah satu petani, yang tahunya saya sudah lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dari sosiologi pak, kan ga ada hubungannya dengan dunia pertanian. Saya ga tau apa2 soal pertanian. makanya saya pengin belajar banyak dari sini,” sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, siapa bilang ga ada hubungannya? Sosiologi kan mempelajari pertukaran kepentingan juga kan? Dalam konteks ini kami sudah merasa dikecewakan oleh kepentingan negara. Yang bisa menggerakan petani ya petani sendiri, bukan negara apalagi militer. Kami kecewa dan akhirnya sadar betapa banyak kepentingan politis dalam organisasi petani. Akhirnya negara tak sepenuhnya berpihak pada petani, padahal 60% wilayah kita adalah wilayah agraris,” Tutur pak TO yang menjadi pemrakarsa organisasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Pak TO menjabarkan tekanan-tekanan yang melarabelakangi hadirnya gerakan sosial ini. Ia mengharapkan hal ini disadari oleh para petani di seluruh Indonesia. Tekanan-tekanan tersebut antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tekanan ekonomi, contohnya bibit dan pupuk yang saat itu masih tergantung membeli pada tengkulak. Pada saat teman-teman petani menjadi pembeli maupun penjual, hokum pasar tetap berlaku, mereka tak berkuasa atas apa yang mereka beli dan jual, dan akhirnya petani yang dirugikan. Akhirnya mereka membuat pupuk sendiri sebagai manifestasi intelektual organic. Buktinya, mereka telah menemukan satu jenis pupuk murah dan berkualitas untuk mereka gunakan sendiri, dan mereka bersedia membagi resep pupuk tanpa harus menggunakan royalty. “Untuk apa mengambil keuntungan dari sodara kami yang sesama petani? Bukankah ilmu seharusnya diamalkan?” Ungkapan sederhana itupun terucap dari salah satu petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tekanan alam, teman-teman petani setelah menanam bibit, hasilnya tak dapat digunakan, sehingga mereka selalu membeli bibit baru lagi. Pupuk yang di beli juga tidak tahu terbuat dari apa sehingga pupuk itu tidak menyuburkan tanah tapi merusak tanah. Obat pun demikian, akhirnya malah tidak melestarikan lingkungan. Akhirnya yang terjadi tanah semakin rusak, air sulit, siapa yang merusak? Ya petani, maka alampun menekan kita juga. Akhirnya kita kembangkan obat dan pupuk sendiri yang lebih ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tekanan sosial, bahwa petani di Indonesia ya kastanya ya paling rendah menjadi petani tu karena lahan yang sempit bahkan tidak ada lahan, sehingga orang menilai tidak menjanjikan. Kita lihat saja, kalau tukang prakir mau kredit motor 500rb sudah bisa bawa pulang, kalau petani? 1jt ninggal KTP ya ndak bisa. Coba dipikirkan; diantara korporat, petani, pemerintah dan akademisi siapa yang dikonstruksi paling rendah? Pasti petani. Padahal, yang berperan besar dalam hasil pertanian ya petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tekanan budaya. Pertanian merupakan budaya juga, penjelasannya, bertamu kan mestinya jangan ngatur tuan rumah. Kenyatannya sekarang dalam pertanian, banyak tamu yang ngatur tuan rumah. Contoh; mereka di suruh ini, pupuk disuruh ini obat disuruh ini. Dalam konteks ini tamu adalah perusahaan kapitalis. Mereka hanya memaksa menanam ini itu dengan obat dan pupuk yang membahayakan lingkungan, jika hasilnya buruk, mereka ingkar janji tak jadi jamin pasar. Investor datang, negarapun ditekan juga. Pembagian hasil terkadnag tak setimpal, yang penting perusahaan menguasai bibit dan pasar. Ibaratnya, petani ingin membangun rumah. Kurang pintunya, terus diutangi kapitalis untuk beli pintu dan kunci, tapi yang pegang kunci kapitalisnya, padahal rumahnya kan milik petani, tidak adil kan? Kalau kita sendiri dapat membuat sistem yang lebih adil tanpa melibatkan kuasa modal, kenapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Petani tertindas pasar global dan tertekan dengan standar global. Maka, petani ingin meningkatkan kapabilitas mereka mengembangkan dari mentah hingga produk jadi yang memiliki nilai jual berlipat daripada produk mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tekanan kebijakan. Selama ini kebijakan pemreintah tidak sepenuhnya berpihak pada petani. Kalo kita melihat Indonesia sebagai wilayah agraris, namun anggraran untuk petani tak menjadi prioritas. “Pertanian kita itu tidak berkelanjutan, karena ego sektoralnya tinggi, obyeknya petani tapi yang membidangi banyak sekali, urusan air sendiri sendiri, ternak sendiri, kalo tani dipisah dengan peternakan itu akan terjadi kehancuran karena tidak akan ada kelestarian ekologis, simbiosis mutualisme tidak terpenuhi dan petanipun tergantung, tidak mandiri, jadi kecewa,” Jelas pak TO. Akhirnya terbentuklah pertanian terintegrasi dimana peternakan dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tidakkah kini pemerintah seharusnya malu jika ternyata di tingkat bawahpun janji mereka bak pepesan kosong? Toh, sang pengumbar janji yang ngakunya cinta wong cilik pun kini sibuk memperdebatkan politik praktis terkait keberlanjutan kuasa mereka. Sedangkan rakyat sendiri? Mereka berhasil bangkit tanpa campur tangan pemerintah dan justru skeptis dengan pemerintah. Lalu pemimpin hasil electoral pun kini mandul kalau di tingkat komunitaspun rakyat mampu mengembangkan diskursus dan berdaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-4207696312446523813?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/4207696312446523813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/08/cerita-kebangkitan-petani-berdaya-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4207696312446523813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4207696312446523813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/08/cerita-kebangkitan-petani-berdaya-di.html' title='Cerita Kebangkitan Petani Berdaya di Sleman'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-4236644474117810902</id><published>2009-05-25T06:05:00.000+07:00</published><updated>2009-05-25T06:11:27.547+07:00</updated><title type='text'>Derai Posfeminisme Chicklit dalam Deras Arogansi Literatur</title><content type='html'>"Ya, ampuun...kenapa rak buku barumu sekarang ada majalah dan novel chiklitnya? ga ada bacaan yang lebih mutu?" Tanya seorang teman yang ngakunya intelek itu dengan nada yang arogan. Setidaknya pertanyaan itulah yang menuntun saya pada tulisan ini. Yah eheem... membaca reproduksi tanda tokoh wanita yang dikonstruksikan pada media majalah dan novel wanita metropolis yang cenderung tangguh, 'seksi', acuh tak acuh, tidak menganggap diri sebagai korban, dan menginginkan kuasa akhirnya membawa Ann Brooks main mewacanakan apa yang disebut dengan posfeminis dalam Posfeminisme &amp;amp; Cultural Studies (Jalasutra, 2008). Saya mungkin tak bisa bertutur banyak perihal manifesto wacana posfeminis, mengingat pengetahuan saya tentang hal tersebut masih sangat prematur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tersebut, Brooks mendekonstruksi kuasa wanita dalam peran ganda dan budaya patriarkhi. Ini menggelitik saya untuk membaca dan mengamati novel-novel ciklit. Seminggu yang lalu saya baru saja menamatkan novel Allison Pearson yang berjudul I Don't Know How She Does It -Sorry mba Sisca n mas Co2, aku baru sempat membacanya sekarang, bukan tiga tahun lalu saat kalian menghadiahkannya bersama Sejarah Filsafat Barat, Reading @ the University dan Good Essay Writing-. Mengamati perjalanan sang tokoh utama, Kate Reddy, ibu muda yang 'seksi', menjalankan peran ganda; dalam rumah tangga dan kantor dengan rekan-rekan kerja yang seksis, sang Albeheimer, sembari harus mengamati kurs lalu memprediksi dan meramalkan keputusan besar di perusahaannya merupakan fenomena yang tak bisa dihindari bagi wanita karier di perkotaan. Sang Pearson pun menjabarkannya dengan ringan, apa adanya dan tanpa menghakimi. Akhirnya, sang Kate pun jatuh pada satu titik sekaligus disaat itulah dia memenangkan 'keadilan' dengan caranya sendiri tanpa gembar-gembor dengan teori feminisme. Kultur Inggris sebagaimana setting novel tersebut sebenarnya pun tak jauh beda dengan kultur Jawa yang monarkhi. Maka, secara tak sengaja otak saya pun menganalogikannya dengan perjuangan ibu saya selama ini. Ibu dididik dengan budaya 'Jawa' (diberi tanda petik karena masih belum tau Jawa yang sebenarnya seperti apa) yang kata feminis cenderung patriarkhi, mengekang, dan mengonstruksikan wanita cantik harus tampil indah, menjaga nama suami, suargo nunut neroko katut, dsb...dsb... Meski demikian, Ibu terus 'mengabdi' dan akhirnya sekarang kekuatan aktor-aktor dalam budaya jawa yang patriarkhi dan 'menindas' ibuku itu melemah kekuatannya dan tak bisa hidup tanpa ibuku. Sedang ibuku? Sukses menunjukan kekuatan beliau dan berhasil menjadi single parent bagi ketiga putra putrinya meski perjuangan beliau tidaklah ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekontruksi lain yang ditawarkan Brooks yakni tentang kecantikan. Selama ini feminisme selalu memposisikan konstruksi kecantikan ala patriarkhi dalam iklan produk kecantikan dan media itu yang menindas perempuan. Analisis Brooks bukan mengkritik tentang konstruksi kecantikan yang menindas-vertikal, melainkan ia menyajikan beragam analisis tanda tentang konstruksi kecantikan secara horizontal. Yah... semangatnya posmodern banget lah. Dua tahun yang lalu iseng-iseng saya membuka-buka majalah cosmopolitan di sebuah warung internet karena sedang antre. Dengan Fun, Fearless Female-nya majalah ini menawarkan isi yang sangat beragam. Kesan pertama sewaktu membaca-baca majalah tersebut; "Wuaaah, majalah kok iklan thok, full branded, ilusi kapitalisme dengan menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditas, dsb.. dsb..." Namun, akhirnya saya sampai pada satu rubrik yang menggambarkan pengalaman seorang wanita karier yang akhirnya melepas kariernya, mengabdi di dunia pendidikan dan tetap memiliki pemikiran yang sangat kritis . Penampilan wanita tersebut jauh dari citra kecantikan yang selama ini dikonstruksi oleh sederetan iklan pelangsing tubuh dan pemutih wajah di majalah tersebut. Tak disangka, apa yang diperjuangkan wanita tersebut ikut membantu penelitian saya dalam sebuah jurnal mahasiswa dan menginspirasi skripsi saya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di edisi cosmopolitan yang lain, disajikan pengalaman sepasang ibu muda kembar; Rosi dan Rian yang berpenampilan bak bintang sinetron namun mereka berhasil membebaskan warga di kolong jembatan tiga, tol gedong panjang, pinggir kali Sunter, Cilincing, bantar gebang serta kantong kemiskinan di jakarta lainnya dari buta huruf dan kemiskinan. Kini mereka telah memiliki murid hingga 800 orang. Agar tak terjebak pada 'licik' nya LSM yang menjadikan kemiskinan sebagai proyek dagang, kedua wanita tersebut tetap kritis terhadap LSM plat hitam mauopun merah yang mengajak meraka kerjasama. Saat rosi dan rian diundang ke dalam diskusi sosialisme dan disindir dengan penampilan mereka, toh mereka tetap melenggang kangkung dengan busana bermerk, acuh tak acuh menyatakan bahwasanya sosialismepun sebenarnya sama menindasnya dengan kapitalisme. Dalam rubrik semacam itu, disajikan bagaimana pemikiran tentang konstruksi kecantikan dibenturkan. Bahwasanya permasalahan hegemoni dan kesadaran tergantung siapa yang mengkonstruksi. Jikalau feminisme mengklaim dirinya sebagai yang menyadarkan atas penindasan kapitalisme toh posfeminis justru mengklaim usaha feminisme tersebut dengan menilainya sebagai usaha membentuk hegemoni tandingan. Posfeminisme akhirnya menonjolkan kesadaran dan nalar pada diri masing-masing perempuan tanpa menafikan kekuatan iklan kosmetik di media dalam membentuk konsep cantik. Akhirnya, toh wacana posfeminis tetap menyerahkan konstruksi kecantikan pada kenyamanan dan rasionalisasi dalam diri masing-masing perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung Metropolitan setelah menghadiri pernikahan saudara yang melelahkan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-4236644474117810902?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/4236644474117810902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/05/derai-posfeminisme-chicklit-dalam-deras.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4236644474117810902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4236644474117810902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/05/derai-posfeminisme-chicklit-dalam-deras.html' title='Derai Posfeminisme Chicklit dalam Deras Arogansi Literatur'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-2028644692518953146</id><published>2009-05-07T18:58:00.000+07:00</published><updated>2009-05-07T19:01:20.953+07:00</updated><title type='text'>What Education has Taught Me</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;I’ve been studying in the formal education institution since a long time ago. But, since I&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;becoming university student, I just realized that we were trapped on chaotic &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;problems education system. I think, the main problem is people’s mind construction about their respectful toward diversity. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;As the common issues, we can’t against the diversity of thought, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;religion, ethnic group, gender, social and economic status, physically n mental condition. But, why the government seems like won’t to accept that situation? For example,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;in the past, when new era of Soeharto’s governmental cabinet (that call ‘orde baru’ in Indonesia) my comprehension about our state history is constructed &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;by government’s false consciousness. For example; let me ask you a question; What do you think about socialism and communism? A cruel community? Killed everybody who believe in God on 1966? A dirt ideology that must against by all of us? Many research reported that’s not true. The lesson of history for elementary, junior, and high school students are constructed by orde baru for their corrupt system, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sustainability of status quo and give a way for capitalism to grow up in Indonesia. A high obligation, financial crisis, so many chaos in the big cities and the explosion of people’s revolt are reasonable consequences that must paid by government on 1998. Finally, reformation told the truth. Although a few truth has revealed, it didn’t mean that social condition post-1998 reformation are so much better. Many civil groups who struggle for orde baru’s fall out and forming new age of democracy are uncertain about what kind of system must bring to a better change. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Since orde baru governmental cabinet had been dominated political system, all sector are controlled include the education institutions. They caught everybody who have different thought that may harmful for the government. They against diversity with a policy that make we must wear uniform, an developmentalism mind construction about education parameters which is so far away from local culture approach and humanism aspect, segregation of schools (many examples; international school with expensive fee, special school for disable student, final grade standardization for every level of school n etc). Why they must be segregated? Because they are not be able to access education together with other students? I thought that’s false. Many research reported that multicultural and inclusive education are good for academic and social condition student’s grow. Although that, terrible system of &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;education as like happen in orde baru is still turning now. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Once upon a time, I ask a question to my self; if the diversity around us, why the system must made the same standardization? In fact, when the government make some kind of multicultural education policy, at the same time, they decided homogeneous standardization education policy. In other condition, the poor still can’t access high cost of education in university. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Every human have their ability and disability right? Every ethnic group have their local genius and necessary right? So why we don’t make a cultural approach on learning system? And every human have their own rights to access education, no matter what their condition. Because education is very important for human development. Its can be a kind of way to make poor people free from poverty. Education is helping the child realize his potentialities, likes Erich Fromm said. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Someone ask me that to escape criticism, do nothing, say nothing and be nothing. If I want to change, just take my times to make a small and simple change. I knew that the problems in education is so hard to finish. I have a dream to make a non-formal simple school for all students who can’t access formal education. What a stupid idea, right? But now, me and my community is still dream and try to help people who can’t access formal education with small and simple way. Because, I didn’t too worried about wrong education, but I more worried if there are illiterate people can’t access education at all. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-2028644692518953146?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/2028644692518953146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/05/what-education-has-taught-me.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2028644692518953146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2028644692518953146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/05/what-education-has-taught-me.html' title='What Education has Taught Me'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-1551491381933744507</id><published>2009-04-01T08:42:00.000+07:00</published><updated>2009-04-01T08:43:11.727+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'>Kewajiban Memerdekakan Kaum Terdiskriminasi Siapa Punya? (Catatan dari Bilik si Enam SKS)</title><content type='html'>Catatan ini hadir bukan saja sebagai reaksi atas apa yang menghentak tatkala aku mewawancarai seorang narasumber untuk data pra penelitian proposalku. Skripsiku membahas tentang manifesto kebangkitan sebuah kaum yang terdiskriminasi karena hegemoni pemerintah. Namun, kaum yang terdiskriminsi itu dapat bangkit di level kebijakan dengan hegemoni tandingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir tak perlu kujelaskan kaum terdiskriminasi macam apa yang kuteliti. Yang jelas, suatu kaum dikatakan terdiskriminasi ketika ia teralienasi dari diri, kuasa yang besar dan lingkungannya karena ketimpangan sumber daya. Wujudnya bisa macam-macam; suku dan ras minoritas, kaum miskin, perempuan, buruh, termasuk difabel (different ability people), istilah ini masih menjadi perdebatan hingga sekarang, ada yang menyebutnya sebuah penghalusan bagi penyandang cacat, ada yang bilang istilah ini merupakan dekonstruksi dari kecacatan yang sebenarnya permasalahan sosial bukan masalah kesehatan. Namun, toh istilah ini sudah diserap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi paling gres. Istilah cacat muncul karena yang cacat dianggap tak mampu, padahal berdasarkan beberapa penelitian Girolam Cardano, ketika indra satu tak berfungsi, indra lain akan berfungsi lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup sadar, ketika aku bersentuhan dengan kaum terdiskriminasi akan terjadi reaksi-reaksi kritis terhadapku dari mereka. Dan yang kipikirkan pun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alaaaaa.. kamu meneliti ini ya cuma buat kepentingan skripsimu kan? Toh setelah kamu selesai penelitian kami tak akan berubah menjadi lebih baik!” Ujar seorang aktifis sebuah LSM yang konsern terhadap aksesibilitas kaum terdiskrimnasi tatkala kuwawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akademisi selalu memandang kami sebagai fenomena yang unik, layak diteliti. Setelah itu? Kami hanya dieksploitasi untuk pencarian data-data tanpa sebuah konsekuensi yang bermanfaat bagi kebangkitan kami. Kami sudah capek diwawancara terus! Akademisi tu cuma bisa sok-sokan dengan teori-teori yang mereka kuasai, di tataran praktis? Nol besar. Buat apa kalian kuliah demokrasi dan HAM kalau hanya jadi isu pencari nilai. Kalian tu mirip politisi yang dalam kampanyenya selalu membawa-bawa kaum terdiskriminasi tanpa mewujudkan janjinya ketika ia menjabat,” Lanjut mas-mas aktifis yang sepertinya miskin perhatian ini dengan panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, fenomena ini patut disyukuri daripada jika mereka tak punya kesadaran kristis sama sekali. Akupun menyahut ocehan kritis dari mas-mas yang juga ngaku sebagai filsuf muda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi apa yang diharapkan dari akademisi? Bukankah perubahan tak akan terjadi tanpa pemahaman sensitifitas terhadap teman-teman? Narasumber yang kuwawancara tak hanya dari pihak terdiskriminasi, tapi juga pemerintah, akademisi dan semua stakeholder yang terlibat dalam manifesto kebangkitan teman-teman. Dari situ akan ada obrolan-obrolan dalam sebuah ruang public yang dapat mengartikulasi kepentingan masing-masing stakeholder.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku sedikit bernafas aku melanjutkan lagi “Ya! fenomena meneliti tanpa mengubah memang ada, namun bukankah dari kesombongan yang hina itu kami bisa belajar dan mengubah struktur?Tapi kurasa bukan saatnya lagi menggunakan istilah kami, saya, anda dan mereka, sudah saatnya menggunakan istilah kekitaan untuk mewujudkan tatanan yang lebih manusiawi. Perubahan tak akan terjadi dalam waktu singkat, apalagi dalam struktur birokrasi yang terkonstruksi untuk selalu mensegregasikan tiap manusia seperti di Indonesia ini. Bukankah perubahan ke kondisi yang lebih humanis seperti terjadi di Eropa yang kini lebih multikultur itu melalui perjalanan yang panjang? Bukankah perubahan akan lebih massif ketika kaum terdiskriminasi juga yang memiliki inisiatif bergrak selain kebersamaan dengan stakeholder lain? Semua tak lepas dari pihak-pihak yang paling merasakan diskriminasi itu. Ingatkah jika Tuhan tak kan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu yang mengubah nasibnya? Mohon bantuannya untuk memberikan masukan apa selanjutnya yang harus dilakukan untuk rencana program keberlanjutan setelah penelitian agar aksesibilitas lebih terbuka untuk kebangkitan teman-teman. Saya sering mendiskusikan tema ini dengan teman-teman lain di sospol, mereka pun bersedia ikut membantu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke perdebatan kebangkitan kaum terdiskriminasi. Pertanyaan ini amsih terlintas dibenaku; kewajiban terbesar untuk mewujudkan kesamaan akses bagi semua orang yang berbeda-beda itu punya siapa ya? Pemerintah dan masyarakat mayoritas selalu dicurigai, kalau akademisi dengan kebiasaannya meneliti untuk kemudian mewujudkan program keberlanjutan dibilang eksploitasi, tapi kalau tak memberi perhatian dikira diskriminasi, enaknya gimana?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-1551491381933744507?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/1551491381933744507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/04/kewajiban-memerdekakan-kaum.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1551491381933744507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1551491381933744507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/04/kewajiban-memerdekakan-kaum.html' title='Kewajiban Memerdekakan Kaum Terdiskriminasi Siapa Punya? (Catatan dari Bilik si Enam SKS)'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-403594933439476026</id><published>2009-03-16T08:15:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T08:17:30.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'>Facebook Ergo Sum</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akhirnya bisa reuni sabtu pagi setelah sejuta tahun lamanya tak bertemu karena alasan kesibukan para workinprojectholic dan ‘konflik’ masa lalu yang terjadi di rumah kecil ini. Reuni dihadiri satu lelaki yang kini jadi supervisi PKM dan bercita-cita cepet lepas kuliah gandanya di UGM dan UIN, satu lelaki yang agaknya bakal cepat menyandang gelar filsuf, Habermas muda yang ga sadar kalo udah tua tapi merasa belum pantes lulus, dan tiga perempuan yang ingin cepat dapat gelar sarjana dari UGM. Eh, yang satu sudah jadi dedengkot di majalah alumni. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Masalah kerjaan yang belum selesai –sorry,karena kesalahan satu orang-- lagi-lagi jadi pemersatu diantara kami –tanpa kehadirannya yang bersalah--. DASAR WORKHOLIC! Namun, diantara pembicaraan-pembicaraan seru soal kerjaan itu ada pembicaraan yang paling ga penting; facebook. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Ya ampuuun… kok kamu ga ada facebook sih?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Nek butuh komunikasi &lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; bisa lewat HP atau YM”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;Kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; ga bisa walll to wall?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“!?!?!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Percakapan diatas termahtub antara seseorang dengan mahasiswa komunikasi yang ngakunya pengikut Habermas tapi menguasai informasi dan sekarang kena batunya karena ga tau facebook. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Emang wall to wall kih opo to tiw? Asem kiye, dah banyak orang nanya kok aku ga eksis di FB setelah keranjingan ngopeni blog dan komik” tadi pagi mahasiswa yang biasa dipanggil Abdi itu menanyakannya padaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Ya ampun.. ra ngerti? Kalah karo Putra koe, lha wong Putra we punya account” sahut Nura&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Kae aku ra sengojo, asline gawe buat Kembang Merak,” Kata Putra yang telah mengawali reuni hari itu dengan memerawani segel soes kering yang ga tau punya siapa dan untuk siapa gerangan. Pokoknya soes itu ludes tanpa ijin yang punya. Akhirnya satu angkatanku menjadi tersangka penggelapan makanan tak berdosa itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“wes, pokoke ajang komen-komen dari temanmu dimana eksistensimu akan digadaikan disana, hahaha, wes ndaftar FB wae nek sempat ngopeni hahaha..” jawabku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Aseeem, kok koe wes duwe? Dasar Facebook ergo sum! Aku tak kon ndaftarke Jehan trus tak kon nggoleke konco ah..” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Wah.. ergo sum.. ergo sum… Jadi ingat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Rene Descartes, jaman semono dia mendiktumkan Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Lah.. kalo jaman sekarang terutama di kalangan anak muda yang doyan internet berlaku; Facebook Ergo Sum, ada facebook maka aku ada. Dasyat! Pengaruh facebook yang ternyata meraup saham sekitar 15 milyar dolar AS bahkan seorang suami membunuh istrinya karena tahu status istri di facebook masih di-single-kan. Setiap hari ratusan juta &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;orang mengakses facebook. Tak terkecuali, pun dengan calon psikolog UGM godhokan Bu Nela di UPTB yang menggarap skripsi soal jejaring facebook. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tatkala facebook jadi ajang representasi identitas yang tidak dapat dihadirkan secara nyata. Gambar foto diri, teks-teks identitas yang dituangkan dalam jejaring sosial virtual acapkali bukan diri orang tersebut karena dunia virtual memungkinkan untuk itu, sangat bebas. Bahkan, negara sekalipun tak dapat mengontrol jejaring semacam itu. Well, isoke lha wong yang namanya dunia virtual pastilah menjadi penjelajahan untuk menemukan peran diri, identitas dan eksistensi ketika akses terhadap beberapa jenis modal di dunia nyata terbatasi. Hahaha pokoke Facebook ergo sum! &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(Hak Cipta judul ©mrizalabdi)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-403594933439476026?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/403594933439476026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/03/facebook-ergo-sum.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/403594933439476026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/403594933439476026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/03/facebook-ergo-sum.html' title='Facebook Ergo Sum'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-7220762503941244444</id><published>2009-02-07T21:36:00.000+07:00</published><updated>2009-02-07T21:47:02.958+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'>Seorang Fibonacci Muda Bilang Saya akan Mati pada Usia 34</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Satu lagi dedengkot ilmu empiris asal Italia yang saya kagumi; Leonardo Fibonacci. Masih ingat permainan matematika di sekolah menengah tentang angka Fibonacci? Bagi anda pengikut paham materialisme yang terbukti lemah setelah kemunculan teori Big Bang itu mungkin akan menafikan model susunan angka ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada abad 12, Fibonacci menemukan susunan angka yang konon selalu mengingatkan makhluk hidup akan keberadaan Tuhan. Ia juga yang telah memperkenalkan sistem angka pada tradisi Hindhu. Begitu dasyatnya kekuatan angka ini sampai ia dijuluki angka ajaib hingga angka emas. Lalu berapa dan bagaimana susunan angka Fibonacci itu? Angka Fibonacci adalah urutan angka yang diperoleh dari penjumlahan dua angka didepannya. Contohnya: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, dst... &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika anda masih ingat istilah phi (1, 618) anda pasti akan mengingat pula keajaiban temuan sang Fibonacci ini. Phi adalah hasil bagi angka Fibonacci dengan angka sebelumnya yang mendekati 1, 618 atau tepat 1, 618. Misalnya; 3:2, 21:13, 233:144, dll. Bilangan yang sering disebut rasio emas ini besarnya akan tetap pada setiap deret 13. Jadi misalnya, besarnya hasil pembagian dari urutan pertama akan sama pada urutan ke 14. Pada urutan ke 13 ia akan mencapai besar 1, 618. Sebelum itu, memang berselisih, namun dapat diabaikan. Konon dan telah banyak terbukti oleh banyak ilmuwan, bahkan mungkin bisa oleh anda sendiri, rasio emas ini keramat karena dikandung oleh setiap makhluk hidup ciptaan Tuhan. Pola rasio emas inilah yang sering saya dan kawan saya gunakan dulu untuk bermain puzzle Fibbonacci. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beberapa hari yang lalu saya bertemu seorang kawan lama saat perjalanan ke Jogja dari Solo. Kebetulan kami bertemu karena kami satu gerbong kereta Prambanan Ekspress (Prameks). Kereta Prameks memang sering mempertemukan saya dengan banyak kawan yang lama tak bertemu. Perjumpaan kami tak banyak membuahkan pembicaraan tentang kenangan masa sekolah, meskipun saya sepakat dengan lirik yang pernah didengungkan Chrisye;... masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah.. hehehe. Pembicaraan yang membuncah diantara kami justru tentang bilangan Fibbonacci. Mahasiswa jurusan matematika yang juga keranjingan dengan filsafat sejak SMA ini pun coba memutar-putarkan zona otak kiri saya dengan bilangan Fibonacci. Bagi kawan saya ini, matematika adalah keindahan dan keseimbangan pun dengan bilangan Fibonacci. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Awalnya ia membuat saya untuk berusaha berjarak dengan ingatan jangka panjang. Saya harus mengingat-ingat lagi tentang bilangan dan permainan Fibonacci yang sering kami mainkan beberapa tahun lalu. Pantas saja saya tak banyak mengingatnya karena disiplin yang saya pelajari selama lebih dari tiga tahun ini tidak memungkinkan saya untuk sering bersentuhan dengan barisan hitung dan rumus bilangan angka. Akhirnya, sedikit demi sedikit ia memberi saya kode-kode, dan saya sukses mengingatnya kembali. Ingatan saya kembali pada banyak rasio emas yang pernah kami temukan dulu, baik lewat eksperimen kecil maupun keterangan mesin pencari di internet yang kami buktikan sendiri. Bukti-bukti keberadaan rasio emas tersebut antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perbandingan anggota tubuh kita selalu sesuai dengan rasio emas      ini. Coba anda buktikan sendiri; Jarak antara pergelangan tangan dan siku      : jarak antara ujung jari dan siku, panjang kepala :jarak antara garis      bahu dan unjung atas kepala, jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala      : jarak antara pusar dan ujung atas kepala, jari-jemari manusia memiliki      tiga ruas. Perbandingan ukuran panjang dari dua ruas pertama terhadap      ukuran panjang keseluruhan jari tersebut menghasilkan rasio emas (kecuali      ibu jari). Juga dapat diihat bahwa perbandingan ukuran panjang jari tengah      terhadap jari kelingking merupakan rasio emas pula. Lebar wajah: panjang      wajah, panjang hidung:jarak antara bibir dan titik di mana kedua alis mata      bertemu , dst... Dasyat kan? Konon Leonardo Da Vinci menggunakan rasio      emas ini untuk mengukur besar Monalisa yang akan ia lukis. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Spiral yang didasarkan pada rasio emas memiliki rancangan paling      tak tertandingi yang dapat anda temukan di alam. Sejumlah contoh pertama      yang dapat kita berikan adalah susunan spiral pada bunga matahari dan buah      cemara. Panjang garis spiral cangkang laut paling depan : berikutnya juga      membetuk rasio emas ini. Ada lagi contoh yang merupakan penciptaan tanpa      cela oleh-Nya dan bagaimana Dia menciptakan segala sesuatu dengan ukuran:      proses pertumbuhan banyak makhluk hidup berlangsung pula dalam bentuk      spiral logaritmik. Bentuk-bentuk lengkung spiral ini senantiasa sama dan      bentuk dasarnya tidak pernah berubah berapapun ukurannya. Anda bisa cek      ukurannya pada daun, tangkai, serangga&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;DNA tersusun atas dua rantai heliks tegaklurus yang saling      berjalinan. Panjang lengkungan pada setiap rantai heliks ini adalah 34      angstroms dan lebarnya 21 angstroms. (1 angstrom adalah seperseratus juta      sentimeter.) 21 dan 34 adalah dua angka Fibonacci berurutan. Kali ini yang      mengungkapkan adalah kawan saya yang mahasiswa matematika itu. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia masih menantang saya jika saya tidak percaya dan menganggapnya sebagai sebuah kebetulan untuk mencari fakta-fakta di balik bilangan Fibonacci di mesin pencari. Hah? Jangan-jangan pola-pola interaksi sosial yang bisa diukur oleh positivis sama dengan logika Fibonacci? Alaaaah... Saya mulai berpikir perdebatan antara logika Fakta Sosial yang berkonsekuensi metodologi kuantitatif dan logika definisi sosial yang lebih kualitatif perlu sebuah peninjauan ulang. Hahaha... Anggap saja saya sedang meracau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di akhir pembicaraan kami, iseng-iseng saya bertanya-tanya pada kawan saya itu;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lalu apakah angka Fibonacci juga dapat menjelaskan pola usia hidup?”&lt;br /&gt;”Coba aja; sekarang berapa umurmu?”&lt;br /&gt;”21”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Oke... 21 ya... berarti 21 dikalikan 1, 618, jawabannya: 33, 9. Wah dibulatke wae... berarti kau akan meninggal pada usia 34, ahaha”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lho, sing iki logikane ra mutu. Misalnya kita bertemu saat usiaku 25 bisa aja akan usia kapan aku mati berubah, atau berarti semua anak yang berusia 21 saat ini akan mati pada usia 34? njuk pye?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Yo emang ga ada yang tau kapan orang itu mati. Dasar Buduuuug! Hanya Tuhan yang tau. Wah... Kesimpulanmu yang terlalu dini tentang Fibonacci berlebihan, hahahah” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“?!?!?!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadi, apakah bilangan Fibonacci benar-benar pola Tuhan untuk menciptakan? Atau hanya kebetulan saja? Yang jelas, jika anda mencari di mesin pencari anda akan mendapatkan fakta-fakta lain yang lebih mencengangkan. Ya... Lagi-lagi... manusia... tentu pengetahuannya masih sangat sangat kerdil jika dibandingkan Tuhan. Sekali lagi jika anda masih percaya Tuhan ;p.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-7220762503941244444?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/7220762503941244444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/02/seorang-fibonacci-muda-bilang-saya-akan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/7220762503941244444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/7220762503941244444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/02/seorang-fibonacci-muda-bilang-saya-akan.html' title='Seorang Fibonacci Muda Bilang Saya akan Mati pada Usia 34'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-6905112150500730174</id><published>2009-01-22T19:28:00.001+07:00</published><updated>2009-01-22T20:02:49.394+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'>Skandal Lembaga Survey Pemilu Seratus Juta</title><content type='html'>Matahari 2009 terbit, pesta perebutan kuasa lima tahunan siap digelar lagi. Jargon-jargon romantis tentang perubahan dimaklumatkan dan ah… tak lupa tebaran gambar wajah senyum penuh kepentingan pun mulai mengganggu pemakai fasilitas umum. Selain itu, sepertinya legitimasi akademis mulai sering digunakan calon-calon terpilih untuk saling melumatkan kekuatan lawannya. Akademisi tak kalah lihai membaca pasar dengan beramai-ramai mendirikan lembaga survey politik praktis. Fenomena demikian pun terjadi di semua provinsi negeri angin, tak terkecuali berdirinya sebuah lembaga survey yang dipelopori dosen sebuah fakultas pada  salah satu universitas di kota gudeg ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan lembaga survey ini memberi cap sedemikian gemerlap pada institusinya: andal, data reliabel dan valid, serta mampu menjaring ribuan responden dengan waktu cepat. Tag line semacam itu memang  cukup mantap tuk sekadar jual kecap, sayangnya cukup gagap ditataran praktek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lusa, seorang kawan bertandang ke flat saya dan mengajukan penawaran untuk menjadi surveyor atau enumerator di lembaga survey milik seorang dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Tiw, bergabunglah bersama survey ini. Aku merekomendasikanmu pada supervisinya. Lumayan lho seminggu bayarannya bisa lebih dari setengah juta. Pye?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang sih aku biasa melakukan survey, tapi baru kali ini aku ditawari jadi ‘buruh’ di bidang politik praktis. Jawabanku: Emoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alesane; pertama, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berpeluh keringat mencari penghasilan lagi. Ada tuntutan lain yang harus diselesaikan dengan segera. Kedua, aku masih belum selesai dengan persoalan pengetahuan dan kepentingan apalagi sangkutannya politik praktis. Ketiga, jangan kira responden sekarang bisa gampang diambil datanya. Mereka akan menanyakan padamu survey ini tentang apa? Tujuan dan kepentingannya apa? yang mendanai siapa? Dan aku sedang malas menghadapi mereka. Eh, sik.. sik…; emange lembaga ini didanai berapa dan oleh siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kira-kira seratus jutaan, yang ndanai ya partai ********************* dan media ****************”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow dasyat! Saya memang tak meragukan kapabilitas dan kredibilitas para perancang survey tersebut. Hanya kemudian lagi-lagi berpikir; ternyata di ruang public dalam hal ini media cetak dan elektronik terdapat sebuah kesatuan:  kepentingan, kuasa dan pengetahuan. Saya rasa ini sah-sah saja meski saya sendiri belum selesai dengan persoalan ini. Akhirnya, dengan agak sok-sok an saya menolak tawaran teman saya itu ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian kawan saya datang lagi ke flat saya dengan wajah murung namun terlihat lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pye surveynya sudah selesai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah. Tapi, selesai dengan sangat licik dan busuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, aku ditugaskan menjaring responden di Sleman dan Kota Yogya. Aku yang sendirian ini ditugaskan untuk menjaring seratus responden dalam waktu satu minggu. Seperti yang kita ketahui bersama, birokrasi di kelurakan, kecamatan itu sangat berbelit dan tak butuh waktu sehari dua hari. Sedangkan di Kota dan Sleman itu terdiri puluhan kecamatan. Kebanyakan responden yang juga beberapa birokrat ini tak mau mengisi kuesioner tanpa izin dari Kecamatan. Dan satu kuesioner itu ada puluhan pertanyaan. Gila ga sih? Apakah cukup realistis jika aku hanya diberi waktu satu minggu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh huh? Tapi akhirnya selesai kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya memang demikian. Tapi tiba-tiba di hari kelima tim pendana yang dari Jakarta datang ke Yogya dan meminta semua data yang belum selesai itu dan olahannya. Sinting tu mereka semua! They did it for their fucking media! Perjanjiannya kan tujuh hari dan menurutku itu tidak cukup realistis, mereka malah datang pada hari kelima. Deadline diajukan. SINTING!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Trus pada selesai ga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya belum lah, temenku banyak yang belum, aku masih kurang sedikit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, supervisiku yang mengisi kuesioner yang belum terisi itu seenaknya. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok begitu? Datanya ga valid dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelas. Trus supervisiku itu bilang ya sudah, lha wong mereka ga fair, saya juga ga fair dong. Kalo mereka cukup realistis ya saya realistis. Data dimanipulasi agar sekiranya hasilnya sesuai harapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar perkiraan saya selama ini. Fenomena ini menunjukan ternyata kepentingan bahkan ada diatas pengetahuan. Pengetahuan bisa seenaknya dimanipulasi demi sebuah kepentingan. Tag line (sok) cakap  bak jual kecap ternyata di tataran praktek cukup gagap dan bermuara pada gagalnya penelitian. Jadi, perlukah kita percaya dengan hasil penelitian lembaga survey politik?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-6905112150500730174?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/6905112150500730174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/01/skandal-lembaga-survey-pemilu-seratus.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/6905112150500730174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/6905112150500730174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/01/skandal-lembaga-survey-pemilu-seratus.html' title='Skandal Lembaga Survey Pemilu Seratus Juta'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-2468144294982844235</id><published>2009-01-16T11:36:00.000+07:00</published><updated>2009-01-16T11:38:45.714+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'>My Blue, My thankfulness</title><content type='html'>This day, I remember what alifa’s said about life; “GOD is the greatest comedian ever after across the universe,”  So, she is also make me remember about my big brother said last year “think positive n takes ur time to laughing when you get a problem, even there is a big… big problem, because the cosmos will response u like u was thinking ” Hiahaha.. L.. O.. L.. What do u think about that? I am sure that u had been feeling the same thing. You can, if u think u can, You get worst if you think bad. I thought my big brother have a talent to entertain people, although he’s truly right. But the best entertain is GOD. N alifa? Okay.. she has the same talent with my bro but she will becoming the down entertain with ‘suicide’ on her middle name, is it right fa? ;p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last month, I dreaming till I am fly into the high n wonderful place . But, in the same time I am down to the depths of misery. There are so many things unpredictable. Sometimes I feel so strong n can finished my big problems by my self, but in the other time, like now, there is a little problem with my heart that I can’t fix it. I never suppose that it will so hurt. Feels just like…yeaa… I am nothing.., whereas I wasn’t born yesterday. It’s no big irony, I am thankful for Zee, that always come to my flat when am down n bring a cup of rose tea for me, even I didn’t tell her that I am so ‘sick’. “Tiway.. Suddenly, I want to go to your flat, don’t know why, my feelings tell me that ure not okay..” . N for my other sists n bro in the 2nd home; Ntan, Ken n Di who always ask me; “Come on.. I am sure that u can fixed it up, n everything will be okay, I’ll be there 2 support u,” N I always know that tomorrow everything will gonna be ok. Maybe that’s the reason why I am always give my silly laugh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back again to the GOD as comedian, sometimes He is make my dream come true, but in other times He throw me 2 the deep ravine. I don’t know what His plans for me tomorrow. It’s must be surprises. If I remember everything what did happen in my life, yeaa, I can get laugh. Sometimes, I think; how did this silly thing can happen? How sentimental fool can be? What a stupid Tiwi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If everything has been written down by GOD, so why worry.. When He make me down, @ the same time He send me so many angel a.k.a Alifa, Zee, Ntan, Ken, n Di… n the other angel; Mr n Mrs eL, as my lecturer that always support me to pursue my dreams…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If life is ever changing, so why worry, we say..&lt;br /&gt;It’s still you and I with silly smile as we wave goodbye&lt;br /&gt;And how will it be? Sometimes we just can’t see&lt;br /&gt;A neighbor, a lover, a joker&lt;br /&gt;Or friends you can count on forever?&lt;br /&gt;How happy, how tragic, how sorry?&lt;br /&gt;The sun’s still up and life remains a mystery&lt;br /&gt;So, would it  be nice to sit back  in a silence?&lt;br /&gt;Despite all the wisdom and the fantasies..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From Dewi ‘Dee’ Lestari with Grow a Day Older in her albums “Recto Verso”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-2468144294982844235?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/2468144294982844235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/01/my-blue-my-thankfulness.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2468144294982844235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2468144294982844235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2009/01/my-blue-my-thankfulness.html' title='My Blue, My thankfulness'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-5055726279169423326</id><published>2008-12-23T09:38:00.005+07:00</published><updated>2008-12-23T12:10:45.081+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>Cinta dan Doa yang Absurd</title><content type='html'>Senin malem, 221208, aku berencana menonton film bersama Ifa n Agus. Sepertinya film yang bagus n lagi diputar di 21 hanya twilight dan tiga cinta tiga doa. Berdasarkan rekomendasi beberapa orang yang sudah menonton twilight, film ini tak sebagus novelnya yang best seller. Biasalah... sindrom filmisasi novel, pasti imajinasi jadi terbatasi dan penonton yang telah membaca novelnya dibuat kecewa. Tapi, kupikir, masih ada lah ya filmisasi novel yang berhasil: Laskar Pelangi. Itu satu-satunya menurutku. Akhirnya, kami bertiga memutuskan menonton tiga cinta tiga doa. Janjianlah kami bertemu di B21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin siang, Ifa meng-sms ku bahwa ada kawannya, Patria, yang ingin ikut nonton bersama kami. Patria, si cowok charming (ni kata ifa lho pat, mau GR juga gapapa hihihi) ini juga menawarkan tebengan mobilnya... hihihi... lumayanlah, pulang malem dikit asal dianter pake mobil. Jam 17. 30 aku tiba di kos ifa, 15 menit kemudian patria juga di kamar yang  (sedikit) berantakan ini. Mendingan lah kondisi kamarnya daripada waktu Ifa stress mengerjakan skripsinya hehehe. Tak lama, azan maghrib berkumandang, akupun melaksanakan kewajiban absen kepada Tuhan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun meluncur jam 18. 00 dari kosan ifa dan menjemput Agus di B21. Jam 18. 41 kami tiba di amplas. Agus memesan tiket, aku dan ifa membeli jagung berondong. Unfortunately, kami dapat tempat duduk nomer tiga dari depan. Ya gapapalah, ifa kan ga bawa kacamata. Mmmm kami menonton film yang diperankan oleh Nicholas Saputra n Dian Sastro ini. Kupikir filmnya bakal bagus, lha wong ada butet nya juga. Ternyata... penonton kecewa hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ceritanya ada tiga santri yang bersahabat dan memiliki konflik pribadi masing-masing. Si Huda (Nico), rindu ibunya yang lama tak menengoknya di pesantren. Si Syahid, yang pingin nge-bom syahid dan mati sahid, n si Rian (Yoga Pratama) yang terobsesi jadi pembuat film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Huda bertemu Dona (Dian Sastro) di sebuah kuburan. Konon, setiap hari Dona melakukan ziarah kubur ibunya. Akhirnya mereka berkenalan, dari perkenalan tersebut Huda tau kalau Dona pernah tinggal di Jakarta. Maka, Huda pun meminta tolong Dona untuk mencarikan alamat ibu Huda di Jakarta dan memastikan keadaannya. Dona menyanggupi asal Huda membayarnya. Akhirnya interaksi terjalin antara santri dan penyanyi dangdut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film ini Dian Sastro berperan sebagai penyanyi dangdut yang seksi nan bahenol. Kontras sekali dengan kehidupan Huda yang religius. Film yang bersetting dari tahun 2001 hingga 2005 ini mungkin bisa mengeksplor suasana pada waktu tersebut, dari jenis uang yang diterbitkan pada tahun tersebut, logo breaking news SCTV pada tahun tersebut, namun sayangnya dialong anatara Huda dan Dona berlangsung sangat datar dan tidak mengalir, logat Jawa si Dona terkesan dipaksakan, apalagi ketidaklihaian si Nico menghayati kehidupan pesantren tradisional makin mengganggu kekhusukan menonton. Konflik antara Huda yang tak pernah dikunjungi ibunya diputus begitu saja dengan kenyataan bahwa ternyata sang ibu yang kerja di sebuah pub telah meninggal. Si Huda ini ceritanya jadi santri kesayangan Romo Kyai, petinggi di pesantren tersebut. Biasalah seperti fenomena pesantren tradisional lainnya, ada santri kesayangan yang dijodohkan dengan anak dedengkot pesantren tersebut sebagai 'balas jasa'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik aneh yang disajikan dalam film ini tak hanya dialami Huda tapi juga Rian. Awalnya, Rian mengajukan syarat pada ayahnya; ia mau belajar di pesantren asal dibelikan handycam. Namun, ia mulai lupa permintaannya tersebut tatkala ayahnya meninggal. Ketika ia hampir lulus dari pesantren, sang ibu mengiriminya handycam. Handycam inilah yang akhirnya menjerumuskan ia, Huda, Syahid dan Romo Kyai ke dalam penjara karena si Syahid yanbg keranjingan mati syahid mengikutu kajian islam garis keras di luar pesantren, pelatihan perangnya dan merekam dirinya sebelum ia mati syahid. Tak hanya itu, handycam itu juga telah merekam dian sastro yang lagi casting jadi artis oleh si Huda. Rekaman yang lain juga digunakan Rian untuk merekam film2 di pasar malam dan perkenalannya dengan butet. Handycam itu lalu diambil oleh ustadz nya, ya karena pesantren tradisional peraturannya memang begitu. Entah bagaimana handycam ini bisa sampai ke tangan polisi pada saat seru-serunya pengeboman WTC. Akhirnya ditangkaplah mereka bertiga dan dituduh penganut islam garis keras. Well, di luar carut marut yang disebabkan handycam tersebut, ternyata latar belakang mengapa Rian diberikan handycam baru yakni karena ibu Rian ingin menikah lagi. Rian yang emosi tak bisa digambarkan dengan menghayati oleh sang pemeran pun dengan kelanjutan konflik rian dengan ibunya. Lagi-lagi seakan diputus begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Syahid juga mengalami konflik serupa, di satu sisi ayahnya sakit ginjal dan harus dioperasi kalau tidak harus cuci darah, di sisi lain ia ingin cepat mati syahid. Suatu ketika sawahnya dibeli oleh ekspat Amerika yang amat dibencinya untuk kesembuhan ayahnya. Namun, tanahnya hanya laku sepuluh juta. Ia mencak-mencak pada bule tersebut, tapi sayang sang bule hanya menganggapnya sebagai luapan rasa terimakasih karena tak mengerti bahasa indonesia. Saat penandatanganan surat kuasa, bule itu akhirnya mengerti bahwa syahid butuh dana banyak untuk pengobatan ayahnya. Akhirnya si bule yang menanggung semuanya tanpa diketahui siapapun. Dan syahid mengurungkan niatnya untuk mati syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini diawali dengan mimpi masing2 tiga santri tersebut serta doa yang mereka tulis di dinding pojok pesantren. Selain konflik tiga santri tersebut film ini juga dibumbui kehidupan pesantren, yaaa biasalah tentang kencan diam2 antara santriwan dan santriwati, fenomena sodomi di pesantren sampai poligami di kalangan ustadz yang tak kunjung mendapatkan anak lelaki untuk meneruskan tradisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, film ini ga jelas klimaks dan antiklimaksnya. Akhirnya si Dona masih menyanyi, Huda menikah dengan anaknya Romo Kyai, Syahid dibebaskan dari penjara dan Rian memang sudah menjalankan usaha video shoting pernikahan seperti impiannya dulu. Sepertinya ada dialog yang terpotong saat si ustadz garis keras ngomong "Orang kafir itu halal......" ga dilanjutkan "darahnya" yaa mungkin ini untuk kepentingan sponsornya yang dari perancis juga sih. Selain itu, mungkin film ini juga bertendensi untuk meluruskan ayat-ayat tentang bagaimana umat islam bergaul dengan keberbedaan yang seringnya ditafsirkan secara liar sehingga melegitimasi kekerasan dan peperangan. Lalu apa lagi ya.... mmmm akhirnya aku berkesimpulan semuanya dataarrrr dan ya! Absurd...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-5055726279169423326?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/5055726279169423326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/cinta-dan-doa-yang-absurd.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5055726279169423326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5055726279169423326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/cinta-dan-doa-yang-absurd.html' title='Cinta dan Doa yang Absurd'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-2290656687970206409</id><published>2008-12-16T19:49:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T20:02:52.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culinary'/><title type='text'>Tindakan SAR Saat Lapar: Coto Makasar</title><content type='html'>&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jumat siang, 12 Des 2008 aku diminta menemani Frida buat nyariin titipan dosen yang jadi atasannya ke sebuah pertokoan bilangan Malioboro. Ceritanya, Frida dititipin sesuatu yang awalnya kami pikir akan mudah didapat tapi ternyata sangat sulit. Setelah menelusuri beberapa dari timur Jogja, barat Jogja akhirnya ke selatan dikit… hhhmmmpf ketemu deh. Gitu ya rasanya jadi asisten dosen, sampe hal-hal terkecil sang dosen yang ga ada hubungannya dengan urusan akademik, sang asisten ikut mengurusi.. ck.. ck.. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setelah tiga jam menelusuri pertokoan tersebut, sang lapar mulai menyerang. Pertanyaannya kemudian, mau makan dimana? Yah, yang namanya orang laper pasti ketemu makanan yang enak dikit aja langsung deh diserbu kayak orang ga makan seminggu. Sempat kepikiran beberapa referensi kuliner yang kayaknya enak dicoba siang itu, Mie Bangka, Pecel, Gudeg, mmm.. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Kalo kesana suka lama tuh mba, udah laper banget kan.. yang deket dan lumayan mak nyus dari sini kayaknya coto makasar deh, mau kesana ga?” tawar si Frida&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Ya udah deh, tapi ini kayaknya emang kamu yang lagi pengen deh,” sahutku sambil berpikir ada tho coto makasar di Jogja? Ya iyalah, kota pendidikan githu, setiap tahun orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan yang dari luar negeri buat pertukaran pelajar datang kesini. Bisa dipastiin kulinernya lebih beragam dengan biaya makan yang lebih murah pula dibanding Jakarta, Surabaya, atau kota besar lainnya. Mulai deh otak mulai ngigau ga jelas, nanya sendiri, dijawab sendiri. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Beneran, tapi kalo mau yang lain ya ga papa,” kata Frida lagi&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Yo wes, kesana aja, lha wong aku belum pernah nyoba, semoga ga mengecewakan,” balesku.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kami pun meluncur kesana. Sampailah kami ke Coto Makasar di Jl. Abu Bakar Ali No. 5, Kotabaru, Yogyakarta, depannya persis asrama mahasiswa Sulawesi Selatan, bisa sambil ngeceng kan? Heheheh. Ancer-ancer nya nih ye; Stadion kridosono ke barat arah Abu Bakar Ali, itu lho… juga yang kearah perpus st. Ignatius n banyak orang jualan helm. Nah kalo udah liat persimpangan STEI, ada gang agak kecil gitu ke kiri, lurus aja 50 meter langsung deh ketemu, atau tanya orang-orang disekitar situ udah pada hafal tempatnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tak lama kemudian kami pesan Coto Makasar n Es Jeruk. Mmmm tunggu dulu, ternyata ga Cuma coto makasar, ada es palu butung n es pisang ijo, Makasar banget kan? Satu porsi coto makasar dibanderol enam ribu rupiah, itu belum ada nasinya, eh ga pake nasi ding… Pakenya ketupat yang satuannya dihargai limaratus perak. Kamu bisa request coto yang daging aja atau pake jeroan. Tapi kayaknya lebih sehat yang daging aja deh. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pesenan langsung datang tiga menit kemudian dan bau rempah-rempahnya kecium banget. Begitu dicicipi….. Hmmm cakep banget rasanya… walaupun aku ga ngerti resepnya nih ye, tapi boleh lah ya sok tau hehehe, dari perspektif sang tester nih: ada bubuk kedele yang gurih banget, mrica yang agak banyak, kerasa dikit sih pedes panasnya, bawang putih, santen, n rempah-rempah lainnya yang aku ga tau namanya. Mmmm cirri khas masakan Indonesia timur banget deh. Beda sama masakan Jawa yang manis, palagi  masakan Aceh atau Padang yang lebih asin, meskipun sama-sama pake banyak rempah-rempah, tapi kayaknya yang coto makasar ini porsi rempahnya lebih sedikit dan lebih berasa gurihnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi kepikiran, ternyata lidah tiap daerah juga beda-beda ya, (Gilaaaa.. ya masak gidong, Farid aja Fatahilah masak Fatahidong, hehe piss Rid, mencoba jayus, hehehe) Suatu ketika aku nyoba masakan Italy, eropa banget cirri khasnya; ga pedes, banyak susunya, bumbu rempah sama sekali ga ada, kalo ada merica pun dikiiiit banget, asin dan gurihnya tu berasal dari keju. Kalo masak daging ya.. dagingnya dibikin agak manis, bumbu yang sering menonjol palingan pake bawang putih dan minyak zaitun. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ke timur dikit di China, dominasi tumis-tumisan, mulai kerasa cabe dan bawangnya. Jepang juga gitu, rempah-rempahnya ga terlalu nendang tapi masih cocok di lidah Asiaku lah ya. Ke timur lagi ada India, Arab dan segenap negara yang nama belakangnya pake   –tan, yang ini nih rempah-rempahnya mulai kerasa banget,unsur kambing juga mulai banyak, pedesnya bener-bener dari merica, nendang sekaligus panaassssss. Manifestnya sih yang paling biasa disana: Nasi Kebuli, cuakep banget rasanya…&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Anganku pun melayang jauh ke seluruh kuliner di dunia… mmm sampe ga kerasa semangkuk coto makasar, tiga ketupat, satu tahu n sate telur ludes (rakus banget nih). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Piye mbak? Ga kecewa kan?” Tanya Frida&lt;br/&gt;“Ya enggak lah, enak banget sumpah, jadi satu referen nih, hehe,” Sahutku&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tak lama kemudian kami pun meluncur ke kos kami di daerah Jl. Kaliurang km 5. Cotoooo Makasar.. kau tak terlupakan.. apalagi oleh Nura yang terobsesi sama orang Makasar… hehe piss Nur!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-2290656687970206409?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/2290656687970206409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/tindakan-sar-saat-lapar-coto-makasar.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2290656687970206409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2290656687970206409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/tindakan-sar-saat-lapar-coto-makasar.html' title='Tindakan SAR Saat Lapar: Coto Makasar'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-5549767772074911683</id><published>2008-12-15T13:26:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T13:30:42.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'>Keledai pun Tak Mau Terjebak Lagi di Lubang yang Sama</title><content type='html'>Bulan depan mubes. Musyawarah Besar di Balairung; Persma yang saat ini butuh narsis menurutku. Sebentar lagi aku akan hengkang dari sana juga rumah kecil itu. Tujuanku menulis ini hanyalah melukis sejengkal kisah di Balairung. Awalnya, aku menyepakati apa yang pernah diobrolkan bersama Abdi perihal ujaran Hegel tentang sejarah yang mencatat bahwa sepanjang sejarahnya, manusia tak pernah belajar apapun. Mubes oh mubes,  kadang aku berpikir, tak pernah belajar apapun. Perubahan? It’s bull! 21 tahun kok molor terus, mutungan terus. Terkadang sulit memang mengungkapkan apa yang dirasakan pada orang lain, lebih baik dipendam, dan sayangnya ini akan berbahaya. Apalagi memisahkan hubungan profesional dan emosional, saya paling kesal mengadaptasi dengan teman-teman yang punya masalah seperti ini. Memutus ritus perlu greget dari kesadaran masing-masing awak. Semuanya tentu. Ketika mimpi sebuah lembaga tak dibarengi dengan perjuangan kolektif, betapa menyakitkan. Tapi izinkan aku melukis kisah ini. Kisah tentang warna kerja di persma terbesar di dunia berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nafas Intelektual Mahasiswa” Jargon itu begitu lekat dengan Badan Penerbitas Pers Mahasiswa yang aku geluti selama hampir tiga tahun ini. Ujaran seseorang tentang definisi intelektual berikut bisa jadi benar; sosok orang yang dapat mempertahankan hidupnya dan orang lain dalam situasi yang genting sekalipun. Sudahlah, tak ada lagi kata-kata romantis tentang intelektual yang perlu dilebihkan. Itu lebih baik daripada semua bermuara pada dusta. Dusta hanya akan membimbing pada pertahanan yang buruk. Dan awak-awak Balairung kini nyaris tak dapat mempertahankan hidup lembaga karena dusta mewarnai kondisi internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah dusta jika seseorang hanya mampu menghasilkan pemikiran dan pernyataan dasyat tanpa adanya bukti nyata. Kakean diskusi, miskin data, bar kuwi molor sisan. Bicara dusta, mari bicara Balairung sebagai sebuah badan penerbitan pers mahasiswa. Tentu saja juga tentang aku, kau dan kita semua. Mengerjakan produk bukanlah hal yang main-main: dusta!, Mengerjakan produk selesai tepat waktu: dusta! Persma sebagai ajang aktualisasi yang dipilih secara sadar dan bertanggung jawab: dusta! Toh, keluh kesah masih terdengar kala awak mengerjakan produk.  Tapi, di luar itu saya apresiasi bagi teman-teman di angkatan pertama dan kedua yang menikmati rumah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, layaknya gerakan pers, persma hanya dapat hidup dengan produk penerbitan. Banyak faktor yang mempengaruhi eksisnya lembaga pers. Eksistensi lembaga pers salah satunya berkorelasi positif dengan kuantitas dan kualitas produk.  Jika dalam penerbitan produknya saja diwarnai dusta, saya yakin eksistensi persma terancam. Celakanya, jika persma tak bergegas refleksi diri, ia akan segera musnah. Persis seperti ramalan Karl Marx terhadap kapitalisme. Juga ramalan tetangga kepada tetingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, Balairung masih dapat menerbitkan dua produknya-jurnal dan balkon- meski tertatih. Dua produk tersebut juga menjadi jalan pijakan Balairung sebagai pers mahasiswa: berwacana dan berkomunitas. Pijakan itu yang akhirnya melahirkan sinergi kerja empat divisi. Social trust dalam sinergi kerja membutuhkan satu prasyarat yakni adanya norma yang disepakati.&lt;br /&gt;Sayangnya, social trust yang digemborkan sejak awal semakin luntur karena dalam pengerjaan produk diwarnai keegoisan masing-masing awak dan divisi. Akhirnya aku sepakat dengan Abdi yang memberi jeda antara perasaan egois dan pembagian kerja. Aku tahu sejak awal tugas kita masing-masing telah dibagi, tapi bukankah dalam menjalankannya kita harus tetap berkoordinasi? Artinya ada kerjasama disana, pembagian kerja tentu tak dimuarakan pada keegoisan. Sangat egois ketika tak saling menghargai kesepakatan, tak saling mengingatkan dan tentu saja mementingkan kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya berawal ketika Dewan Pemimpi(n) dari Redaksi, Produksi dan Artistik, Riset dan perusahaan berkumpul untuk membicarakan matriks jurnal. Akhirnya disepakati jurnal akan terbit oktober dengan asumsi akhir juni selesai edit bahasa, sehingga biSA berangkat KKN dengan tenang. Namun salah satu divisi molor, sekiranya kurang satu tulisan yang masuk dari divisi tersebut, sedangkan divisi yang lain telah berusahan dan berhadil memenuhi kesepakatan awal.  Maka, mutung2 an tak terhindarkan lagi. Terjadilah proses yang tidak dewasa itu. Padahal riset diburu oleh korporasi yang mendanai penelitiannya, akibatnya hasil riset yang sudah jadi itu belum bisa terbit juga, Selak basi validitas datane, dab!  dan korporasi tersebut membatalkan kontraknya apalagi setelah riset mengajukan MoU yang baru. Perusahaan juga diburu pengiklan dan jurnal telat, apa yang terjadi, entahlah. Forum asertif yang direncanakan tak pernah terlaksana karena ketidakhadiran beberapa DP. Konflik ini hanya sebagian kecil dari banyak konflik yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah… ketika keegoisan sudah menjadi budaya disini, aku mencoba untuk tak memakai perasaan. Inilah yang membuat keraguanku hilang kala aku harus sendirian di angkatan tiga divisi riset. Aku harus egois, ikut ritme, tak peduli pada awak-awak yang tak lagi membersamai, toh aku masih punya bala kurawa yang siap berlari meski terengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, obrolan dengan ifa yang masih bingung soal pembagian kerja dan identitas kebalairungan mengejutkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya balairung akan mendidik awaknya jadi yang semacam apa sih? Keren ya.. balairung masih bisa jalan tanpa alur koordinasi yang jelas dari struktur, maksudku pada prakteknya, konsep sebenarnya sudah jelas di AD ART. Permasalahannya adalah kita tak dibiasakan dengan forum asertif. Dimana semua orang bisa dan berani menyatakan apa yang dirasakannya dan kemudian ada diskusi dan hal jawab. Semuanya terlalu terbawa perasaan dan akhirnya berujung mutungan, kerja jadi kacau” Tutur Ifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, kayaknya mengungkap apa yang dirasakan di forum besar susah juga, mungkin secara pribadi. Kalau orangnya cuek sih ga papa tapi kalau sensitif jadinya ya... aku ragu..” Aku menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya kayak gitu, kemarin aja aku melihat proses yang tidak sehat itu. Ada editor yang dikritik editor lain, tapi editor yang dikritik malah jadi mutung dan ga mau ngedit, yo wis editen kono, gitu...” Sahut Nura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, aku jadi inget raker kedua, kok bisa muncul komunitas tanpa otak? Mbok ya jangan ada dikotomi antara anak2 yang ‘serius’ dan tidak. Kalau bisa anak-anak yang lain mengejar teman-temannya dan anak-anak yang dianggap serius itu harusnya lebih terbuka,” Putra menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pembicaraan ini aku SMS an dengan Ifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok jadi kayak gini to; talk with putra hopeless, talk with oky he feels guilty n tak ada hal lain selain memberinya maaf dan kepercayaan lagi (bagiku ini menyebalkan), talk with abdi feels like hells n make me want to suicide, come on... ini persma terbesar di Indonesia. Koordinasi yang seperti ini? Kalian terlibat konflik, It’s shock me out!”&lt;br /&gt;Sender: Noor Alifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wis to fa ga usah pake perasaan, cuek aja lah. Kalau dipikir pakai perasaan, lebih baik nafikanlah sama sekali,” Jawabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah menurutku yang menggerakan balairung, utamanya perasaan bersalah”&lt;br /&gt;Sender: Noor Alifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah… baiklah… Maafkan saya… Lantas, apa kondisi demikian yang akan terus-terusan mewarnai internal persma terbesar di dunia berbahasa Indonesia ini? Tanyakan pada rumput yang bergoyang hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, teringat pada apa yang pernah disampaikan dosen pembimbingku, bahwa posisi kerangka teori dalam sebuah penelitian bukan dipaksakan sama dengan data lapangan. Melainkan, hanya tuntunan untuk dikaji lewat penelitian selanjutnya tidak disepakati atau dikritisi. Ini karena konteks ruang, waktu, budaya  dan subjek penelitian tatkala teori itu lahir samasekali berbeda dengan saat ini. Dan akhir-akhir ini aku tidak sepakat dengan apa yang diujarkan Hegel bahwa manusia tak pernah belajar apapun sepanjang sejarahnya. Aku tidak menyepakatinya karena dari obrolan kumpul divisi, menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang siap dilaksanakan dan kini terlaksana meski tak sempurna. Ketidaksempurnaan akan terus menjadi cambuk perubahan. Masih ada keyakinan bahwa manusia merupakan makhluk yang dinamis. Keledai pun tak mau terjebak lagi di lubang yang sama. Semoga konflik yang terjadi  dapat menunjukan sisi fungsionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brontokusuman, 261108 pkl 10. 33. Ada  mbak Norah Jones yang masih nyanyi...&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Spinning, laughing, dancing to her favorite song &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A little girl with nothing wrong, is all alone &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eyes wide open, always hoping for the sun &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And she'll sing her song to anyone that comes along &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Crooked little smile on her face tells a tale of grace &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thats all her own&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-5549767772074911683?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/5549767772074911683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/keledai-pun-tak-mau-terjebak-lagi-di.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5549767772074911683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5549767772074911683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/keledai-pun-tak-mau-terjebak-lagi-di.html' title='Keledai pun Tak Mau Terjebak Lagi di Lubang yang Sama'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-5753399805675510002</id><published>2008-12-15T11:54:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:57:11.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacananya Tiwi'/><title type='text'>Sulitkah Menjadi Indonesia?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;“Ukhti dibayar berapa untuk melakukan pemurtadan? Hati-hati dengan isu inklusifisme yang mereka gulirkan”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Bhineka Tunggal Ika” Jargon ini begitu lekat ditanamkan dari sejak saya TK sampai sekarang. Saya yakin, semua orang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; paham maknanya; Berbeda tapi tetap satu. Perbedaan di Indonesia merupakan sebuah realitas. Tapi kadang terdapat oposisi biner; di satu sisi jargon ini ditanamkan dalam pelajaran PPKn, harus dihafal –layaknya murid merupakan bejana kosong yang siap diisi, tak dididik untuk memiliki daya kritis dan pemahaman realitas, begitu ujar Paulo Freire—di sisi lain ada sekolah khusus anak orang kaya, sekolah khusus keyakinan ini, sekolah khusus suku ini, suku itu, kelas akselerasi sampai SLB. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Benarkah generasi kita sudah benar-benar dididik “Bhineka tunggal ika” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jika sejak dari ‘bonggol’nya saja sudah dikonstruksi untuk mengotak-kotakan sesuatu? Seperti apa yang ditanamkan sejak kecil tentang apa yang hitam dan putih; “oooo anak ini cacat, dia beda, ga bisa apa-apa, harus dikasihani”, padahal sebenarnya ‘cacat’ hanya konstruksi pikiran. Saya yakin setiap anak diciptakan untuk memiliki bakat kognitif maupun non kognitif masing-masing. Itu baru soal perbedaan fisik dan mental, belum lagi masalah krusial seperti ideology hingga kesukuan “oooo anak suku ini begitu suku itu begini”, “pokoknya harus berhati-hati bergaul dengan anak-anak yang seperti itu”, “eh kamu jangan baca buku ini-itu, berbahaya!”, “eh jangan main sama anak itu, nanti kamu jadi begini,” Fenomena ini pun turut membawa kesadaran pada saya betapa sejak kecil tiwi dididik untuk mengotak-kotakan sesuatu, tak memahami realitas, dan dihalangi untuk berpikir kritis. Pasti masih banyak tiwi-tiwi warisan orde baru lainnya. Kenapa logika yang dipikirkan selalu negasi, bukan logika positif atau solutif? Saya yakin, anak-anak &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sudah cukup cerdas untuk berpikir tentang konsekuensi atas lingkungan mana yang mereka pilih dengan sadar untuk bersosialisasi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Fenomena yang sangat menarik bagi saya adalah ketika saya menjadi panitia sebuah diskusi sekolah mutikultural. Kebetulan yang mengadakan adalah sebuah lembaga non-islam –islam, agama yang saya anut, sebagai rahmat bagi semua, yang menurut saya sebenarnya cukup bisa mendidik bagaimana menghargai perbedaan, seperti diajarkan agama yang lainnya-- dan saya mendapatkan SMS yang demikian;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Si A : Ukhti dibayar berapa untuk melakukan pemurtadan? Hati-hati dengan isu inklusifisme yang mereka gulirkan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya : Saya kira, komitmen agama kita sebagai rahmat bagi semesta alam tak pernah terwujud jika masih ada orang-orang yang selalu berpikir negasi seperti anda. Bahkan Rasulullah mengajarkan untuk menghormati orang asing. Jika memang kita berbeda, marilah kita membiarkan itu berjalan , itu toleransi, toh saya tidak mencampuri urusan keyakinan mereka apalagi memaksakan kehendak. Saya, anda, maupun kawan-kawan yang lain yang masih beragama, tak beragama bahkan yang tak percaya Tuhan sekalipun pastilah dari lubuk hati terdalam mengandaikan perdamaian. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sampai akhirnya pulsa saya yang tinggal sepuluh ribu rupiah habis untuk meladeni SMS nya. Kenapa saya jadi bodoh begini? Merugikan diri sendiri padahal seharusnya saya membiarkannya dengan kecurigaan dan keyakinannya itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika kita cari centhang perenangnya, pelbagai perbedaan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pastilah berhubungan dengan banyak negara yang lain. Nasionalisme, saat ini bukan lagi dimaknai secara sempit, si A memaknai kesadaran kolektif karena kesamaan sebangsa, bisa jadi yang lain tak memaknai demikian. Seperti ABG di Indonesia jaman sekarang yang memiliki nasionalisme R&amp;amp;B, atau kerelaan mereka yang lain untuk mengaransemen musik berjam-jam demi mengakulturasi musik Jazz dan gambang di Bantul beberapa waktu yang lalu. Contoh lain seperti anak pengamen di pertigaan dari Mirota kampus ke selatan yang rela ngamen seminggu untuk makan di Mc D- ini penelitian dosen saya lho-. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Atau seperti teroris di &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; beberapa waktu lalu –saya tak berani menyebut mujahid- yang menciptakan kebencian dan ketakutan hingga rela mengorbankan diri mereka untuk mencederai sesamanya yang tak bersalah atas nama ayat Tuhan yang ditafsirkan dengan liar. Seakan ada kebanggaan yang dibayangkan secara kolektif jika seseorang berhasil memperjuangkan sesuatu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya jadi ingat dengan apa yang diungkapkan Benendict Anderson yang memaknai nasionalisme sebagai komunitas yang tak terbayang; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 35.4pt 0.0001pt 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Akhirnya, bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas, sebab, tak peduli akan ketidakadilan yang ada dan penghisapan yang mungkin tak terhapuskan dalam setiap bangsa, bangsa itu sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk mendalam dan melebar mendatar. Pada akhirnya, selama dua abad terakhir, rasa persaudaraan inilah yang memungkinkan begitu banyak orang, jutaan jumlahkan bersedia, jangankan melenyapkan nyawa orang lain, merengut nyawa sendiri pun rela demi pembayangan tentang yang terbatas itu,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 35.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 35.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Begitu dasyatnya kekuatan nasionalisme hingga memberikan arti yang beragam tentang keindonesiaan kita. Kita pun masih merangkak untuk memahami keberagaman ini. Jika kita tak berhati-hati, pemahaman anarkis dapat bermuara pada konflik manifest hingga kekerasan. Tentu kita semua tak ingin kejahatan kemanusiaan kembali terulang. Kasus konflik di pelbagai belahan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; hendaklah disikapi dengan pemahaman yang adil dan pemerataan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, konsep yang demikian romantis ini menurut saya hampir-hampir utopis, bukan berarti pula tak bisa diwujudkan. Jadi, menjadi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, sulitkah? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-5753399805675510002?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/5753399805675510002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/sulitkah-menjadi-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5753399805675510002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5753399805675510002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/sulitkah-menjadi-indonesia.html' title='Sulitkah Menjadi Indonesia?'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-3081668136404232679</id><published>2008-12-15T11:53:00.001+07:00</published><updated>2008-12-15T11:57:44.572+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems n short story'/><title type='text'>A B S U R D</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Absurd...sebuah keyakinan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Absurd...yakin sebuah pemahaman naif&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Absurd...naif dalam kebuntuan dan ketersesatan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Absurd...sesat hanya dialami bujang ingusan pengecut&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Absurd...bujang ingusan seperti seekor keledai&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Absurd...keledai yang lebih suka rumput daripada berlian&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Dalam kecintaanku dengan absurd, awal mei 05&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-3081668136404232679?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/3081668136404232679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/b-s-u-r-d.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/3081668136404232679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/3081668136404232679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/b-s-u-r-d.html' title='A B S U R D'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-1265344483277846293</id><published>2008-12-15T11:50:00.002+07:00</published><updated>2008-12-15T11:57:44.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems n short story'/><title type='text'>Kemana Masa Depan Kami?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Ketika Sang Cahaya Agung masih menampakan gairahnya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Gairah di hampir ufuk barat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Dalam kebisingan kuda-kuda besi kota&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Diantara raksasa yang menantang langit&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Lebah-lebah kecil itu masih berterbangan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Berterbangan pada menu makanan kota petang itu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Menatap riuh tak peduli masa depannya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Aku menatap semua itu dalam sebuah bilangan waktu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Waktu itu...saat ini...ya saat ini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Aku tak paham&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Atau aku yang terlau bodoh ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Padahal pemikir-pemikir itu sudah berputus perkara&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Berputus perkara mengenai lebah-lebah kecil di jalan kota&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Perkara mengenai kemana lebah itu akan dibawa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Juga menjanjikan lebah-lebah itu madu &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Sayangnya sang pemikir tak punya cukup madu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Madu untuk menyelamatkan lebah-lebah kecil itu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Apa kau melihatnya ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Sangat lucu...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Berjanji memberi madu tapi tak punya madu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Atau madu itu sengaja dibuang untuk sesaji ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Dalam Kepenatan Jakarta, Agustus 2005&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-1265344483277846293?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/1265344483277846293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/kemana-masa-depan-kami.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1265344483277846293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1265344483277846293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/kemana-masa-depan-kami.html' title='Kemana Masa Depan Kami?'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-7732165931588103497</id><published>2008-12-15T11:50:00.001+07:00</published><updated>2008-12-15T11:57:44.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems n short story'/><title type='text'>Mencari Kerajaan Tuhan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Seakan ling-lung setelah lama tidur&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Apa sup yang dibuat ibu kebanyakan pala semalam ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Aku pikun lagi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Lagi-lagi cahaya itu hanya dapat memutar tubuhku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Memusingkan dari satu tempat ke tempat yang lain&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tidak kutemukan Kerajaan Tuhan yang kucari&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Apakah aku harus mati dulu?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Ataukah tidur yang lama &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tidak...tidak...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Sebab aku adalah milik Tuhan penciptaku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tanpa perintahnya aku tak berhak bebas&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Ketika sabda Tuhan terhadapku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Yang satu lahir dari suatu kegelapan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Yang satu hidup dari kematian yang lain&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Sekarang bolehkah aku bertanya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Dimana akhir jentera kelahiran ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;masih awal Mei 2006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-7732165931588103497?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/7732165931588103497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/mencari-kerajaan-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/7732165931588103497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/7732165931588103497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/mencari-kerajaan-tuhan.html' title='Mencari Kerajaan Tuhan'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-6840806596141609684</id><published>2008-12-15T11:49:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:57:44.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems n short story'/><title type='text'>Tiga malam yang lalu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tiga malam yang lalu &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Di puncak golgota yang gelap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Dari lolongan hyena yang siap menerkam mangsanya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Perlahan diriku menelusuri arah sebuah cahaya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Cahaya kecil yang siap memandu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Langkah demi langkah kutelusuri cahaya itu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Aku tak tahu kemana ia akan membawaku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Kompasku pun tak dapat menunjukan arah yang benar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Lagi-lagi aku tersesat&lt;/p&gt;  Dalam kehampaan Jogja , awal Mei 2&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-6840806596141609684?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/6840806596141609684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/tiga-malam-yang-lalu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/6840806596141609684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/6840806596141609684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/tiga-malam-yang-lalu.html' title='Tiga malam yang lalu'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-3118359018978606747</id><published>2008-12-15T11:48:00.001+07:00</published><updated>2008-12-15T11:57:44.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems n short story'/><title type='text'>Untuk Pak Guru</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Pak Guru...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Muridmu ini masih kaku mengeja&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Muridmu ini masih kaku menarikan huruf dengan pena&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Muridmu ini masih bingung dimana tanda koma diletakan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Muridmu ini masih bingung antara A besar dan B kecil&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tapi itu tak kan penat ku cari&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Di kelasmu aku tak sendiri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tapi jika kau pergi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Akan muncul bejana-bejana kepedihan di hatiku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Pak Guru...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Dapatkah kau dengungkan aku ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tentang sebuah negeri yang literat ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Bolehkah aku meminta info tentangnya ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Karena aku dan kau, guru dan murid&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Kita bergumam bersama &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Tentang esensi sebuah karya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Sebuah karya dalam negeri literat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;Jogja, Januari 2006&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0in;"&gt;006&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-3118359018978606747?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/3118359018978606747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/untuk-pak-guru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/3118359018978606747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/3118359018978606747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/untuk-pak-guru.html' title='Untuk Pak Guru'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-1543557962034417015</id><published>2008-12-15T11:46:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:57:44.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poems n short story'/><title type='text'>Kota Biru untuk Guruku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;o/ tiwi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Suasana pagi ini berjalan seperti biasanya. Meski pagi berjalan seperti biasanya, tidak demikian dengan suasana hati Pak seto. Jam dinding di ruang tamunya baru menunjukkan pukul enam kurang seperempat. Pagi itu matahari telah bersinar dengan berani seperti menantang kegelisahannya, kegelisahan seorang guru yang dibatasi haknya. Pandangannya menerawang sambil sesekali meneguk kopi buatan istrinya. Asap rokok yang dihembuskannya menari mengikuti orkes pagi kala itu; teriakan sejumlah pedagang sayur dan roti, kicauan kutilangnya di halaman kontrakan dan deru mesin mobil yang dipanaskan. “Aku harus bergegas berangkat mengajar,” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pak seto beranjak ke ruang tengah, melewati ruang tamu. Terlihat si Buyung sarapan sambil menonton televisi. Putra semata wayangnya itu sebentar lagi harus melanjutkan sekolah menegah pertama, sekolah zaman sekarang tentu membutuhkan biaya tinggi. Dengan gaji bulannnya yang hanya sedikit tentu makin memberatkan beban keuangan rumah tangganya. Guru, pahlawan tanpa apa-apa. Pak seto kembali gamang. Sambil menikmati makan paginya, Pak seto mendengarkan siaran berita Radio Republik Indonesia (RRI) tentang pembangunan gedung-gedung perkantoran baru yang mendapat banyak dukungan dari para investor. Setelah berita itu disiarkan, terdengarlah dendang selingan berjudul &lt;i&gt;Jakarta City Blues&lt;/i&gt; “Pagi-pagi… udah polusi… naik bis kota… salip kiri kanan bikin jantungan, itu sudah biasa… Jakarta &lt;i&gt;city blues&lt;/i&gt;…” Ah, syair itu sebiru keresahannya saat ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tepat pukul enam pagi, setelah berpamitan pada istrinya, Pak seto memacu sepeda motornya dan beranjak meninggalkan perkampungan padat penduduk di barat daya Jakarta. Kampung itu selalu terlihat sama meski sudah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;belasan tahun ditinggalinya; rumah-rumah kecil yang berjubel di gang sempit, selokan yang mampat dan berbau tak sedap, serta tumpukan sampah yang belum diangkut. Pandangannya yang berkonsentrasi dengan keramaian jalan masih menerawang. “Sinting! Menuntut transparansi iuran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang telah dibayarkan saja berbuntut gajiku diturunkan,” Umpatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Bus kota yang merayap di kiri dan mobil sedan di kanan menjebak Pak seto di kemacetan. Keadaan ini selalu memaksanya cari celah untuk menyalip. “Sreeeet” terdengar bunyi stang motor yang tak sengaja bergesekan dengan pintu sedan bercat ungu. Bunyi itu diikuti klakson panjang dan umpatan sang pemilik mobil. Pak seto mengacukannya. Ia memacu motornya makin kencang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pak seto menghelakan nafas panjangnya setelah letih mengoreksi lembar jawaban essay ulangan mata pelajaran Bahasan Indonesia yang diampunya. Meski melelahkan, Pak seto lebih suka memberikan soal dengan model jawaban essay daripada pilihan ganda. Jika karangan murid dinilainya bagus, jawaban muridnya logis,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mempunyai landasan ia memberikannya nilai tambah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Pak seto percaya, muridnya tetaplah manusia yang punya daya kreasi dengan ciri khas kemampuan dan tak ingin dibatasi dalam berpendapat. Dari kepercayaannya itu ia mempersetankan konsep UAN yang memukul rata parameter keberhasilan siswa. Ia sering mengungkapkan kegelisahannya itu melalui rapat guru dan sejumlah tulisan di surat kabar. Celakanya, daya kritisnyalah yang membuat hubungannya dengan beberapa teman seprofesi dan Pak Wardoyo, sang kepala sekolah menjadi tak terlalu baik. Apalagi ditambah ulahnya tempo hari yang mempelopori teman seprofesinya untuk meminta transparansi iuran PGRI yang kemudian berakibat gajinya dipotong. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Sudah menjadi rahasia umum bahwa forum PGRI di wilayah Pak seto justru berfungsi menindas para guru yang kritis. Pengurus PGRI yang juga menjabat di dinas pendidikan sering melakukan kolusi dengan menurunkan tunjangan guru atau biasanya memindahkan ke daerah terpencil. Seperti tradisi zaman orde baru, semua ini dilakukan untuk menyingkirkan ‘pengacau’ dan melanggengkan kekuasaan orang-orang yang duduk di dinas. Pak Wardoyo juga termasuk dalam golongan pejabat dinas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Sebelum Pak Wardoyo, jabatan kepala sekolah diisi oleh Pak Sukardi. Saat itu, Pak Wardoyo dipastikan terpilih karena pemilihan diselenggarakan dari pusat yang sangat dekat dengannya. Kepala sekolah yang baru diangkat dapat melakukan kontrol terhadap segala sesuatu di sekolah itu. Begitulah aturannya. Pak Wardoyo kemudian mendapat sejumlah daftar tipe guru-guru di sekolah itu dari Pak Sukardi. Daftar itu mencakup tipe guru yang ‘baik’ dan suku ‘menjilat’ hingga guru yang ‘mengancam kestabilan sekolah’ seperti Pak seto. Daftar tersebut memberi semacam lampu kuning bagi kepala sekolah dalam menaklukan guru. Jika guru belum bisa ditaklukan maka kepala sekolah ‘berhak’ menempuh cara-cara menekan lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;“Teeet… teeet… teeet,” bel sekolah yang menjerit tiga kali menandakan waktu istirahat makan siang bagi seluruh penghuni sekolah tempat Pak seto mengajar, terkecuali Lik Sri, karyawan kantin sekolah itu. Perantauan Lik Sri dari Wonogiri membimbingnya bekerja ke salah satu sektor usaha informal kota metropolis ini. Setiap siang, kesibukannya dimulai dengan menyiapkan bermangkuk Soto, makanan ringan dan sejumlah minuman. Bau harum masakannya tercium dari ruang guru. Aroma sedap itu memberikan alasan bagi siapapun untuk antre memesannya. Demikian pula Pak seto. Ia beranjak dari mejanya setelah lelah mengajar murid-murid dan memeriksa setumpuk lebar jawaban essay. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Pesan apa Pak?” Tanya Lik Sri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Soto dan air es saja, tolong diantarkan ke ruang guru saja” Jawab Pak seto&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Ck… ck… Pak Pak seto ini, &lt;i&gt;saking&lt;/i&gt; sibuknya sampai makanpun &lt;i&gt;disambi&lt;/i&gt; di ruang guru, sudah sibuk dan jelas gajinya begitu kok masih macam-macam, apa gajinya kurang Pak? Heheheh… Wealah, sekalinya macam-macam kok gajinya dipotong,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sindir Lik Sri sambil sibuk menaruh taoge dalam mangkuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pak seto hanya tersenyum mendengarkan komentar Lik Sri sambil berlalu meninggalkannya. Ia menuju musola sekolah untuk melaksanakan kewajiban kepada Tuhan dalam keyakinannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Soto dan air es yang tadi dipesan, tandas di makannya. Dari pintu masuk, Pak seto melihat Ibu guru Mun berjalan ke arahnya. “Pak Pak seto, dimohon oleh Pak Wardoyo untuk menghadap ke ruangannya,” pinta Bu Mun. Pak seto kemudian hanya menganggukkan kepala saja. Ia berjalan dengan pasti menuju ruang kepala sekolah sambil menduga-duga petaka apalagi yang akan didapatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Berkaitan dengan beberapa aksi yang diperbuat Pak Pak seto kemarin, maka, Musyawarah Kepala Sekolah (MKS) memutuskan untuk memindahtugaskan Bapak ke salah satu kabupaten di Tasikmalaya.” Vonis Pak Wardoyo.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Tapi, saya merasa tidak melakukan kekeliruan Pak, kenapa saya dihukum seperti ini?” tukas Pak seto&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“MKS tidak menuduh anda melakukan kekeliruan dan tidak bermaksud memberikan hukuman atas kekeliruan itu, kami hanya ingin mengirim satu tenaga guru kesana, keputusan ini sudah final, tak bisa diganggu gugat, yang penting Pak Pak seto tak kehilangan pekerjaan,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Skak Mat! Mengingat kebutuhan keluarganya yang makin mendesak, pikirannya tak bisa melangkah kemana-mana lagi. Pak seto malas berdiplomasi lagi dengan gaya otoriter macam ini. Minggu depan ia harus segera pindah dengan dipotong gaji pula. Ia merasa semua usahanya sia-sia. Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk kebaikan diri dan keluarganya ia tak akan banyak membuka mulut. Dunia ini tak pernah dimengertinya dan ia harus siap meninggalkan dunia itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lima jam sudah Pak seto tak dapat memejamkan matanya. Sebentar-sebentar ia miringkan badannya ke kiri dan kanan. Bola lampu berukuran lima watt yang tergantung di pojok kamar tidurnyanya nampak berkedip-kedip. Mungkin pertanda kawat pijarnya akan putus dan harus diganti. Ambinnya yang berderit setiap ia bergerak meramaikan sunyinya dini hari itu. Nampaknya ambin itu hampir tak kuat menahan berat tuannya. Tak lama kemudian ia menatap istri yang terlelap di sampingnya. Ia merasa kasihan dengan istrinya yang tengah mengandung satu bulan. Ia juga merasa bersalah karena terpotongnya pendapatan meski istrinya mengerti dan tak pernah menuntut macam-macam. .Jika ambin ini tak segera diganti dengan yang baru mungkin ketika usia kandungan istriku sembilan bulan, ambin ini tak akan kuat menahan beban kami lagi. Malam itu Pak seto gelisah. Namun, bukan bola lampu atau ambin yang membuatnya gelisah. Tidak. Bukan Itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pembicaraannya yang terakhir dengan Pak Wardoyo serta pelbagai penolakan atas kegelisahannya selama ini yang merusak akar mimpinya. Ia masih juga tak dapat tidur. Sudah berkali-kali ia membalik bantalnya. Ia juga mencoba menghilangkan pikiran itu, namun tetap tak bisa. “Sinting! Gila!” Umpatnya berkali-kali. Keresahan tentang hal-hal yang tak dimegertinya itu masih saja bertahta di pikirannya. Tak jelas kapan akan bisa dimengerti. Satu hal yang pasti, esok ia akan pindah dari Jakarta bersama keluarganya. Suara petir terdengar bergemuruh. Hujan turun menimbulkan bunyi tuk..tuk.. tuk yang makin lama makin cepat di atap rumahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pagi ini, banjir melanda perkampungannya. Hujan barang setengah jam saja sudah bisa memaksanya untuk melipat celana panjang hingga selutut. Terlihat dua orang tetangga dekat dan anak Pak seto membantu mengangkat barang-barang ke dalam truk. Sembari melangkah lunglai, lagi-lagi terdengar lantunan tembag &lt;i&gt;Jakarta City Blues&lt;/i&gt; “keluar rumah… hujan deras basah kuyup… banjir selutut… itu sudah biasa… Jakarta &lt;i&gt;city blues&lt;/i&gt;…” Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan semua keresahannya di Jakarta. Walaupun ia belum lega. Setidaknya ia lega karena meninggalkan kegarangan Jakarta &lt;i&gt;city blues&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-1543557962034417015?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/1543557962034417015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/kota-biru-untuk-guruku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1543557962034417015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1543557962034417015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/kota-biru-untuk-guruku.html' title='Kota Biru untuk Guruku'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-2944680135682854420</id><published>2008-12-15T11:45:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:58:10.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='house n property'/><title type='text'>Jelajahi Mayantara dengan Perumahan Multimedia</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Dialog antar personal kini tak harus dilakukan dengan bertatap muka secara langsung. Jaringan internet atau multimedia membuatnya lebih cepat, murah dan mudah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Globalisasi membawa pengaruh bagi perkembangan informasi dunia di dasawarsa terakhir. Thomas L Friedman, wartawan &lt;i&gt;The New York Times,&lt;/i&gt; mengamini bahwa inti globalisasi adalah kemajuan di bidang teknologi dari internet hingga komunikasi via satelit. Dalam perkembangan hidup bermasyarakat, jaringan multimedia dapat menjadi pembentuk sebuah ruang bertemu yang baru dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi ajang bergaul bagi masyarakat perumahan yang makin individualis. Kemajuan teknologi informasi membawa perubahan besar di segala bidang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Bisnis yang sukses bisa jadi tak harus ribet kemana-mana. Hanya dengan rumah berfasilitas internet, semua transaksi dapat dikendalikan. Warung Internet (warnet) di Daerah Istimewa Yogyakara (DIY) juga menjamur seiring meningkatnya teknologi dan kebutuhan masyarakat. Kafe-kafe berfasilitas &lt;i&gt;hot spot&lt;/i&gt; kian diminati. Perkiraan kemajuan teknologi informasi di tahun-tahun mendatang akan makin pesat. Ini diramalkan dari jumlah pelanggan dan pemakai internet per tahun di Indonesia yang makin meningkat (lihat tabel 1). Begitu pula dengan usaha properti di DIY, beberapa developer mulai mengembangkan fasilitas multimedia untuk menjawab tantangan globalisasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Merapi Regency, proyek yang dikembangkan oleh PT Sarwo Indah menjadi pelopor perkembangan perumahan multimedia di DIY. “Kita punya konsep integrasi. Jadi, semua fasilitas bisa diakses dengan mudah lewat jaringan multimedia,” Ungkap Abdul Aziz, ST selaku manajer marketing ketika membuka pembicaraan dengan Rumah Jogja (RJ). Developer yang telah 12 tahun berkecimpung di dunia properti ini memanfaatkan teknologi &lt;i&gt;hot zone&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;Motorola Canopy Wireless&lt;/i&gt;. Perangkat &lt;i&gt;wireless&lt;/i&gt; tersebut menjangkau lebih dari 10 km dan &lt;i&gt;bandwidth&lt;/i&gt; sebesar 10 mbps/second sehingga seluruh rumah mampu saling terhubung dalam &lt;i&gt;Local Area Network&lt;/i&gt; (LAN). Perumahan yang terletak di utara DIY ini juga dilengkapi dengan televisi kabel, VoiP (jaringan telepon tanpa pulsa), swalayan &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;, kamera CCTV, dan kafe berfasilitas &lt;i&gt;hot spot&lt;/i&gt;. Anda tak perlu khawatir jika suatu saat terjadi sesuatu dengan rumah anda karena perumahan ini telah diasuransikan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain Merapi Regency, The Residence sebagai proyek yang dikembangkan PT Tiga Saudara Group di barat DIY kini juga bergerak mengikuti perkembangan. &lt;i&gt;Cyber Residence @ West&lt;/i&gt; sebagai jargon yang diusung makin diperkuat dengan fasilitas gratis abonemen internet, VoiP, &lt;i&gt;Data Center for Community&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Data Exchange InterHouse&lt;/i&gt;, Hot Spot Wi-Fi di setiap rumah, aplikasi PerumNet untuk aktivitas sehari-hari dan &lt;i&gt;multimedia steraming&lt;/i&gt;. Adanya jaringan lokal yang menghubungkan antar rumah berguna bagi warga yang tak pernah bersosialisasi. Sehingga, ia tetap memperoleh informasi dan kesempatan untuk bersosialisasi antar penghuni perumahan. Andre, sang manajer marketing, menyatakan bahwa fasilitas ini dikembangkan untuk mendukung perkembangan DIY sebagai kota pelajar. Arahannya tentu mempermudah akses informasi tanpa batas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Developer juga tetap melengkapi perumahan yang dikembangkannya dengan fasilitas lainnya seperti The Residence dengan kolam renang, jaringan listrik bawah tanah, sarana ibadah, &lt;i&gt;coffee shop&lt;/i&gt;, dan taman bermain. Tempat hunian yang strategis juga menjadi kemudahan tambahan yang diusung developer. Hal tersebut dilakukan agar mobilitas konsumen makin lancar. Menurut Andre, tanggapan konsumen terhadap fasilitas perumahan multimedia beragam. Ada beberapa konsumen yang suka terhadap tren bangunan, umumnya mediteranian yang paling diminati, atau keterjangkauan lokasi dengan pusat-pusat bisnis, pendidikan dan pemerintahan. Namun, ada pula yang benar-benar tertarik dengan fasilitas multimedia. Ini diamini oleh Abdul Aziz, ST, bahwa beberapa konsumen memang mengapresiasi fasilitas multimedia tersebut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Tren model perumahan mediterania pada umumnya menjadi tren yang diangkat perumahan multimedia. Secara arsitektur, model perumahan tak banyak memberi pengaruh pada penempatan fasilitas multimedia. Amri, ST, arsitek, menyatakan bahwa sistem jaringan global yang digunakan bersifat teknis dan instalasi jadi tak membawa banyak pengaruh pada arsitektur perumahan. “Desain fleksibel, bisa ditambah ruang khusus di dalam, tapi tetap memperhatikan aspek keindahan dan konstruksi bangunan,” imbuhnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Peningkatan pelanggan dan pemakai jasa internet membawa dampak positif pula bagi perkembangan jumlah konsumen perumahan multimedia DIY. Apalagi konsumen merasa lebih nyaman dan tak dibatasi jika mengakses internet dari rumah. Menurut Andre, jumlah pembeli di kawasan The Residence terus mengalami peningkatan dalam setahun ini. “Dalam enam bulan ini, 25 unit telah terjual,” tambahnya. Mengenai dinamika jumlah konsumen ini dipengaruhi beberapa faktor. “Salah satunya di bulan-bulan libur seperti tengah tahun, atau idul fitri biasanya terjadi peningkatan konsumen.” Abdul Aziz, ST menjelaskan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Sebelum anda memutuskan membeli perumahan multimedia, sebaiknya pertimbangkanlah hal-hal berikut ini; legalitas bangunan, fasilitas yang benar-benar anda butuhkan, keterjangkauan terhadap fasilitas publik dan harga. Beberapa developer di DIY tampaknya benar-benar berkomitmen dalam mengurus legalitas bangunan seiring perkembangan regulasi IMB dan pertanahan di pemerintah. Mengenai harga, di Merapi Regency dan The Residence menawarkan variasi berdasar luas bangunan dan fasilitas di dalamnya. Umumnya, penawaran harga mulai Rp. 300. 000. 000, 00. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Perkembangan teknologi multimedia di tahun-tahun mendatang nampaknya menjadi stimulan bagi para developer untuk mengembangkan proyeknya di sektor multimedia. Seperti halnya PT . Tiga Saudara Group yang berencana mengembangkan perumahan ke selatan DIY. Pun, dengan Merapi Regency yang akan terus dikembangkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Ketika ruang nyata terasa sulit untuk ditembus, kini semuanya dapat begitu mudah dimasuki melalui dunia maya. Dunia maya yang terhubung melalui jaringan multimedia membuat anda dapat memasuki ruang maya sembari melakukan satu aktivitas lain di dalam rumah. Lebih nyaman dan praktis bukan? (Tiwi)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Tabel 1Jumlah Pelanggan dan Pemakai Internet di Indonesia sepanjang 1998-2004&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;(Sumber: &lt;a href="http://www.apjii.co.or.id/"&gt;www.APJII.or.id&lt;/a&gt;) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 38.6pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jumlah   Pelanggan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Jumlah Pemakai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;1998&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;134. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;512. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;1999&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;256. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;1. 000. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;2000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;400. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;1. 900. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;2001&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;581. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;4. 200. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;2002&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;667. 002&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;4. 500. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;2003&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;865. 706&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;8. 080. 534&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 44.85pt;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;2004&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 110.95pt;" valign="top" width="148"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;1. 300. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;12. 000. 000&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-2944680135682854420?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/2944680135682854420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/jelajahi-mayantara-dengan-perumahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2944680135682854420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2944680135682854420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/jelajahi-mayantara-dengan-perumahan.html' title='Jelajahi Mayantara dengan Perumahan Multimedia'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-2637933933241183133</id><published>2008-12-15T11:43:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:58:10.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='house n property'/><title type='text'>Alternatif Tempat Usaha nan Praktis</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Rumah toko (ruko) kini mulai merambah investasi properti. Tak hanya berfungsi sebagai toko, bentuk bangunan yang serbaguna membuatnya makin disukai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Ruko bisa jadi investasi properti yang cukup menjanjikan. Terlebih di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seiring dengan peningkatan jumlah bangunan rumah, banyak developer yang melengkapi fasilitas perumahan dengan ruko. Apalagi dengan belum banyaknya bisnis ruko di DIY. Ruko kemudian makin dilirik oleh para usahawan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Sesuai dengan istilahnya, ruko dapat berfungsi sebagai rumah atau gudang sekaligus toko. Seperti yang diungkapkan Delvi Umar, pengelola ruko perlengkapan muslim &lt;i&gt;Kiswah &lt;/i&gt;di kawasan jalan Ring Road utara, “Usaha di sini sangat praktis, ruang belakang saya fungsikan sebagai gudang, lagipula lokasinya strategis” ujar pria yang memulai usahanya sejak 2005 ini. Ia juga menambahkan bahwa, perbedaan harga ruko di tempat satu dengan yang lain menuntut pemilik usaha pandai dalam mengelola harga barang yang dijual di ruko. Ia mempunyai dua ruko dengan usaha yang sama, namun harga kedua ruko tersebut berbeda. Ia tentu harus mengatur bagaimana menyamakan harga dalam kondisi harga faktor produksi, dalam hal ini ruko berbeda. “Saya tak terlalu sulit dalam mengatur harga barang dagangan, karena selisih harga ruko tak terlalu banyak”, jelasnya. Selain serbaguna, harga sewa ruko yang lebih murah daripada perkantoran merangsang minat usahawan untuk berbisnis di tempat ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Harga jual ruko biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain, nilai produksi, objek tanah, legalitas, dan lokasi. Merespon hal tersebut, Iwan Hari Z, S. E, manajer pemasaran &lt;i&gt;Cokro Square&lt;/i&gt; menyatakan bahwa nilai produksi biasanya yang paling berpengaruh. Dalam regulasi pembangunan ataupun izin usaha, menurut Iwan, pemerintah DIY sangat mendukung dan memberi kemudahan, “Pembuatan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) cepat, tak banyak dipersulit, hitungannya setiap tiga bangunan memiliki satu IMB, jadi lebih ringkas”, ujarnya. Pernyataan Iwan Hari Z, S, E, juga diamini oleh Delvi Umar, “Untuk pemilik ruko seperti saya izin usahanya tak terlalu dipersulit, ini dulu perizinannya terpadu, jadi lebih cepat perizinannya”, terangnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Tak hanya nilai produksi dan legalitas, lokasi yang strategis juga mempengaruhi harga jual ruko. Lokasi yang strategis akan sangat mendukung usaha. Herman Budi Setioko, ST, manajer pemasaran &lt;i&gt;Sumber Baru Land&lt;/i&gt;, menjelaskan bahwa ruko yang dipasarkan di setiap kawasan DIY memiliki perbedaan harga, tergantung lokasi ruko. Selain itu, ia menambahkan, dinamika harga ruko dipengaruhi oleh waktu pembelian. Misalnya ada dua periode pembangunanan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para pembeli pada periode pertama biasanya dapat membeli ruko dengan harga lebih murah daripada pembeli ruko periode kedua. “Ini wujud pelayanan kami terhadap pembeli di periode pertama, agar mereka merasa diuntungkan”, tambahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Pembangunan rumah atau toko di DIY memang menguntungkan. Harga jual tanahnya bisa meningkat tajam dalam lima tahun ke depan. Khusus untuk ruko, perkembangan penjualannya stabi. Meskipun demikian, beberapa developer seperti &lt;i&gt;Cokro Square&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Sumber Baru Land&lt;/i&gt; tetap berencana membagun ruko di kawasan strategis DIY seperti, jalan HOS Cokroaminoto, jalan Hayam Wuruk, Lempuyangan, Patangpuluhan, Ring Road, Godean, Giwangan, hingga Seturan. Beberapa peluang usaha yang bisa dikembangkan di wilayah ini antara lain perkantoran, toko buku, minimarket, fitness center, bengkel, optik, hingga restoran. Kebanyakan, lokasinya memang di pinggiran kota karena bisa jadi perkembangan infrastruktur di daerah perkotaan makin mahal dan terbatas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Untuk menambah kepercayaan pembeli, developer pun harus bersikap professional termasuk dalam urusan struktur bangunan. Iwan Hari Z,SE mengamini hal ini “Kebanyakan ruko berlantai dua atau tiga, untuk itu struktur dan pondasi bangunan tak boleh asal, kebetulan, pasca gempa DIY tahun lalu, ruko kami mendapat label sebagai bangunan layak pakai, layak huni dan layak jual”, ujarnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Konsep bangunan yang sedang marak saat ini seperti konsep western menjadi salah satu pertimbangan pembeli sebelum membeli ruko. Meski tak memberi banyak pengaruh pada kesuksesan bisnis di ruko, konsep bangunan mampu menambah nilai estetika di dalamnya. “Dari segi estetika, model ruko yang mengarah pada model Eropa tak termakan usia” terang Herman Budi Setioko, ST. Tren bangunan model Eropa ternyata mampu bertahan lebih lama dibandingkan dengan tren bangunan modern minimalis. Terlepas dari hal tersebut, kebutuhan akan fungsi menjadi hal utama yang tetap dipertimbangkan pembeli. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Sebelum anda memilih ruko yang hendak dibeli, sebaiknya, perhatikanlah hal-hal berikut. Pertama, pilihlah lokasi strategis. Lokasi dimana banyak terjadi transaksi bisnis, dilalui banyak orang dan aksesnya mudah. Kedua, perhatikan apakah fungsi ruko sudah sesuai dengan apa yang diinginkan, seperti kebutuhan akan toko, tempat tinggal, gudang, tata letak atau tempat parkir. Ketiga, legalitas ruko, ini mencakup status tanah, IMB, roi jalan. Roi jalan haruslah sesuai dengan tata ruang kota, jika tidak, ini akan mengganggu kepentingan pengguna jalan dan akan ditindak oleh pemerintah DIY. Keadaan ini dibenarkan oleh Herman Budi Setioko, ST, “Legalitas ruko memang salah satu hal yang diutamakan &lt;i&gt;Sumber Baru Land&lt;/i&gt; agar pembeli merasa aman”, tandasnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: georgia;"&gt;Dari beberapa komplek ruko di daerah Seturan dan Ring Road, kebanyakan milik perorangan yang sengaja investasi ruko. Ini sebagai pertanda bahwa partisipasi masyarakat DIY dalam investasi meningkat. &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dilihat dari segi investasi, maka ruko di tempat srategis juga bisa memiliki nilai investasi yang cukup tinggi untuk disewakan atau dijual kembali. Rencana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-2637933933241183133?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/2637933933241183133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/alternatif-tempat-usaha-nan-praktis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2637933933241183133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2637933933241183133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2008/12/alternatif-tempat-usaha-nan-praktis.html' title='Alternatif Tempat Usaha nan Praktis'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-1321303202926023969</id><published>2007-09-13T12:24:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:38:28.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='house n property'/><title type='text'>Menguak Potensi Bisnis pada Bangunan Kuno</title><content type='html'>Berbisnis sekaligus Melestarikan Nilai Sejarah, dan Budaya: Anda Mau Coba? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tak takjub melihat nilai sejarah dan keunikan bangunan kuno yang masih terjaga? Tengok saja daerah Kotagede, Baciro, Kotabaru ataupun Sagan (kawasan kota kuno Yogyakarta). Beberapa diantara bangunan kuo tersebut masih terawat dan terlihat baik, bahkan ada yang diadaptasikan dengan menambah unsur modern. Bangunan kuno mencerminkan perjalanan identitas sebuah kota. Kotagede misalnya, pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram pada tahun 1577 oleh Ki Ageng Pamanahan. Ia menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa yang terjadi dalam sejarah Daerah Istimewa Dogyakarta (DIY). Menghancurkan bangunan kuno berarti turut pula menghancurkan sejarah dan identitas sebuah kota.&lt;br /&gt;Meski terkesan ketinggalan zaman, bangunan kuno ternyata memiliki beberapa potensi bisnis. Ini dibuktikan oleh beberapa pemilik usaha di Yogyakarta yang menggunakan bangunan kuno sebagai tempat menjalankan usahanya. Beberapa bangunan merupakan bisnis keluarga. Buah dari keberanian menanggung resiko, keuletan dan siasat kreatif, usaha mereka makin menguntungkan. Selain mendatangkan keuntungan, memfungsikan bangunan kuno sebagai tempat usaha juga dapat melestarikan warisan budaya.&lt;br /&gt;Menurut Titi Handayani, Direktur Eksekutif Jogja Heritage Society (JHS), dalam istilah konservasi, alih fungsi bangunan diistilahkan dengan adaptivius, yakni penyesuaian fungsi bangunan untuk masa kini. Salah satunya, tempat usaha. Konservasi bukan berarti mengawetkan, namun perlu juga perkembangan.  Salah satu alasan mengapa si pemilik rumah ingin merubah fungsi rumah, yakni pemilik merasa bahwa bangunan tidak berguna lagi jika difungsikan seperti fungsi lama. &lt;br /&gt;Wujud alih fungsi bangunan kuno menjadi tempat usaha dapat kita lihat salah satunya di kerajinan dan toko perak Ansor’s Silver, Kotagede. Kotagede merupakan kota yang terkenal dengan kerajinan peraknya di Yogyakarta. Memasuki showroom Ansor’s Silver bagai kembali pada suasana Jawa zaman dahulu. Arsitektur bangunannya merupakan perpaduan antara bangunan Belanda berdinding tebal dan pendopo Jawa dengan ornamen wayang. Iringan gamelan makin menambah kental suasana tradisional. Menurut Udjang Simbara, direktur Ansor’s Silver, Bapak Ansor Kartoutomo, pemiliknya, tertarik dengan keunikan arsitektur bangunannya. Lalu bangunan itu dibeli dan dijadikan showroom kerajinan perak pada tahun 1994. Tempat ini kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Usaha perak dipilih karena sang pemilik ingin memperkuat citra daerah perak Kotagede. Jika dilihat dari segi arsitektur, bangunan ini tergolong bangunan yang dibangun pada tahun 1800-an.  Sang pemilik berniat melestarikan bangunan tua itu. Pelestarian ini dibuktikannya tanpa mengubah bentuk dan konstruksi bangunan, ia hanya menambahkan beberapa ornamen semipermanen, melakukan pengecatan berkala dan menambahkan cor agar bangunan bertambah kokoh.&lt;br /&gt;Pun demikian dengan Irsyam Sigit Wibowo, pemilik resto Omah Dhuwur, Kotagede. Menurutnya, suasana bangunan kuno berpotensi sekali untuk dijadikan tempat bisnis. “Saya beli tempat ini sekitar tahun 2000 atau 2001. Konstruksi tidak banyak yang diubah, soalnya mengurangi nilai. Disini yang diunggulkan memang suasananya. Bagi pemilik bangunan kuno, mbok ya kalau bisa dikembangkan saja untuk usaha jika sudah tak berniat meninggali, sayang kalau dibiarkan tak terawat” ujar pegiat komunitas motor besar ini. Mengembangkan bangunan kuno menjadi tempat usaha juga memerlukan siasat kreatif, diantaranya mengenai tata letak ruangan. “Bangunan ini dulunya rumah, untuk mengalihfungsikannya menjadi resto ya butuh siasat” tukasnya. Suasana asri dan pemandangan kolam yang dapat dinikmati dari atas resto menambah kesan santai. Lebih lanjut, pak Irsyam, begitu kemudian pemilik bisnis keluarga ini disapa, menyayangkan tingginya pajak bumi dan bangunan (PBB) yang diterapkan pemerintah DIY. “Biaya perawatan bangunan ini mahal, kalau bisa PBB nya mendapat diskon. Lagipula yang saya lakukan ini juga termasuk merawat warisan budaya.” Ujarnya.&lt;br /&gt;Menanggapi mahalnya PBB bagi pemilik bangunan kuno, Titi Handayani, menyatakan, hal ini sedang diperjuangkan oleh JHS. Namun, belum ada respon dari pemerintah DIY. “Kalau ingin ada yang melestarikan bangunan, ya pemerintah harus memberi insentif, setidaknya pemotongan pajak yang signifikan. Di negara lain malah ada yang digratiskan dari PBB. Di Indonesia, khususnya DIY memang ada peraturan mengenai pemotongan 25% bagi pemilik, itu menurut saya masih telalu sedikit, yang saya sayangkan lagi, banyak masyarakat yang belum tahu prosedur mendapatkannya, pemerintah juga belum punya data mengenai bangunan mana yang layak disubsidi” ujarnya.  Hal yang sama juga diungkapkan oleh  Dr. Ir. Arya Ronald, dosen jurusan teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), “Saya setuju kalau disubsidi, PBB bisa dihitung dari luas lahan, jenis rumah dan bangunan di kelas mana, kemudian dimasukan kedalam sebuah rumus.  Ketika ada warga negara yang melestarikan bangunan kuno maka harus ada keringanan. Di Belanda, negeri yang lebih menghormati warisan budaya, memberi subsidi untuk perawatan.” Tambah akademisi yang akan menelurkan buku berjudul Gemulai Arsitektur Jawa ini.&lt;br /&gt;Pambudi Narotama, pemilik dan pengelola Indraloka Homestay di kawasan Sagan, memiliki pandangan lain tentang PBB yang dipungut pada pengelola bangunan kuno. “Keluarga saya merawat dan memang tak berniat mengubah kekhasan konstruksi bangunan. Diubah paling hanya 20 %, itu pun tidak permanen. Tempat yang dibangun pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930 ini pernah disurvei oleh Dinas Purbakala. Bangunan ini mendapat subsidi sebesar 40 hingga 60 % untuk perawatan. Setahu saya yang mendapat subsidi hanya bangunan ini dan Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 (SMP N 1) Yogyakarta.” Ujar desainer interior ini.&lt;br /&gt;Ada sejumlah tips dalam mengembangkan alih fungsi bangunan kuno menjadi tempat usaha. Tips ini antara lain dikemukakan Titi Handayani, menurutnya, untuk memperkuat tembok bisa dengan memlesternya. Ia juga memberi peringatan agar jangan mengganti jenis ataupun bentuk kayu. “Kayu bangunan kuno, biasanya Berkualitas kebih baik, kalau di cat nanti teksturnya bisa hilang. Selain itu ciri khas bangunan. Contohnya, Baudanyang di Kotagede jangan dihilangkan” ujar dosen yang mengajar di Akademi Teknik Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (AT YKPN) ini. Tampaknya, anjuran pelestarian ini dilakukan pula di Gabah Resto yang terletak di kawasan Sagan. “Kita tidak mengubah konstruksi sama sekali, buktinya, mantan penghuni yang orang Belanda, sudah lama tidak ke sini, namun sekalinya bertandang kemari masih hafal benar tempat ini” ujar Dani Kurniawan, Finance Supervisor Gabah Resto. Peringatan lain juga disampaikan oleh Dr. Ir. Arya Ronald, yakni agar tidak mengubah dan mengurangi jendela dan ventilasi. “Bangunan berongga itu lebih kuat. Lagipula, jendela menunjukan pemiliknya welcome, tidak asosial. Arsitektur tanpa ada nilai humanisnya akan  hambar” tambah kakek empat cucu ini. Dari sudut pandang sosial, Titi Handayani mengungkapkan, begitu bangunan menjadi lebih public maka konsekuensinya akan banyak dikunjungi orang luar, pemilik harus memikirkan dampak sosial, misalnya, jika di dekatnya ada masjid dan lingkungan sekitar penduduknya mayoritas santri, jangan mengembangkan diskotek.&lt;br /&gt;Jargon DIY sebagai kota budaya dapat terwakili oleh pelestarian bangunan kuno dan tradisionalnya. Ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan jika masyarakat dan pemerintah mau peduli dan kerjasama dalam pengembangannya. Usaha pribadi dalam sektor ini jelas menguntungkan, karena memiliki nilai tambah yakni nilai seni, sejarah dan budaya. Jadi, mari berbisnis sekaligus melestarikan budaya! [Tiwi]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-1321303202926023969?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/1321303202926023969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/menguak-potensi-bisnis-pada-bangunan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1321303202926023969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/1321303202926023969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/menguak-potensi-bisnis-pada-bangunan.html' title='Menguak Potensi Bisnis pada Bangunan Kuno'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-7678986180453823310</id><published>2007-09-13T12:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:36:57.508+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>(Resensi buku) Perjalanan Panjang Sang Petualang</title><content type='html'>Identitas Buku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku    : Edensor&lt;br /&gt;Pengarang    : Andrea Hirata Seman&lt;br /&gt;Penerbut    : Klub sastra BENTANG&lt;br /&gt;Jumlah hlm    : 288 hlm&lt;br /&gt;Waktu terbit    : Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Buku ini merupakan buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi, setelah buku pertamanya yang berjudul Laskar Pelangi dan buku keduanya yang berjudul Sang Pemimpi. Cerita berawal dari perjuangan meraih impian sepuluh anak yang terjalin melalui pertemanan di sebuah sekolah terpencil di Belitong. Ikal, salah satu anak kampung yang cerdas, gigih dan nakal menjadi tokoh utama yang dikisahkan penulisnya. Kenakalannya sempat membuat gamang orang tuanya karena, ia sempat mencuri hidangan berbuka puasa di masjid dan menyuruh adiknya bernyanyi Indonesia Raya keras-keras di depan pengeras suara masjid. Agaknya penulis ingin mengungkapkan pengalaman hidupnya yang luar biasa lewat tetralogi Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;   Di novel yang ketiga, Andrea Hirata mengisahkan perjalanan hidupnya setelah lulus SMA, bekerja sambil kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, dan akhirnya melanjutkan studi strata duanya di Eropa sambil menjadi backpacker sejati, istilah untuk petualang yang hanya mempunyai bekal dan peralatan terbatas di tas punggung. Dalam petualangannya, Ikal juga berniat menemukan A Ling, si anak Hokian yang menjadi pujaan hatinya. Bersama sepupunya, Arai, yang juga menempuh studi di tempat yang sama, si Ikal melalui hari-harinya yang penuh kejutan di Eropa. Di masa kecilnya, Ikal bermimpi mengenai petualangan ke Eropa dan untuk mewujudkan impiannya itu, ia akhirnya berhasil lolos seleksi beasiswa strata dua ke Eropa. Ikal, yang berlatar belakang ekonomi dari sebuah keluarga kampong Belitong yang miskin, ternyata mempunyai semangat hidup dan kecerdasan yang luar biasa. Meski ia hanya disekolahkan di sekolah muhamadiyah yang miskin, namun hal tersebut tak menghalanginya tuk menemukan ilmu pengetahuan dan pengalaman menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel ketiga ini kurang lengkap jika belum membaca novel sebelumnya. Di novel sebelumnya, diceritakan dengan menyentuh mengenai kondisi pendidikan yang memprihatinkan di daerah terpencil saat itu. Kondisi pendidikan yang tak lain akibat dari sentralisasi pendidikan orde baru yang tak memperhatikan beragamnya jenis budaya di Indonesia. Tak lupa, Andrea Hirata menambahkan beberapa tokoh yang patut dikagumi seperti Ayahnya, gurunya dan kedelapan tema-temannya memiliki pribadi inspiratif. Deskripsi tiap bab dalam novelnya disajikan dengan jenaka, mengharukan dan cerdas. Istilah kimia, biologi, ekonomi dan astronomi yang beradu dengan karya sastra dibubuhkannya dengan bumbu tepat sehingga membuat pembaca terbius larut dalam petualangan hingga tak terasa kita telah menyelesaikan salah satu novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tetralogi melayu gaya baru coba dituturkan Andrea lewat karyanya kali ini. Tanpa harus melabelkan diri dengan ‘sastra islami’ , nilai-nilai humanisme dalam ajaran islam ditonjolkan penulis di tiap bagian novelnya. Saat pembaca bosan dengan tema novel cinta picisan atau novel dengan bau metropop, Andrea mampu menghadirkan sensasi 'keindonesiaan' baru dalam Edensor. Judul Edensor diambil dari sebuah nama desa khayalan dalam novel milik A Ling yang masih dipegangnya. Bagi anda yang mengaku penggemar sastra jangan dulu mencibir karya yang mendapat banyak apresiasi dari banyak sastrawan senior ini. Cobalah, maka anda akan tersenyum getir hingga menitikan air mata haru lewat sajian sastra Andrea Hirata kali ini. Setelah itu, anda akan mengakui keindahan karyanya dan tak sabar membaca novel keempat. (tw)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-7678986180453823310?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/7678986180453823310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-buku-perjalanan-panjang-sang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/7678986180453823310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/7678986180453823310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-buku-perjalanan-panjang-sang.html' title='(Resensi buku) Perjalanan Panjang Sang Petualang'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-4528391589903119861</id><published>2007-09-13T12:22:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:36:57.508+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>(Resensi buku) Pendidikan Multikultural: Sebuah Pembebasan (kah?)</title><content type='html'>Identitas Buku:&lt;br /&gt;Judul            : ‘Emoh’ Sekolah: Menolak Komersialisasi Pendidikan dan Kanibalisme Intelektual, Menuju Pendidikan Multikultural&lt;br /&gt;Penulis            : Dr. Ainurrofiq Dawam, M. A&lt;br /&gt;Penerbit        : INSPEAL PRESS&lt;br /&gt;Waktu Terbit        : Agustus 2003 (cetakan pertama)&lt;br /&gt;Jumlah Halaman    : 182 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil belajar di sekolah formal bukanlah harga mati keberhasilan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di salah satu daerah Sulawesi, seorang guru ditugaskan mengajar baca tulis bagi anak didiknya. “Ini Ayah” seru sang guru. Ayah divisualisasikan layaknya seorang laki-laki yang menenteng tas kantor, memakai kemeja dan dasi di tubuhnya. Mendengar seruan guru tersebut, salah satu anak didik protes dan berteriak “TIDAK! Itu bukan ayah saya. Ayah sudah meninggal dan ia ada di atas bukit!” Protes si anak Toraja itu. Untuk meyakinkan sang guru, anak itu naik ke atas bukit dan membongkar makam ayahnya. Pembongkaran makam tentu menggemparkan suasana kampong Toraja saat itu. Akhirnya, anak tersebut dipaksa oleh penduduk dan tetua adat melakukan upacara meminta maaf bagi roh leluhur. Begitulah gambaran salah satu film karya Garin Nugroho yang mengesankan bahwa sentralisasi pendidikan formal ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan anak didik di negara multikultur seperti Indonesia.&lt;br /&gt;    Sentralisasi pendidikan dikonstruksikan melalui paradigma pembangunan developmentalisme. Paradigma ini berpandangan bahwa kesuksesan pembangunan hanya diukur dari perkembangan ekonomi dan industri. Akibatnya, konsep pendidikan yang dicanangkan pemerintah pun mengarah pada hal-hal praktis. Konsep ini dijalankan dengan penyamaan kurikulum tanpa memperhatikan kebutuhan anak didik. Sehingga, terciptalah generasi plagiat, tidak kreatif dan kurang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Tak hanya itu saja, Dr. Ainurrofiq Dawam, M.A, juga menelanjangi konsep otonomi kampus yang berjalan di Indonesia saat ini. Otonomi kampus yang juga merupakan pelepasan tanggung jawab negara terhadap pendidikan tunas bangsa. Gambaran demikian menjadi latar belakang Dawam dalam mengungkap masalah dan solusi bagi masalah kebobrokan pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;    Melalui buku ini, penulis mencoba menawarkan jalan keluar dari ‘penjara’ sistem pendidikan Indonesia. Konsep pendidikan multikultural menjadi filosofi inti litreratur ini. Konsep ini lahir karena pada dasarnya manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki cipta, rasa, dan karsa beragam. Untuk memperkuat argumennya, Dawam mengungkapkan beberapa pendekatan psikologis. Penulis menganggap bahwa sistem pendidikan formal yang selama ini berjalan di Indonesia belumlah dapat mendukung perkembangan kecerdasan manusia yang berbeda. Kecerdasan manusia mencakup linguistik, logika matematika, fisik, lingkungan alam, interpersonal maupun intrapersonal. Aspek kecerdasan ini justru diacuhkan pemerintah dengan struktur institusional pendidikan. Paulo Freire, dalam bukunya Pedagody of the Oppressed, mengungkapkan bahwa sistem pendidikan dengan struktur institusional hanyalah akan menindas rakyat kecil. Ada kepala sekolah, guru, yang membuat parameter keberhasilan tertentu hingga memaksa meridnya menghafal, mendengar tanpa memberi kesempatan bagi jalannya proses kreativitas anak didik.&lt;br /&gt;    Dengan penyampaian kritik persuasif, Dawam tak hanya menjelaskan konsep pendidikan multikultural, tetapi ia juga mengungkap pelbagai model paradigma pendidikan yang tengah berkembang di Indonesia. Sayang, penjelasan yang terlalu romantis dan teoritis justru belum mencerminkan jalan keluar konkrit. Namun, jangan lewatkan buku ini jika anda mengaku akademisi atau pemerhati pendidikan. Bisa jadi, buku ini merangsang wacana baru mengenai pendidikan. Setuju? (tw)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-4528391589903119861?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/4528391589903119861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-buku-pendidikan-multikultural.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4528391589903119861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4528391589903119861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-buku-pendidikan-multikultural.html' title='(Resensi buku) Pendidikan Multikultural: Sebuah Pembebasan (kah?)'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-5963876212233849772</id><published>2007-09-13T12:21:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:36:57.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>(Resensi buku)Perantauan yang Sarat Tikungan</title><content type='html'>Judul Buku        : Jalan Menikung Para Priyayi 2&lt;br /&gt;Penulis            : Umar Kayam&lt;br /&gt;Jumlah Halaman    : 184 + IX hlm&lt;br /&gt;Penebit            : Pustaka Utama Grafiti kerjasama dengan The Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI&lt;br /&gt;Tahun Terbit        : 2002 (cetakan keempat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bagaikan semangkuk penuh bermacam buah cherry, ada yang manis, masam bahkan hampir busuk. Maka, kita selalu untung-untungan dalam mencomotnya.&lt;br /&gt;(hlm 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Indonesia di awal masa orde baru yang sarat kekerasan dan pembunuhan karena ketakutan pemerintah terhadap komunisme menjadi setting awal yang dihadirkan Umar Kayam. Harimurti, seorang yang lahir di tengah keluarga besar Jawa yang terpandang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Ia diceritakan pernah terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Isu ini kemudian membawanya ke dalam bui. Namun, Pakdhe Nug, kerabatnya yang seorang petinggi pemerintahan, berhasil menyelesaikan masalah ini. Harimurti bebas dari bui dan keselamatannya dijamin asal ia tak bekerja lagi di lembaga pemerintah. Harimurti kemudian menikah dan bekerja di sebuah perusahaan penerbitan.&lt;br /&gt;Diundangnya Harimurti untuk makan siang di sebuah restoran mewah oleh Maryanto, atasannya, ternyata bukan pertanda baik. Perjamuan makan siang itu justru membuat Harimuti kehilangan pekerjaan sekaligus menguak masalalunya.  Harimurti ternyata masih diduga pemerintah sebagai orang yang “tidak bersih”. Ia terus dilanda kebingungan karena masa lalunya yang telah usai dan terkubur hadir kembali. Tak ada pilihan lain, ia harus keluar dari pekerjaannya. Jika tidak, perusahaannya akan ditutup pemerintah. Sementara Pakdhe Nug yang dulu pernah menyelamatkan hidupnya telah meninggal. Kecurigaan pemerintah terhadap Harimurti menjadi ketakutan Harimurti jika nanti orang tua, ibu dan anaknya ikut terlibat masalah tersebut. Betapa tidak, seluruh keluarganya akan terus diperiksa dan dicurigai.&lt;br /&gt;Ketakutan Harimurti berbuah larangan pada Eko, anak tunggalnya yang menempuh studi beasiswa di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat (AS), untuk jangan pulang dulu ke Indonesia. Jika Eko pulang ke Indonesia, Harimurti mengkhawatirkan keselamatan Eko. Padahal, Eko berniat secepatnya kembali dan membangun negerinya sendiri. Namun semangat itu terhalang oleh ketakutan pemerintah terhadap keruntuhan kekuasaan. Meskipun dirasakan berat oleh Harimurti dan Suli, istrinya, Eko harus tinggal di AS demi keamanan dan kemajuannya.&lt;br /&gt;Di AS, Eko tinggal bersama keluarga Prof. Samuel D. Levin. Biaya hidup Eko ditanggung oleh keluarga Levin hingga ia menamatkan kuliahnya. Pretasi Eko yang gemilang membawanya bekerja di sebuah penerbit besar, Asia Books. Di keluarga yang menganut kepercayaan Yahudi ini, Eko terpesona pada Claire Levin, putri dari Prof. Levin. Bertahun-tahun waktu yang mereka jalani bersama membuat hubungan mereka makin dekat. Mereka akhirnya menikah karena Claire telah hamil.&lt;br /&gt;Rencana pernikahan mereka telah direstui oleh keluarga Levin. Namun, tidak dengan keluarga Eko di Indonesia. Kabar pernikahan yang dikirimkan melalui surat singkat dan padat itu dianggap Suli sebagai perilaku yang tak sopan terhadap orang tua. Suli merasa tak dimintai restu karena nada surat itu sekadar pemberitahuan. Eko yang beristrikan Yahudi dan kehamilan Claire makin membuat hati Suli tak senang. Pergaulan dan lingkungan di AS dianggap Suli bertentangan dengan norma adat dan agama di Jawa. Namun, setelah diberi pengertian Harimurti, kemarahan Suli mereda.&lt;br /&gt;Pernikahan Eko dan Claire disambut penugasan dari Alan Bernstein, atasan Eko. Eko ditugaskan untuk mengurus pemasaran produk Asia Books ke sejumlah negara di Asia termasuk Indonesia. Kedatangan Eko dan istrinya ke Indonesia disambut orang tua dan kerabatnya dengan senang. Semenjak Eko melanjutkan studinya ke AS, ia mengalami banyak perbenturan kebudayaan. Pun ketika ia kembali ke Indonesia bersama istrinya. Sikap defensif masyarakat Jawa dalam menyikapi perbedaan norma dan ras ditonjolkan Umar Kayam pada bagian ini. Rasisme di Jawa tampak ketika Tommi, kerabat Harimurti, mengomentari Claire, yang berketurunan Yahudi. Di bagian yang lain, rasisme di Jawa tampak ketika Tommi menentang pernikahan putrinya yang bersuamikan seorang beretnis Cina. Tak hanya di Jawa, rasisme di AS juga digambarkan Umar Kayam melalui perjalanan silsilah keluarga Levin.&lt;br /&gt;Keluesan Umar Kayam dalam mendeskripsikan sistem kekerabatan dan kebudayaan di AS dan Jawa mampu memacu imajnasi pembaca. Perbedaan pandangan mengenai norma adat dari generasi ke generasi ikut membumbui jalan cerita. Novel ini cocok bagi orang yang mengaku pluralis dan menggemari sastra. Sebuah perjalanan di perantauan dijabarkan dengan penuh lika-liku oleh penulis. Tak hanya itu, penyampaian penulis juga sarat kritikan terhadap sistem pengadilan, pengupahan dan pendidikan di Indonesia yang masih buruk. Sayang, kata ganti tokoh utama yang berubah-ubah mengganggu kenikmatan membaca. Alur yang terkadang berubah di tiap bagiannya juga membingungkan pembaca. Terlepas dari itu semua, novel ini mampu menambah khazanah mengenai pluralitas tiap ras di AS dan Indonesia. Jadi, selamat menikmati pergulatan pluralitas rasa novel!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-5963876212233849772?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/5963876212233849772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukuperantauan-yang-sarat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5963876212233849772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5963876212233849772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukuperantauan-yang-sarat.html' title='(Resensi buku)Perantauan yang Sarat Tikungan'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-2722719148434312733</id><published>2007-09-13T12:19:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:36:57.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>(Resensi buku)Perjalanan Panjang dan Rumit Sang Wayang Kulit</title><content type='html'>Judul Buku        : Kelir tanpa Batas&lt;br /&gt;Penulis            : Umar Kayam&lt;br /&gt;Jumlah Halaman    : 453 + X hlm&lt;br /&gt;Penerbit        : Gama Media Kerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan UGM  dan The Toyota Foundation&lt;br /&gt;Tahun Terbit        : 2001  (cetakan pertama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni yang terpelihara dalam suatu masyarakat merupakan refleksi identitas dari masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagi masyarakat Jawa, wayang kulit mengandung banyak pemaknaan tentang kehidupan. Hingga kini, wayang kulit masih dipertahankan oleh masyarakat yang dihidupi dan menghidupinya. Wayang kulit masih menarik untuk terus dikaji. Banyak penelitian tentang wayang kulit yang telah dihasilkan seiring dengan dinamika masyarakat Jawa. Begitu pula dengan Umar Kayam, mantan guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) ini telah membukukan hasil penelitiannya mengenai perkembangan wayang kulit pada masa orde baru.&lt;br /&gt;Buku yang berjudul Kelir tanpa Batas tak sepenuhnya hasil penelitian, melainkan ditambah dengan data dan analisis baru. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan pada 1993 sedangkan buku ini diterbitkan pada tahun 2001. Penelitian ini bertujuan memahami sejarah wayang dan pergolakannya dalam bertahan. Dalam wayang kulit terdapat pakem-pakem tertentu, namun seiring berubahnya zaman beberapa pakem mulai mencair. Penelitian ini difokuskan pada kondisi wayang kulit saat orde baru tahun 1993 hingga 1995. Umar Kayam memiliki dua alasan mengapa mengambil setting pada masa ini. Pertama, masyarakat Jawa dinilainya lebih terbuka pada masa orde baru. Kedua, orde baru yang berlangsung lama menimbulkan kecenderungan budaya tertentu. Peta kehidupan wayang kulit, sejarah, pakem, peran dalang dan pemaknaan wayang di tengah masyarakat Jawa menjadi suatu pertanyaan dalam penelitian ini. Wawancara dan pengamatan langsung terhadap kondisi pertunjukan, dalang dan penontonnya menjadi alat utama pengumpul data.&lt;br /&gt;Jalan cerita, tokoh dan setting yang terdapat dalam dua epos besar India yakni Ramayana dan Mahabarata menjadi ciri umum wayang kulit. Keduanya dimainkan dengan boneka tipis dari kulit yang dipahat sesuai karakter dan ciri fisik tokoh masing-masing. Boneka tersebut digerakan oleh dalang dengan bantuan tongkat kecil dalam ukiran wayang kulit diiringi suara sinden dan gamelan. Dalam pertunjukan kesenian yang diindikasikan muncul di abad X SM ini, dalang memiliki peranan sosial religius yang menyeimbangkan manusia dan lingkungannya. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, wayang kulit memberi ruang kategoris dan hierarkhis yang terefleksi dari jalan ceritanya. Setiap manusia memiliki kedudukan dan perannya masing-masing. Peran itu harus dimainkan sesuai silsilah dan tata krama yang wajib dipatuhi. Ini kemudian menimbulkan filsafat pertunjukan wayang kulit yang diciptakan orde baru sebagai tontonan, tuntutan dan tatanan. Hal tersebut kemudian menjadi pemaknaan umum masyarakat Jawa. Pemaknaan ini turut dibayangi oleh beberapa otoritas, antara lain otoritas kraton, lembaga pendidikan formal seni pedalangan, tradisi lokal dan penguasa politik orde baru beserta pejabat dan agen/agennya (hlm 69).&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, wayang kulit mengalami pemudaran pakem dan betuk estetiknya. Pada dasarnya, wayang kulit di Jawa terbagi dalam tiga gaya, yakni Surakarta, Yogyakarta dan Jawa Timur. Ketiganya memiliki perbedaan masing-masing. Namun, mulai 1980-an batas ketiganya luntur. Ini dipengaruhi oleh mencairnya batas antara dunia panggung dan penonton sebagai penikmat wayang kulit di luar panggung. Pengaruh yang dikemukakan Umar Kayam ini didukung banyak data. Salah satunya, Ki Sudarman Gondo Darsono, salah satu dalang senior, mengundang Ki Warsito untuk mendalang dalam acara supitan anaknya. Acara tersebut dihadiri oleh banyak dalang dari pelbagai generasi. Ketika Ki Warsito mendalang, dalam ceritanya ia banyak menyampaikan ejekan terhadap pakem wayang yang selama ini dipakai. Ini kemudian memancing perdebatan diantara dalang yang menontonnnya dan salah satu penonton melemparkan sandal ke panggung. Tak hanya contoh tersebut, di salah satu pertunjukan wayang di Sukoharjo, dalang Ki Warseno Slenk malah memberi kesempatan pada penontonnya untuk menyanyi ke depan panggung sesuai tema wayang. Kedua contoh ini tentu menunjukan betapa batas panggung dan penonton mulai mencair.&lt;br /&gt;Pakem tampilan wayang juga mengalami perubahan. Perubahan ini ditandai dengan munculnya unsur pendukung baru selain sinden, gamelan, bingkai kelir, dan boneka wayang. Bingkai kelir yang seharusnya sepanjang enam hingga delapan meter menjadi lebih panjang. Bingkai kelir menjadi berukuran seperti bingkai film di gedung bioskop, yakni sepanjang 12 meter. Sinden yang seharusnya duduk, justru maju ke panggung dan berdiri untuk menyanyi, ini terjadi pada saat Ki Djoko Edan mendalang. Nuansa wayang kulit bertambah lain ketika dimasukan unsur jaipongan Sunda ke dalamnya. Peralatan gamelan pun sudah ditambah dengan peralatan yang lebih modern seperti keyboard atau drum. Perubahan pakem ini pun memacu perselisihan antar dalang.&lt;br /&gt;Menurut Groenendael (1987), tugas wayang kulit dan dalangnya pada hakikatnya memelihara, mempertahankan sebuah tatanan. Pemaknaan mengenai perubahan pakem yang telah terjadi pada wayang kulit ikut memaknai pula perubahan tatanan pada masyarakat Jawa. Ini turut memberi dukungan bagi filosofi pembangunan orde baru saat itu, yakni menggunakan teknologi, menyerap dan sekaligus menyeleksi nilai eksternal. Ini menjadi legitimasi perubahan pakem wayang kulit. Seiring dengan perubahan tersebut, wayang kulit mulai digunakan pejabat orde baru baik negeri atau swasta untuk mengisi beragam acara. Predikat wayang kulit sebagai kesenian daerah yang kuno berubah menjadi kesenian kota. Selama wayang kulit tetap berefleksi dan menjaga agar penonton tak bosan walau menontonnya semalam suntuk, ia akan tetap bertahan.&lt;br /&gt;Kelir tanpa Batas melambangkan perumpamaan bahwa kajian mengenai wayang kulit tak akan pernah selesai.  Wayang kulit akan terus ada dan bertahan dengan perubahannya. Tak hanya perubahan wayang kulit dari waktu ke waktu yang coba diselami oleh Umar Kayam, ia juga menampilkan profil dalang sesuai identitas pembagian daerah yakni Surakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Buku ini dilengkapi gambar-gambar mengenai peralatan wayang, dalang dan suasana pertunjukan wayang agar memberi gambaran kepada pembaca yang belum pernah menyaksikan wayang kulit. Penelitian ini turut memberi hawa baru dalam wacana wayang kulit karena dikembangkan dari penelitian sebelumnya. Walaupun terdapat istilah yang kurang dijelaskan secara rinci oleh penulis, penjabaran yang runut tak mengurangi kualitas isi buku. Bagi anda yang tertarik menyelaminya lebih dalam, belum terlambat untuk ikut melestarikan kesenian tradisional ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-2722719148434312733?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/2722719148434312733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukuperjalanan-panjang-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2722719148434312733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/2722719148434312733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukuperjalanan-panjang-dan.html' title='(Resensi buku)Perjalanan Panjang dan Rumit Sang Wayang Kulit'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-4256186714969297518</id><published>2007-09-13T12:16:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:36:57.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>(Resensi buku)Neoliberalisasi Tidak Akan Berdiri Tanpa Kemiskinan</title><content type='html'>Dipertahankannya  neoliberalisme pada akhirnya berakibat  terbunuhnya masyarakat miskin secara perlahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku    : Kemiskinan Global (Kegagalan Model Ekonomi Neoliberalisme)&lt;br /&gt;Penulis        : Jeremy Seabrook diterjemahkan oleh Darmawan.&lt;br /&gt;Penerbit    : Resist Book&lt;br /&gt;Tebal Buku    : 166 + VII halaman&lt;br /&gt;Waktu terbit    : September 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dibalik kemewahan gedung pencakar langit terdapat perumahan kumuh di kolong jembatan. Setidaknya seperti itulah keadaan yang terjadi di selatan kota Jakarta. Penghuninya adalah para gelandangan pemungut sampah dengan baju rombeng. Mereka  selalu mengais untuk mendapatkan beberapa receh uang. Dibelahan dunia yang lain, pemukiman London Utara, terdapat pemukiman-pemukiman kumuh dimana wadah plastik digunakan untuk menampung air yang bocor dari atap. Mereka yang bernaung disana adalah orang-orang yang kehilangan dan tidak berdaya.&lt;br /&gt;    Dimanapun kemiskinan selalu terjadi dengan cara yang sama. Diantara orang kaya mereka menjadi tak terlihat. Statistik tentang mereka tenggelam bersama dengan meledaknya kasus-kasus kriminalitas. Keprihatinan atas kasus kemiskinan sebagai akibat model ekonomi neoliberalisme mendorong Jeremy Seabrook untuk menelaah lebih dalam mengenai penguncian orang miskin, ketidakadilan, penanganan kemiskinan, fakta-fakta kemiskinan dan mekanisme pemiskinan.&lt;br /&gt;    Di AS dan Inggris, pengurungan di tempat kerja merupakan usaha pemaksaaan agar orang miskin mau menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang diciptakan oleh kelas berpunya. Dari kasus-kasus yang terjadi kemudian munculah yayasan atau institusi-isntitusi sosial. Yayasan sosial diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan kaum termarginal tersebut. Namun pada kenyatannya, dalam struktur perencanaan ekonomi global tak ada rencana perbaikan yang dilakukan. &lt;br /&gt;    Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana kolonialisasi muncul sebagai biang kemiskinan. Dari kolonialisasi tersebut kemudian berkembanglah globalisasi dan sistem ekonomi neoliberalisme. Menurut Seabrook sistem ekonomi neoliberalisme hanya mungkin berdiri diatas penderitaan dan kemiskinan.&lt;br /&gt;Buku yang disajikan dari berbagai fakta kemiskinan ini kiranya dapat memberikan penyikapan atas seluk beluk globalisasi. Selain itu fakta di dalamnya dinilai dapat memberikan kritik bagi para pembuat kebijakan. Namun kritik didalamnya kurang dapat mencerminkan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat miskin. Kesalahan struktur kalimat dan keganjilan makna yang diterjemahkan juga masih terdapat didalamnya. (Tiwi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-4256186714969297518?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/4256186714969297518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukuneoliberalisasi-tidak-akan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4256186714969297518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/4256186714969297518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukuneoliberalisasi-tidak-akan.html' title='(Resensi buku)Neoliberalisasi Tidak Akan Berdiri Tanpa Kemiskinan'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-5186057432413791046</id><published>2007-09-13T12:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:36:57.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>(Resensi buku)Studi Ke Luar Negeri? Tak sekadar Impian</title><content type='html'>Judul Buku    : Kiat Memenangkan Beasiswa&lt;br /&gt;Penulis        : Pangesti Wiedarti &amp; Togap Siagian&lt;br /&gt;Penerbit    : Tiara Wacana&lt;br /&gt;Tebal Buku    : 206 halaman + xx&lt;br /&gt;Tahun Terbit    : Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan studi ke luar negeri kiranya bukan sekadar impian belaka. Namun, seiring dengan banyaknya lembaga yang menawarkan beasiswa, peminatnya pun kian bertambah. Sehingga bagi pencari beasiswa dituntut jeli agar dapat memenangkan persaingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekitar 15 atau 20 tahun yang lalu, lulusan Strata 1 dapat dipastikan memperoleh pekerjaan yang baik, cepat, serta mendapatkan gaji yang menggiurkan. Dengan berkembangnya persaingan sebagai imbas dari perdagangan bebas, saat ini keadaan telah berubah. Lulusan Strata 1 saja belumlah cukup untuk menembus pasar kerja. Tak jarang ditemui masih banyak mahasiswa yang bingung dalam menentukan langkah setelah menyelesaikan studi pada jenjang Strata 1, sementara itu persaingan justru semakin ketat.&lt;br /&gt;    Berkembangnya teknologi membuat semakin ketatnya persaingan global. Di sinilah berlaku hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang. Persaingan global menuntut setiap orang untuk dapat memperbaiki diri agar menduduki posisi sebagai  pemenang. Agar tetap survive dalam menghadapi persaingan, dibutuhkan pula pembekalan diri, khususnya secara akademis. Salah satu caranya dengan mendapatkan pendidikan yang berkualitas internasional di Luar Negeri. Terbukti bahwa mereka yang lulusan dari universitas di Luar Negeri mempunyai bargaining position yang kuat di pasar  kerja.&lt;br /&gt;    Bagi yang belum mempunyai cukup biaya untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas internasional di Luar Negeri tidak perlu khawatir karena saat ini banyak lembaga yang menawarkan beasiswa baik partial maupun full. Namun untuk mendapatkan beasiswa bukanlah suatu hal yang mudah. Ada ribuan orang bersaing dari berbagai negara untuk memperebutkannya sedangkan  beasiswa yang tersedia terbatas jumlahnya. Hanya mereka yang benar-benar memenuhi kualifikasi sajalah yang akan berhasil memenangkan persaingan di antara ribuan orang tersebut.&lt;br /&gt;    Berbagai persyaratan pun haruslah dipenuhi untuk mendapatkan beasiswa. Biasanya nilai TOEFL/IELTS, yaitu standar nilai kemampuan berbahasa Inggris harus mencapai skor 550, GPA atau IPK minimal 3,00, ditambah pula memiliki kemampuan membuat proposal dan essay dalam bahasa Inggris merupakan syarat-syarat  mutlak yang harus dipenuhi. Masih banyak persyaratan lain yang harus dipenuhi sehingga dari sinilah Pangesti Wiedarti dan Togap Siagian memaparkan sejumlah tips untuk membantu mendapatkan beasiswa studi ke Luar Negeri.&lt;br /&gt;    Buku yang diilhami dari pengalaman moderator mailing list beasiswa ini memberi banyak pengetahuan dan informasi mengenai kiat dan trik mendapatkan beasiswa sesuai dengan minat. Karena selalu berusaha untuk meng-up date segala informasi mengenai beasiswa sehingga secara kuantitas buku ini tersedia dalam jumlah yang terbatas.&lt;br /&gt;    .&lt;br /&gt;    Pembahasan dalam buku ini terkait dengan hal-hal apa saja yang dijadikan parameter penilaian diterima atau tidaknya suatu pengajuan beasiswa serta bagaimana cara menembus parameter tersebut. Terlebih tips dan triks di dalamnya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan pembahasannya runut sehingga mudah dipahami oleh siapapun yang membacanya. Buku ini cukup penting untuk dijadikan referensi bagi Anda yang ingin melanjutkan studi ke Luar Negeri dengan biaya murah bahkan gratis. Sayangnya, buku ini kurang memberikan pembahasan secara tuntas mengenai pencarian beasiswa sehingga sering membingungkan bagi pembacanya.&lt;br /&gt;Dalam pencarian beasiswa asalkan mau mencoba tidak akan ada yang mustahil dan sia-sia. Bagi Pangesti Wiedarti, kegagalan dalam mendapatkan beasiswa merupakan hal yang biasa, yang paling penting adalah usaha kita untuk terus memperbaiki diri dan pantang menyerah. [Tiwi]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-5186057432413791046?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/5186057432413791046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukustudi-ke-luar-negeri-tak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5186057432413791046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/5186057432413791046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/resensi-bukustudi-ke-luar-negeri-tak.html' title='(Resensi buku)Studi Ke Luar Negeri? Tak sekadar Impian'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-142513683471156055</id><published>2007-09-13T12:14:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:37:19.521+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku n film n penelitian'/><title type='text'>Fenomena Animasi Mr. Bean: Sebuah Kritik Bagi Bangsawan Inggris</title><content type='html'>Fenomena Mr. Bean hadir  sebagai bagian dari masyarakat Inggris dengan karakternya yang kocak, kekanakan, melanggar dari tata karma, dan selalu ingin balas dendam seolah memberi sindiran bagi masyarakat golongan tertentu di Inggris, terlebih lagi jika dihadirkan melalui bentuk film animasi yang disusun dari sebuah khayalan yang kemudian menjadi tidak terbatas.&lt;br /&gt;Film animasi yang saat ini sedang menjadi tren dalam dunia hiburan merupakan film yang memiliki cirri khas dibanding film lainnya. Film ini merupakan hasil dari imajinasi pembuatnya yang terkadang terlihat tidak masuk akal jika hal itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Cirinya yang lain yaitu film ini dilukiskan untuk mempunyai sifat menarik dan berkarakter yang biasanya cenderung bersifat komedi.&lt;br /&gt;Maka setelah kesuksesan film nyata Mr Bean yang diperankan dan sekaligus diproduseri  oleh Rowan Atkinson, Perusahaan Tiger Aspect mengeluarkan Film Mr. Bean dalam bentuk animasi. Mr. Bean sebagai tokoh sekaligus bagian dari masyarakat Inggris seakan memberi kritikan tersembunyi terhadap golongan pemerintah dan bangsawan Inggris yang notabene identik dengan aristokrasi, pembatasan-pembatasan tata karma, Feodalis, dan symbol-simbol monarki yang dibawanya. Sosok Mr. Bean sangat jelas diungkapkan bertolak belakang dengan tradisi kebangsawanan Inggris tersebut. Oleh Mr. Bean segala aturan ini diputarbalikan dengan sentuhan komedi melalui ekspresi wajah dan tingkah lakunya.&lt;br /&gt;Keunikan inilah yang mendorong Triarani Susy Utami, mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi UGM untuk mengambil penelitian ini dalam skripsinya yang berjudul “Mr. Bean dan Representasi Perilaku Masyarakat Inggris” . Dalam skripsinya tersebut, ia mengungkapkan bahwa sebuah film itu diciptakan untuk mampu menembus batas-batas kelas dan mencapai banyak lapisan sosial, film memiliki kemampuan untuk mempengaruji masyarakat berdasar pengaruh yang dibawanya. Namun pada realitas masyarakat saat ini tidak sesederhana itu, jika film hanya mencerminkan kenyataan dalam masyarakat dimana film itu dibuat, maka film tidak akan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat. Dalam film kita dipengaruhi untuk mempercayai apa yang dihadirkan dalam film.&lt;br /&gt;Sebagai obyek dalam penelitian ini adalah film animasi Mr. Bean yang pertama kali disiarkan di televise Inggris. Film yang tidak jauh berbeda dengan versi senyatanya ini menggambarkan kehidupan sehari-hari Mr. Bean yang diwarnai humor, tingkah laku aneh, jorok, menentang tata karma, dan seenaknya sendiri. Film ini telah dibuat 25 episode yang berdurasi 26 menit ( 13 menit / seri, sehingga ada 50 seri )selain  telah diputar di televise Inggris juga telah ditayangkan di stasiun televise di Indonesia, beredar pula dalam bentuk DVD.&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini Triarani menggunakan pendekatan semiotic yaitu kajian mengenai suatu tanda yang terus berkembang di masyarakat. Pendekatan ini melihat objek penelitian sebagai media komunikasi yang didalamnya berjalan sebuah produksi serta pertukaran makna oleh objek penelitian sebagai sebuah teks sekaligus hasil dari kebudayaan yang terus berkembang.&lt;br /&gt;Metode analisis wawancara dengan analisis semiotic juga digunakan dalam penelitian ini. Semiotik adalah sebuah pembelajaran sistematis  tentang tanda. Mengingat objek penelitian merupakan suatu teks yang terdiri dari berbagai macam symbol yang tergabung dalam suaru system maka metode ini digunakan untuk menelaah tanda-tanda tersebut dan mengetahui makna apa yang terkandung di dalamnya. Dalam penelitian ini digunakan dua teknik semiotic, yaitu teknik analisis semiotic menurut Saussure dan Teknik analisis semiotic menurut Bartness agar dapat saling melengkapi. Pada analisis semiotic Saussure mengungkapkan bahwa sebuah tanda terdiri dari petanda dan penanda, petanda lebih bersifat material, fisik sedangkan penanda bersifat mental yang lebih luas cakupannya. Berbeda pada teknik analisis menurut Bartnes, pemahamannya dengan melihat hubungan antara latar belakang cultural pembaca yang dibagi dua yaitu konotasi yaitu pemapanan data berupa tanda-tanda perfilman dan konotasi yang merupakan hasil dari analisis data.&lt;br /&gt;Jenis penelitian ini tergolong jenis penelitian deskriptif karena data dan hasil penelitian diungkapkan dalam bentuk gambaran umum.&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian dan analisis datanya, diperoleh beberapa temuan mengenai kisah cerita dan hal-hal yang dinilai menyimpang dengan kewajaran. Dalam film ini Mr. Bean digambarkan hidup disebuah rumah kost bersama seorang pemilik kost yang galak dan menyebalkan beserta seekor kucingnya yang menyebalkan pula. Dari keadaan tersebut maka tercipta sejumlah konflik mulai pada masalah tata karma, bersih-bersih rumah, hingga kegiatan berbelanja, namun dengan semua itu Mr. Bean menjalani semuanya dengan apa adanya bersama boneka teddy mungilnya. Suatu contoh pada  satu adegan film ketika makan di ruang makan cirri khas bangsawan, kondisi ruang makan itu tidak terlalu terawatt baik karena melambangkan si nyonya bangsawan yang telah ditinggal mati suaminya sibuk dengan hartanya, bagi kaum bangsawan harta adalah segalanya. Dengan bentuk meja panjang dengan segala aturan yang mengatur berbagai macam hal mulai dari cara memegang garpu dan pisau, cara mengunyah, menggunakan lap hingga sikap tubuh saat makan, pada keadaan seperti itu Mr. Bean merasa kesulitan, maka ia mengambil roti sekenanya dan memotongnya dengan gerakan kasar sehingga roti yang keras itu jatuh terloncat, ini melambangkan bahwa di kehidupan bangsawan masih ada makanan yang keras. Di pojok ruangan terdapat seekor kucing milik si nyonya yang kurus dan hanya diberi sisa tulang ikan, hal ini melambangkan kaum bangsawan yang pelit.&lt;br /&gt;Dari hasil analisis contoh temuan kita dapat mengetahui tata krama apa saja yang berlaku pada kehidupan institusi masyarakat Inggris khususnya pada bangsawan dan kalangan elit di Inggris. Aturan ini menjadi suatu penentu perilaku dan kebiasaan bagi golongan tersebut. Mr. Bean, dalam film ini ditembatkan sebagai tokoh yang terjebak dalam perilaku tersebut. Inin berarti bahwa Mr. Bean seharusnya mengikuti segala aturan dalam institusi tersebut, tetapi Mr. Bean sebagai tokoh yang eksentrik berhasil mengatasi semua kondisi tersebut dengan caranya sendiri dan apa adanya. Mr. Bean menjadi tokoh pendobrak bagi segala aturan tersebut meski ia tidak melakukannya dengan sengaja. Dengan sentuhan humor, dan ejekan yang dihadirkan tentu dapat memberi hiburan yang mampu membuat orang tertawa.&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini berhasil diungkap beberapa bentuk sindiran atas  kekakuan tata karma, kemunafikan golongan bangsawan yang berlindung di bawah aristokrasi, juga merupakan symbol bahwa dalam hidup itu harus berjuang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-142513683471156055?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/142513683471156055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/fenomena-animasi-mr-bean-sebuah-kritik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/142513683471156055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/142513683471156055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/09/fenomena-animasi-mr-bean-sebuah-kritik.html' title='Fenomena Animasi Mr. Bean: Sebuah Kritik Bagi Bangsawan Inggris'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-6159890141200027842</id><published>2007-05-27T11:47:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:41:49.294+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'>Kegilaan di Indonesia</title><content type='html'>Gila… ini benar-benar sudah gila…&lt;br /&gt;Aku bisa gila hidup di Indonesia… karena memang orang-orangnya sudah gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah dimana orang-orang tak bisa menghargai waktu, dimana orang yang molor dianggap normal dan orang yang on time dianggap gak normal… bahkan orang Indonesia bangga dengan jargon “Kalao orang lain molor, buat apa kita sendiri ontime?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah dimana jalan memutar dilanggar di perempatan dengan menerabasnya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah dimana traffic light dilanggar seenaknya ketika gak ada polisi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika membuat SIM tak boleh pakai calo… tapi ternyata banyak calo di kantor polisi dibiarkan saja bahkan sudah ada kong kalikong dengan polisinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika orang bersalah dengan nyalip dari kiri dan membuat kendaraan lain mengalami kecelakaan lalu malah ditinggal begitu saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika polisi reserse anti-narkoba terjerat kasus narkoba dengan barang sitaannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia tapi justru menindas yang lain…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika ada permainan politik dalam pemilihan rektor UGM yang notabene lembaga pendidikan… (sumber: Prof. DR TNE, P.hd : salah satu professor di jurusanku yang jadi anggota MWA, banyak mroyek, mantan konsultan world Bank, dan tidak pernah senang dengan penghargaan Indonesia terhadap professor: hanya digaji 2, 7 jt)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika beberapa departemen negara mengalirkan dana non-budgeter pada semua calon presiden tanpa proposal dan laporan yang jelas… dan sekarang hal itu menjadi ajang permainan ping-pong…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika korupsi di kalangan birokrat rapih dan membentuk sebuah lingkaran setan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika ada salah satu forum keagamaan yang notabene mengajarkan kedamaian tapi implementasinya identik dengan tindakan anarkhis dan sama sekali tidak intelektual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika seorang budayawan tak bisa memahami betapa Indonesia sangat multikultur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika PNS yang seharusnya kerja efektif, aktif dan professional selama 35 jam seminggu tapi nyatanya banyak yang menjadi setengah pengangguran…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika LSM menjadi sinterklas pemalas bagi orang miskin dan menjadi pengemis pada MNC’S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan di Indonesia adalah ketika sekolah birokrat menerapkan pendidikan kekerasan seperti preman pasar dan itu ditutupi selama puluhan tahun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aaaaaargh………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bdw... aku masih bangga akan satu hal dari negeri ini&lt;br /&gt;yaa modal sosialnya yang masih gila&lt;br /&gt;pada suatu tayangan Larry King waktu bahas ttg badai Katrina, mereka membandingkan penanganan korban di sana dengan  bencana Tsunami AcEH&lt;br /&gt;"Sepertinya kita perlu belajar dari AceH" begitu sang pembawa acara memulai &lt;br /&gt;"Jangankan warga sipil, tentara aja ga mau ngangkatin korban, korban meninggal diperlakukan secara tidak manusiawi,. Bandingkan dengan Aceh, pasca tsunami langsung banyak warga Indonesia dari pelbagai pulau yang ber-voulenteery membantu korban di Aceh termasuk korban meninggal, mereka ga jijik ngangkat saudaranya. Saya rasa orang2 di Indonesia masih punya modal sosial yang tinggi. Dan kita perlu bejar ladari mereka. Serta, tentang bantuan pemerintah AS yang diberikan tuk korban tsunami,itu hanya sekadar kepentingan AS belaka.bukan bantuan secara tulus (ya iyalah... punya kepentingan adalah naluri alami manusia) Bandingkan dengan bantuan yang diberikan saat badai Katrina menerjang. Tak ada reaksi apapun dari pemerintah AS" begitu sang pemilik talk show ini mengakhiri pewacanaannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-6159890141200027842?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/6159890141200027842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/05/kegilaan-di-indonesia.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/6159890141200027842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/6159890141200027842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/05/kegilaan-di-indonesia.html' title='Kegilaan di Indonesia'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-116969446224389448</id><published>2007-01-25T10:07:00.002+07:00</published><updated>2008-12-15T11:40:09.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacananya Tiwi'/><title type='text'>Agama (Islam) : Sebuah Komoditikah?</title><content type='html'>Hegemoni akan moralitas dan suasana religi yang menjadi tuntutan pasar merupakan alat produksi. Penguasaan dan kepemilikan alat produksi yang berbeda akan memunculkan kelas sosial dan kesadaran-kesadaran semu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Apa arti agama bagi Anda? Apakah Anda termasuk orang yang mengartikan agama sebagai pedoman hidup? Atau mungkin Anda punya definisi yang berbeda tentang agama. Kita bukan akan bicara panjang lebar tentang definisi relatif agama bagi tiap orang. Hanya akan menelaah politik media sejenak untuk melihat sebuah fenomena yang kita hadapi bersama terkait pengartian agama secara individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euforia Konsumerisme Agama.&lt;br /&gt;    Pada momentum tertentu seperti bulan puasa, kita disuguhi tayangan ramadhan oleh media massa baik cetak maupun elektronik. Program televisi bernuansa Islam mulai dari iklan, sinetron religius, hingga grup musik yang membawakan lagu rohani dapat kita temui hampir tiap hari. Mumpung orang-orang sedang dalam suasana lebih religius dari biasanya, para produser program-program tadi menawarkan produk mereka. Begitu pula dengan acara pencari bakat da’i,  program ini muncul dengan sistem peluang acak sms layaknya di meja judi yang pada akhirnya menguntungkan bandarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu masih banyak contoh lain yang dapat kita ambil mengenai konsumerisme agama ini. Contoh pertama yang dapat dicermati yakni pada penayangan sinetron-sinetron yang sepintas islami. Penayangan sinetron islami tersebut perlu dipertanyakan keislamannya. Ini karena pilihan cerita yang ditampilkan kurang bijaksana sehingga dapat menimbulkan persepsi negatif masyarakat terhadap Islam. Misalnya, cerita tentang siksa kubur yang digambarkan dengan vulgar dan mengesankan bahwa Islam begitu menakutkan. Sekilas, program religi yang disiarkan di media tampaknya bersifat positif. Tetapi, jika kita telusuri lebih jauh, ada dampak negatifnya yang bersifat laten. Bila acara tersebut ditonton oleh anak-anak, bagaimana kesan mereka terhadap Islam nantinya? Seringkali dalam sinetron, penggambaran Islam masih kurang sesuai dengan kondisi Islam itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kedua, yakni maraknya budaya masa anak muda Islam seperti produknya yang berupa majalah, mode berpakaian, dan gaya hidup, ini semua dikonstryuksi sebagai yang 'religius', padahal budaya masa religius tersebut sama saja dengan yang non-religius. Ini tentu memacu sifat konsumerisme di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai konsumerisme, Stuart Ewen mengemukakan analisis historisnya tentang budaya konsumen tahun 1920-an. Ia mengungkapkan bahwa perubahan ekonomi kebutuhan (need) menjadi ekonomi keinginan (want) di dunia modern, membutuhkan para ahli dalam "logika konsumerisme". Bahasa iklan (advertising language) diyakini telah meningkatkan ekonomi konsumen ke tahap status sebagai "filosofi kehidupan" yang menyatakan kepada masyarakat, bukan saja mengenai apa yang harus mereka beli, melainkan juga apa yang harus mereka impikan. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah atau Komersialisasi ?&lt;br /&gt;Dalam hal penayangan iklan atau siaran religi, kita perlu mencermati tujuan produksinya. Dakwah atau komersialisasi? Jika memang menjurus pada komersialisasi, ini tentu mengingatkan kita pada pendapat sosiolog media, John Macmanus, bahwasanya pengelola media menerapkan budaya idiot. Budaya ini ditandai dengan empat ciri. Pertama, menempatkan kuantitas konsumen sebagai benda yang dijual pada pengiklan berdasarkan rating acak. Kedua, menyajikan menu siaran yang selalu berupaya mengajak konsumen melupakan berbagai persoalan dan beban sosial nyata yang dihadapi dengan cara tertawa, dan bersenang-senang. Ketiga, mengajak konsumen untuk konsumtif membeli produk musiman ramadhan sebagai simbol gaya hidup religius, bukan mengajak selektif mengatasi masalah keuangan dan memperkuat iman diri dalam berpuasa. Keempat, memastikan semua kebijakan dagang yang diambil secara penuh memberi keuntungan finansial dan mengabaikan hal edukatif bagi konsumen. 2&lt;br /&gt;Masyarakat yang awalnya terbawa suasana religi menjadi terbius dengan munculnya semacam identitas dan trend gaya hidup modern yang dimunculkan atas nama agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Terhadap fenomena komersialisasi agama, hendaknya kita bersikap bijaksana. Dengan meningkatkan kualifikasi tontonan, acara televisi yang menyelewengkan citra Islam dapat kita hindari. Ini membuat kita kembali pada pemaknaan agama secara individual. Jika kita menganggap agama sebagai tuntunan dalam hidup, relakah jika ia dikomersilkan? Ikhlaskah jika agama hanya dimanfaatkan untuk mendulang keuntungan bagi segelintir orang? Ini semua kembali pada sifat manusia sebagai makhluk homo mechanicus, yakni makhluk yang memiliki kemampuan kognitif untuk aktif untuk menata, menyaring dan mengolah stimulan yang diterimanya, termasuk pengaruh iklan dan media.4 Walaupun masing-masing kita memaknai agama secara berbeda, tentunya bagi yang peduli, tak ingin agama menjadi sekedar komoditi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki :&lt;br /&gt;1 Untuk lebih jauh lihat Stuart Ewen, Captains of Consciousness: Advertising and the Social Roots of the Consumer Culture (New York: McGraw-Hill, 1976).&lt;br /&gt;2 Harian Kedaulatan Rakyat, 31 Oktober 2006.&lt;br /&gt;3 Kumpulan Cerpen Terpilih BPPM-UGM Balairung 2004 : Risalah Kekerasan dalam cerpen yang berjudul Kisah Dari Fransiska Tentang Arina.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-116969446224389448?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/116969446224389448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/01/agama-islam-sebuah-komoditikah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116969446224389448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116969446224389448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2007/01/agama-islam-sebuah-komoditikah.html' title='Agama (Islam) : Sebuah Komoditikah?'/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-116264667635790881</id><published>2006-11-04T20:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:40:09.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacananya Tiwi'/><title type='text'></title><content type='html'>Media Porno : Euforia Tubuh dalam Kapitalisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum artikel ini dibaca saya menyampaikan sebuah apologi dari saya bagi semua teman-teman yang membaca artikel yang berisi gigauanku di waktu tidur, karena lagi-lagi saya mengusung tentang kapitalisme.  Mungkin karena saat ini manusia bukan lagi makhluk yang mengendalikan uang melainkan manusia sudah benar-benar dikuasai atau dibodohi oleh uang dan modal. Namun di dalam sistem kapitalisme sendiri tidak sepenuhnya buruk, sosialisme yang dijunjung tinggi oleh Karl Marx sebagai penentangnya sendiripun tidak selamanya membela kaum buruh. Dapat diambil sebagai contoh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) mereka sebenarnya tak ubahnya seperti kapitalis. Hanya memanfaatkan kaum termarginal untuk pengembangan akademis dan kekayaan mereka sendiri, sementara tidak memiliki dan menciptakan nilai-nilai sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paragraf ini saya akan mengeluarkan seluruh mimpi-mimpi saya semalam mengenai “Media Porno : Euforia Tubuh dan Kelamin dalam Kapitalisme”. Mengapa saya singgung media porno sebagai euforia (kesenangan yang berlebihan-red), karena saat ini hal ini sudah banyak terjadi. Pornografi atau bentuk pelegalan tubuh lainnya tentu memiliki banyak alasan lain yang sering digunakan masyarakat kapitalis untuk menopang aturan moral. Alasan tersebut antara lain : Tubuh dan seks diagung-agungkan sebagai bentuk sakral pengabdian kepada Tuhan (The Da Vinci Code, 2006), Tubuh dianggap sebagai seni dan kebudayaan, atau Tubuh sebagai kebebasan berekspresi. Menurut pendapat saya sendiri, alasan yang pertama adalah pemantik utama bagi turunan berikutnya. Para pelukis yang notabene dibesarkan dengan sebuah etika agama tertentu di Eropa yang mengagung-angungkan seks menjadikannya sebagai bentuk seni dan kebebasan berekspresi. Sehingga Dan Brown dalam bukunya yang berjudul The Da Vinci Code, seolah mengkritik etika ini dan teori keTuhanan yang ada di dalamnya, ujung-ujungnya Buku ini menjadi puncak kehebohan gereja-gereja Eropa tahun ini. Mungkin itu sedikit sejarah mengapa Pornografi diagungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mitologi Semiotik yang menjadi titik-berangkat paham- paham keagamaan Abrahamik, Tuhan dengan keagungannya adalah yang tersembunyi dengan pakaian kemegahan. Maka, bukanlah sesuatu yang mengejutkan bila tubuh dengan pakaian yang menutupinya dalam paham keagamaan Abrahamik mencerminkan interioritas, dunia batin, dan ketersembunyian. Cara pandang inilah, saya kira, mewarnai pandangan dunia kaum Muslimin mengenai tubuh selama berabad-abad, dan paham keagamaan Abrahamik umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan selanjutnya mengenai pemujaan tubuh,  seiring dengan memuncaknya obsesi masyarakat akan nafsunya, hal ini dimanfaatkan oleh para kapitalis untuk mengeruk modal sebesar-besarnya dengan mendirikan media-media baik personal maupun franchise. Objek eksploitasinya memang bukan buruh atau petani miskin, melainkan WANITA. Sebenarnya wanita yang dieksploitasi bisa ditempatkan sebagai buruh suruhan atao pussy cat. Sementara bagi mereka yang menetang penegakan aturan moral antikapitalis ini tentunya orang-orang yang berkepentingan dengan libido dan kapitalis. Mereka menetangnya dengan dalih seni dan kebebasan. Dan celakanya lagi banyak rakyat Indonesia yang tak bisa menilainya sebagai seni, tak mengenyam pendidikan seni, kebanyakan mereka memandangnya sebagai sebuah nafsu. Untuk aturan semacam ini mereka perlu kebebasan lalu untuk aturan pergerakan dan kritik pemerintah justru tak kunjung bebas, jika merugikan pemerintah, gampang saja, tinggal dibreidel. Sebenarnya kebebasan milik siapa ? Apa jadinya jika kebebasan benar-benar berjalan ?&lt;br /&gt;Mengenai libido dan wanita, kembali pada  sejarah tubuh wanita di dalam ekonomi politik kapitalisme adalah sejarah pemenjaraannya sebagai tanda atau fragmen-fragmen tanda. Kapitalisme membebaskan tubuh  wanita dari tanda-tanda dan identitas tradisionalnya (tabu, etiket, adat, moral, spritual) dan memenjarakannya di dalam ‘hutan rimba tanda-tanda’ yang diciptakannya sendiri sebagai bagian dari ekonomi politik kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara para kapitalis memasang apologi bahwasanya manusia memang bersifat homo mechanicus yang mempunyai kemampuan kognitif untuk menata, menyaring stimulan yang diterimanya, jadi apapun pengaruh iklan kecantikan, wanita pun harus mampu menyaring, bukan malah menggilai produk, jadi jangan salahkan kapitalis.  Tapi bukankah manusia juga homo valens? Yakni digerakan oleh hasrat ingin kaya, terkenal, tampir menarik dan berkuasa? Jadi siapa yang harus disalahkan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-116264667635790881?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/116264667635790881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2006/11/media-porno-euforia-tubuh-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116264667635790881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116264667635790881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2006/11/media-porno-euforia-tubuh-dalam.html' title=''/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-116264371669776948</id><published>2006-11-04T19:32:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:41:49.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari harinya Tiwi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 style="margin: 7.5pt 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);font-family:Georgia;font-size:13;"  &gt;KETIDAKPROFESIONALAN PETUGAS DAN SISTEM HEREGISTRASI UGM 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pelayanan heregistrasi mahasiwa UGM semester gasal tahun ajaran 2006/ 2007, ternyata masih membuahkan banyak keluhan dari mahasiswa UGM sendiri. Keluhan itu terutama berasal dari mahasiswa yang mendapatkan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;bantuan keringanan. Ketidakrofesionalan birokrasi masih saja menjadi kebiasaan instansi yang seharusnya menjunjung profesionalisme ini. Ketidakprofesionalan berawal dari tempat pembayaran bagi penerima bantuan keringanan yang hanya diperbolehkan disatu tempat yakni tempat C. Heregistrasi seharusnya bisa dilakukan pada 15 tempat. Jadi penerima beasiswa yang akan membayar di tempat A harus dilempar ke&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tempat C tanpa pemberitahuan sebelumnya. Padahal mahasiswa tersebut sudah cukup lama antri di tempat A. Tidak seperti semester genap sebelumnya, bagi semua mahasiswa boleh membayar di tempat-tempat yang disediakan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketidakprofesionalan selanjutnya berasal dari proses pembayaran yang diterapkan. Proses pembayaran yang seharusnya lebih efektif dilakukan dengan satu kali antri saja malah dilakukan dua kali proses. Proses pembayaran tahap pertama mewajibkan mahasiswa untuk antri mengumpulkan kartu tanda mahasiswa atau identitas lainnya. Kemudian dilakukan pengecekan kembali terhadap bantuan yang diperoleh. Proses ini memakan waktu cukup lama. Selanjutnya proses pembayaran tahap kedua dilaksanakan untuk memanggil nama mahasiswa yang telah mengumpulkan identitas pada proses sebelumnya dan transaksi baru bisa dilakukan. Proses tahap dua lagi-lagi memakan waktu berjam-jam. Ini tentunya tidak efisien apalagi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pemanggilan nama mahasiswa pada proses kedua dilaksanakan secara tidak urut. Seharusnya mahasiswa yang mengantri lebih awal di antrian tahap pertama bisa melakukan transaksi lebih awal pula pada proses&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kedua. Tetapi kenyataannya justru lain, mahasiswa yang diutamakan justru mahasiswa yang datang lebih akhir di antrian tahap pertama. Proses pembayaran ini akan lebih efektif jika dilakukan dengan satu kali antri saja. Jadi jelas siapa yang datang awal langsung antri, membawa identitas sendiri dan melaksanakan transaksi. Petugas tidak perlu kerepotan memanggil satu persatu mahasiswa, selain itu mahasiswa juga tak banyak membuang waktu. Dengan proses pembayaran tahap dua yang sangat tidak adil tadi berakibat bahwa mahasiswa yang mengantri di tahap pertama sejak jam sembilan pagi justru belum transaksi. Padahal mahasiswa yang antri tahap pertama pada jam tiga sore sudah selesai transaksi. Hingga saat ini saya belum bisa menangkap maksud birokrasi yang berbelit-belit ini. Profesionalisme macam apa ini ?.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Proses heregistrasi ini berlangsung sejak pukul delapan pagi hingga pukul tujuh malam. Itupun belum semua mahasiswa yang telah mengantri pada proses pertama melaksanakan transaksi pembayaran. Termasuk saya sendiri yang belum dipanggil padahal saya telah mengalami antrian tahap pertama sejak pukul sepuluh pagi hingga jam tujuh malam. Ketika dikonfirmasi lagi ternyata kartu tanda mahasiswa yang telah saya kumpulkan pada antrian tahap pertama hilang. Hilangnya kartu tanda mahasiswa ini bukan saya saja yang mengalami tetapi juga beberapa rekan mahasiswa yang lain. Namun mahasiswa yang belum bertransaksi dipersilahkan untuk kembali esok harinya karena loket pembayaran sudah tutup. “Akan ada loket khusus untuk melayani mahasiswa yang belum transaksi. Memang harusnya bank sudah tutup sejak jam tiga sore tadi, tapi ini sudah jam berapa ? Para kasir tentu sudah kelelahan mbak! dari tadi belum istirahat! “, ujar seorang petugas. Alasan ini terlalu naif untuk diuangkapkan. Siapa yang peduli kasir merasa lelah ? Toh kasir memang dibayar untuk semua kelelahan mereka. Pihak bank sendiri sebagai mesin kapitalis dirasa terlalu naif untuk memikirkan karyawannya dari sisi humanis, padahal mereka biasanya mengeksploitasi pegawai seperti layaknya mesin cetak kapital. Disamping itu mahasiswa juga tak kalah lelahnya karena menunggu dengan pembagian antrian yang tidak adil pula. Akhirnya malah belum transaksi. Apalagi dengan bertambahnya masalah yakni hilangnya beberapa kartu identitas mahasiswa. Sungguh ironis ketika terdapat instansi yang seharusnya mengusung kebaikan pelayanan birokrasi kemahasiswaan, satu pertanyaan yang justru muncul: kebaikan birokrasi macam apa ini ?.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-116264371669776948?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/116264371669776948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2006/11/ketidakprofesionalan-petugas-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116264371669776948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116264371669776948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2006/11/ketidakprofesionalan-petugas-dan.html' title=''/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36877226.post-116264324750082446</id><published>2006-11-04T19:18:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T11:40:09.896+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacananya Tiwi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ospek : Hegemoni Premanisme dalam Tubuh Intelektual Mahasiswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak dapat dipungkiri, budaya kekerasan telah mendarah daging pada jiwa masyarakat Indonesia, sejak zaman kolonial, dengan munculnya sistem kerja Rodi, Romusha, hingga zaman pemerintahan orde baru dan reformasi seperti saat ini meski intensitasnya makin berkurang. Mungkin karena kekerasan yang selalu ditanamkan sehingga bukan lagi isapan jempol ketika elite politik melakukan kekerasan untuk menumbangkan lawannya. Kekerasan identik dengan dua hal yakni keberanian dan kekuasaaan. Sehingga jika ditinjau kembali masa orientasi kampus, yang telah menghalalkan terjadinya kekerasan fisik berujung pada senioritas. Dari tradisi-tradisi kekerasan semacam inilah kemudian berlaku dalil ahli politik Inggris, Lord Acton, kekuasaan cenderung koruptif. Jatuhlah korban jiwa tewas, luka, atau trauma berkepanjangan akibatnya proses ini akan terus terulang. Mahasiswa baru kelak menjadi mahasiswa senior dapat "membalas dendam" perlakuan senior mereka terhadap mahasiswa baru pada awal tahun kuliah berikutnya. Seperti halnya dikemukakan oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Max Weber yang menyatakan adanya hubungan dekat antara kekuasaan dan kekerasan. Kekerasan dipakai sebagai cara manusia melaksanakan dan memperbesar kekuasaan. Dalam hal ini senioritas yang terjadi pada ritual ospek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika kita kembali pada esensi utama mahasiswa sebagai kaum intelektual, saat ini yang diperlukan adalah bagaimana semua pihak berpikir untuk mengubah pola orientasi dari pola kekerasan fisik ke pola yang lebih baik, seperti peningkatan sumber daya mahasiswanya. Memang secara global, seperti yang dikemukakan Mahi. M. Hikmat, dosen IAIN Bandung, dalam tulisannya mengenai kekerasan, bahwa pembinaan militerisasi yang demikian dapat menghasilkan jutaan manusia yang tangguh, dan berhasil. Perlu keberanian untuk membangun mental. Namun saat ini bukan masalah berani atau tidak berani, tapi secepatnya budaya kekerasan harus dihentikan dan paling tidak diminimalisir, jika kegiatan yang berdaur ulang ini terus terjadi akan semakin banyak berjatuhan korban dan lagi-lagi esensi kekerasan itu sendiri masih dipertanyakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bentrokan yang terjadi antara Fakultas ISIPOL dan Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 2003 silam yang menyebabkan banyaknya korban berjatuhan. Begitu pula yang terjadi dengan meninggalnya praja STPDN dan STTAD bulan lalu karena pembantaian yang dilakukan seniornya. Dari hal-hal tersebut perlu ditinjau kembali apakah ospek masih mempunyai manfaat terhadap masa depan akademis mahasiswa. Perlu ditekankan kembali bahwa ospek sebagai wahana pengenalan mahasiswa terhadap dunia idealisme dan intelektualitas. Maka ospek sebaiknya tidak mengarahkan mahasiswa sebagai bibit-bibit unggul dari pengerasan dan kekerasan. Konsistensi mahasiswa perlu dipertegas dalam perjuangan penegakan nilai-nilai demokrasi, mempertajam pemahaman khususnya bagi mahasiswa dan umumnya masyarakat terhadap hakikat kemanusiaan, demokrasi, dan nilai-nilai humanisme sebagai fundamen perjuangan reformasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mahasiswa adalah kaum yang dipersiapkan untuk bernalar sekaligus calon pemimpin bangsa yang sangat diharapkan menjadi pengawal kehidupan berbangsa ke depan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Namun jika hal ini telah mendarah daging dalam tubuh intelektual mahsiswa, marilah kita melihat kembali pada kekerasan yang dilakukan elite politik di era sebelumnya, apa jadinya jika calon pembangun bangsa ini dididik dengan kekerasan ? masihkah perlu ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mengapa aspek pemikiran kurang dieksplorasi dalam membangun dinamika kampus? Padahal penguatan aspek pemikiran dalam dunia kampus menjadi ajang kreativitas berpikir secara kritis dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa, mengapa justru asyik bemain dengan kekerasan ?.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meski dari tahun ke tahun ospek mengalami berbagai dinamika, ospek tak pernah disinggung sama sekali dalam peraturan dan perundangan kependidikan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi tak satu kali pun memuat kata ospek mahasiswa baru. Artinya, ospek memang tidak menjadi bagian strategis penting proses pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun ospek perlu dipertahankan dengan beberapa syarat. Pertama, lebih dikembangkan semangat memperkenalkan dunia kampus berikut penyesuaian masing-masing. Kedua, jauhkan ospek sebagai ajang ekspresi impulsi-impulsi kekerasan. Ketiga, agar syarat pertama dan kedua terselenggara, mestilah rektor berikut perangkat di bawahnya bertanggung jawab dan mengoordinasi langsung ospek di kampus masing-masing. Sudah saatnya dikembangkan cara berpikir yang mebih edikatif mengenai ospek. (tw)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36877226-116264324750082446?l=katakutu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://katakutu.blogspot.com/feeds/116264324750082446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2006/11/ospek-hegemoni-premanisme-dalam-tubuh.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116264324750082446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36877226/posts/default/116264324750082446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://katakutu.blogspot.com/2006/11/ospek-hegemoni-premanisme-dalam-tubuh.html' title=''/><author><name>Pratiwi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10047494809830299115</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_P5_oojOLLSk/Sm6H4vNqKsI/AAAAAAAAABU/ewRWxhsV36U/S220/pandangan+jurnalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
